
Semua berjalan seperti semestinya, Riko yang sudah kembali aktif dan sibuk di kantornya setelah ditinggal beberapa hari demi rindunya dengan sang kekasih.
Felik pun sampai mencak-mencak karena Riko mundur satu hari dari jadwal dia pulang, alhasil Felik mengubah jadwal Riko lagi dan itu membuatnya kesal.
Selama Riko pergi Felik bekerja mengurus semua pekerjaan Riko, meskipun ada sekertaris tapi Felik lah yang lebih dominan untuk mengambil tugas dan tanggung jawab pekerjaan Riko.
"Lu hari ini jadwal padat, gue harap ku gak kabur." Felik menyerahkan tab yang berisikan agenda pekerjaan Riko hari ini.
"Lu takut banget kalo gue kabur, kenapa takut gue tinggalin?" Ucap Riko nyeleneh.
"Dih, najis tralala trilili gue, siapa lu.." Felik membuang muka, muak mendengar ucapan bosnya sekaligus sahabatnya itu.
"Sok-sok an lu Lik, lubang bekas orang banyak aja lu embat, pake bilang najiiss.."
"Ck. Lu jadi gesrek ples ngeselin semenjak pulang healing Rik." Felik menatap Riko kesal.
Sepertinya sahabatnya itu geger otak, sejak tadi selalu bicara ngawur.
"Sialan lu.." Riko melempar bulpoin nya pada Felik.
"Kita ada pertemuan dengan klien dari perusahaan xx sudah seminggu lalu mereka mengajak bertemu, tapi ya karena mereka ingin bertemu pemilik perusahaan langsung jadi gue bisa apa." Ucap Felik sambil berdiri dan merapikan jasnya.
"Hah..baru masuk udah segudang pekerjaan yang gue makan...Mending makan Ayank." Riko menghela napas dan ikut berdiri.
"Otak lu, omes melulu, apa karena udah lama uler lu gak nyemburin bisa." Ledek Felik yang memang tahu kebiasaan Riko akhir-akhir ini.
__ADS_1
"Hem, dia udah ketemu pawangnya, yah meskipun hanya seperti ayam di geprek setidaknya dia menurut."
"Parah lu."
Felik hanya geleng kepala, ternyata Riko sang Casanova bisa tahan hanya dengan geprek tanpa teh celup. Emezing
.
.
"Ayah, Rere mau melamar pekerjaan." Rere duduk di kursi samping, dekat dengan tanaman bunga sang ayah.
"Kenapa harus melamar, kenapa tidak membuka toko bunga lagi." Ucap Hilman yang bicara tanpa melihat putrinya, dirinya sibuk merawat tanaman bunga hiasnya.
"Apa boleh Rere melakukan itu." Katanya lagi untuk menyakinkan.
"Ibu juga setuju, kalau kamu buka toko sendiri, kamu tidak perlu di atur oleh orang lain, dan kamu bisa bebas dari tekanan bos kamu." Fitri datang dengan membawa nampan berisikan teh dan cemilan.
"Nah itu lebih baik, meskipun punya usaha kecil tapi milik kita sendiri, itu lebih memuaskan dan tidak terikat dengan orang lain." Hilman melepas sarung tangannya, mencuci tangan dan mendekati kedua wanita yang berbeda generasi itu.
"Baik lah, Rere akan survei cari tempat dulu, kalau bisa tidak jauh dari rumah." Rere tersenyum lebar.
"Ya, ayah dan ibu pasti dukung kamu." Kedua patuh baya itu tersenyum.
"Ngomong-ngomong apa kamu dekat dengan nak Bram." Tanya Hilman setelah meminum teh buatan sang istri.
__ADS_1
"Tidak." Rere menggeleng. "Kami hanya bertemu ketika aku mengantar pesanan bunga ke kantornya, dan ternyata bunga itu untuk anaknya Cika. dari sana kami hanya saling kenal dan tidak dekat." Ucap Rere sedikit mejelaskan karena dirinya masih ingat jika perkataan ayah nya waktu itu akan menjadikannya lagi dengan pria lain.
Hilman hanya mangut-mangut. "Lalu hubungan kamu dengan Riko, sejak kapan?" Hilman menatap putrinya.
"Em.."
"Ayah tahu kalian masih menyimpan rasa yang sama."
Rere menelan ludahnya kasar. "Apa ayah masih marah sama dia." Tanya Rere takut-takut.
Hilman menghela napas dalam, dirinya mengingat masa dimana putrinya pulang dengan keadaan memprihatinkan karena di putuskan sepihak oleh Riko padahal mereka akan mengadakan lamaran.
Jika di ingat tentu saja hatinya masih sakit, melihat putri satu-satunya nya disakiti oleh pria yang di cintai nya untuk yang kedua kali. Tapi Hilman melihat putrinya saat ini baik-baik saja ketika di talak oleh suaminya yaitu Zidan, dan Hilman bisa melihat jika putrinya tidak melibatkan perasaan dalam pernikahan ini melainkan karena rasa hormat kepada kedua orang tuanya.
"Apa kamu mencintai pria itu." Tanya Hilman tanpa menjawab pertanyaan Rere.
Rere hanya mengangguk. "Tapi jika ayah memiliki pria lain yang menurut ayah lebih baik, Rere akan menerimanya." Rere berbesar hati berkata demikian.
Hilman merasa terenyuh mendegar ucapan Rere.
"Apa kamu terpaksa menerima semua yang ayah lakukan untuk mu, apa kamu terpaksa melakukan itu hanya untuk membuat kami bahagia."
Rere menatap ayahnya yang juga menatapnya lekat. "Surga anak adalah orang tua, surga istri adalah suami, sebelum Rere menjadi istri orang, Rere hanya ingin berbakti kepada ayah dan ibu, jika Rere menikah Rere tidak bisa lagi melakukan itu karena tanggung jawab Rere sudah di ambil alih suami." Rere berkata dengan suara serak, matanya menatap sayu sang ayah dengan berkaca-kaca.
Dia hanya anak perempuan yang selalu di manja dan sayang oleh kedua orang tuanya, dia hidup tidak bergelimang harta, tapi kasih sayang kedua orang tuanya sudah membuatnya memiliki keluarga sempurna tidak harus hidup mewah, dirinya sudah bahagia, dan kebahagiaan orang tua melihat anaknya bahagia, begitupun sebaliknya.
__ADS_1
"Katakan pada pria itu, ayah tunggu kedatanganya ke rumah."