
Karena kesal semua kartu kreditnya di blokir, Harna mendatangi suaminya di kantor, dirinya yang merasa malu dengan para teman-teman nya, apalagi besok pasti dirinya akan di bully jika berkumpul dengan teman-teman arisanya.
"Siang nyonya." Sapa resepsionis di lobby kantor.
"Bapak ada?"
"Ada di ruangan nya nyonya, mari saya antar." Resepsionis itu mengantarkan Nyonya besar istri pemilik perusahaan.
"Terima kasih ya." Harna mendorong pintu ruangan suaminya, setelah resepsionis itu pergi.
"Pah, kenapa papa blokir semua kartu mama, mama malu Pah, karena tidak bisa membayar tas yang mama pengen apalagi di depan teman-temannya mama." Ucap Harna dengan nada tinggi, dirinya yang sudah kesal melampiaskan nya pada sang suami.
Harlan yang sedang duduk di kursi kebersamaannya sudah menduga akan seperti ini, karena kemarin dirinya menyuruh Felik untuk memblokir semua kartu yang dimiliki Harna.
Bukan tanpa alasan Harlan melakukan hal itu, karena semenjak tiga bulan lalu istrinya menggunakan kartu kredit hingga mencapai angka limit, dan Harlan tidak tahu untuk apa Harna menggunakan uang sebanyak itu, padahal sebelumnya Harna adalah istri yang bisa mengontrol keuangan.
"Kenapa? apa Mama tidak berfikir akhir-akhir ini mama menghamburkan banyak uang hanya untuk membeli barang yang tidak berguna itu, apa mama pikir cari uang itu gampang." Ucap Harlan dengan menatap istrinya tajam.
Kepalanya yang sempat pusing, kini tambah pusing mendengar ocehan Harna yang kartunya dia blokir. Dan itu belum cukup membuat istrinya sadar dan jera.
"Menghamburkan uang apa itu salah, lagian sudah tugas papa untuk memberikan uang padaku dan membuat aku bahagia, lagian papakan pemilik perusahaan terbesar, masa iya Mama tidak boleh berfoya-foya, malu dong Pah, sama temen-temen mama." Harna masih menyalahkan suaminya.
Harlan memijat pangkal hidungnya yang terasa berat.
"Mama seharusnya sadar, karena ego mama putra kita pergi, dan mama lebih mementingkan teman-teman mama itu yang belum tentu diri mama di anggap penting oleh mereka, dan semua teman itu tidak sama mereka pasti ada timbal balik dan ada maunya. Papa harap Mama tidak akan menyesal di kemudian hari, karena lebih memilih mementingkan ego mama ketimbang anak sendiri." Harlan pergi meninggalkan Harna di ruangannya, teriakan Harna sudah tidak Harlan pedulikan, dirinya sudah lelah mengatur istrinya yang sudah membuat anaknya pergi dan memilih hidup menjauh dari keluarga.
Harna mengikuti suaminya, dirinya tidak bisa terus disalahkan, karena sudah membuat putranya pergi.
"Pah, papa gak bisa salahin mama dong, papa gak bisa perlakukan mama seperti ini dan memblokir semua kartu Mama." Suara Harna yang marah, membuat beberapa karyawan di lantai itu menatap mereka dengan saling berbisik.
Harlan memejamkan mata, dan berbalik menatap istrinya.
"Papa seharusnya dukung Mama, supaya Riko segera mendapat keturunan, dan karena istrinya yang sampai sekarang tidak hamil membuat Mama malu Pah di gunjing dan menjadi bahan gosip oleh teman-teman Mama." Harna bicara dengan menggebu-gebu.
"Mama tidak sadar perbuatan Mama menyakiti hati Riko dan menantu kita hah..!! Sebagai wanita seharusnya Mama lebih peka dengan itu."
__ADS_1
Felik yang sedang berada di ruangan keluar karena mendengar keributan.
"Terus saja papa bela menantu papa yang mandul itu, papa memang tidak pernah mengerti perasaan Mama." Harna membentak dan teriak dengan wajah emosi.
"Mah,, arghh." Harlan memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sakit.
"Om..!!" Felik dengan cepat menghampiri Harlan yang akan tumbang. "Cepat panggil ambulance." Teriak Felik pada siapa saja yang berada di sana.
"Papa..!!" Harna yang syok, menutup mulutnya melihat suaminya jatuh pingsan.
.
.
"Auws.."
"Hati-hati By." Rere membersihkan jari Riko berdarah yang terkena duri bunga, karena Riko memaksa ingin belajar membuat buket bunga mawar untuk dirinya.
"Kenapa masih ada duri di tangkainya."
"Mungkin ketinggalan." Jawab Rere dengan masih membersihkan darah yang keluar di ujung jarinya.
Rere mondongak menatap wajah suaminya. "Mungkin kamu rindu By, papa juga pasti rindu kamu."
Riko hanya tersenyum. Entah mengapa perasaanya tiba-tiba menjadi tidak enak, dan dia teringat papanya.
.
.
"Bagaimana keadaan suami saya dok?" Tanya Harna dengan wajah panik, dirinya dan Felik langsung membawa Harlan ke rumah sakit.
"Pak Harlan terkena serangan jantung ringan, dan beliau juga stres dan kelelahan, dan hal itu memicu daya tahan tubuh beliau." Terang sang dokter.
"Tapi dia tidak apa-apa kan dok."
__ADS_1
"Sekarang sudah melewati masa kritis, dan harus di rawat intensif agar beliau segera sehat, dan jangan suruh beliau untuk berpikir berat ataupun melakukan hal yang memicu untuk membuatnya kambuh dan drop kembali." Dokter itupun pergi setelah Harna dan Felik mengucapkan terima kasih.
"Tante, saya ada rapat penting hari ini untuk mengantikan om Harlan, jadi saya harus kembali ke kantor." Ucap Felik ketika sudah di ruangan Harlan. Karena Harlan sudah di pindahkan di ruang rawat inap.
Dan Felik sudah mengurus semua yang dibutuhkan untuk perawatan Harlan.
"Terima kasih Lik." Ucap Harna dengan wajah sendu.
Felik pun pergi untuk kembali ke kantor.
"Ck. kenapa nomornya gak bisa dihubungi."
Di perjalanan Felik menghubungi nomor Riko, tapi nomornya tidak bisa di hubungi.
"Rik, lu bakalan nyesel kalau gak angkat telpon gue." Kesal Felik, karena berulang kali di coba, tetap tidak bisa di hubungi.
Felik menuju kantor untuk menghadiri metting penting, yang awalnya akan di pimpin oleh Harlan, dan karena insiden barusan mau tidak mau dirinya harus yang menggantikannya.
.
.
Harna menatap sendu suaminya yang terbaring lemah, dirinya tidak pernah melihat Harlan sakit hingga di rawat seperti ini.
Hidup puluhan tahun dengan Harlan, Harna juga tidak pernah bertengkar hebat seperti tadi dimana membuat suaminya mengalami serangan jantung.
"Pah, maafin Mama." Harna menyentuh tangan suaminya, dan mengecupnya.
"Maaf sudah membuat papa menjadi seperti ini." Ucapnya dengan lirih.
Memang penyesalan datang di akhir, dan jika penyesalan datang di depan, itu namanya pendaftaran...🤣
Harna mencoba merenungi perbuatannya, apakah dirinya yang selama ini sudah banyak menyakiti hati orang, dirinya menjadi seperti ini karena sering bergaul dengan teman-teman sosialitanya, yang baru dia kenal beberapa bulan lalu. Dan Harna menjadi keras kepala dan egois karena banyak perkataan ataupun ucapan yang memicunya untuk melakukan hal yang tidak sepantasnya.
Jika dia bisa berpikir dengan baik, makan kejadian nya tidak akan seperti ini, pasti anaknya tidak akan pergi jauh darinya, dan suaminya pun tidak akan jatuh sakit sampai di rawat seperti ini.
__ADS_1
Jangan menyalahkan seseorang hanya karena dirinya mempunyai kekurangan, dan jangan ngejudge seseorang hanya karena memiliki kekurangan.
Karena takdir tuhan tidak ada yang tahu.