PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part58


__ADS_3

Disarankan bacanya abis buka puasa ya, abis pulang tarawih... karena di bawah ada bacaan anu..🙈


Masih ngeyel, dosa ditanggung sendiri...!!!


...----------------...


...----------------...


Tidak pantang menyerah, Riko pun mengejar sang istri yang sudah lebih dulu masuk ke kamar hotel yang sengaja di siapkan untuk pengantin baru itu.


Karena tidak ingin malam pertamanya gagal dan berakhir naga ular nya tidak reproduksi bisa, Riko memutuskan untuk mengunci kamar hotel itu rapat-rapat, menghindari sesuatu yang tidak di inginkan saat pergumulan panas nya nanti.


"By, kenap kuncinya di buang?" Tanya Rere ketika melihat Riko melempar kunci pintu nya di atas lemari tinggi.


"Agar tidak ada tikus yang mengganggu." Riko berjalan pelan mendekati Rere dengan membuka kancing baju nya satu persatu.


Rere mengernyitkan keningnya. "Ngaco kamu By, mana ada tikus di hotel mewah ini." Ucapnya membalik badan untuk melepas gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya.


"Jika dibiarkan terbuka, maka akan banyak tikus yang mengintai, jadi biar lebih aman aku kunci pintunya." Ungkapnya yang sudah berhasil melepas kemeja yang Ia kenakan, dan Riko hanya memakai celana panjang yang masih melekat di tubuhnya.


Tangannya membantu melepas gaun yang Rere gunakan. "Kenapa gaun ini sangat sempit, apa tubuhmu tidak merasa sesak." Katanya yang kesulitan membatu melepas gaun pengantin yang melekat erat di tubuh sang istri.


"Tidak." Ucap Rere memejamkan matanya ketika tangan besar Riko mengelus punggung nya di belakang.


"Tapi mataku sakit, melihat kain itu mencekik kulit tubuh mu." Napas hangat Riko menerpa bahu Rere yang sudah polos.


"By, aku mau mandi." Ucap Rere mencoba menghindar, tangannya menutupi kedua aset miliknya yang sudah polos.

__ADS_1


Meskipun posisinya membelakangi, tapi jantung keduanya begitu berdebar tak karuan.


Ini adalah malam pertama mereka, meskipun tidak bagi Riko, tapi kali ini dia akan melakukan dengan Wanita yang sangat Ia cintai dan sudah sah menjadi istrinya, wanita halal yang bisa dia sentuh.


"Apa kamu tidak menginginkan nya." Bibir Riko menyusuri bahu mulus Rere, memberi kecupan basah dan menyesap lembut, hingga meninggalkan warna merah di bahu mulus itu.


"By.." Rere menggigit bibir bawah keras ketika tubuhnya terasa meremang.


"Ah." Ingin menghindar, tapi suara lacnat itu meluncur indah dari bibirnya.


Kedua tangan Riko merayap menyusuri punggung hingga berada di depan dada Rere, dan menemukan dua aset miliknya.


Riko memejamkan mata dengan tangannya yang bekerja di bagian area favorit nya, bibirnya menyusuri leher hingga rahang Rere.


Membalikkan tubuh Rere kini keduanya saling berhadapan.


Kedua bibir itu bertemu, memanggut satu sama lain, merasakan sesuatu yang begitu menggelora.


Keduanya larut dalam cumbuan yang semakin panas, AC diruangan itu pun nampaknya tak berfungsi karena kedua insan yang berada didalamnya merasa panas di sekujur tubuh mereka.


"By.." Rere memejamkan mata erat, ketika sesuatu di bawah sana ingin melesak memasukinya.


"Em..tahan sayang, aku akan pelan-pelan." Riko mengecup kembali bibir ranum Rere yang sudah membengkak, dengan di iringi gerakan tubuhnya yang kian mendorong untuk masuk lebih dalam.


"Byy.." Air mata nya jatuh di sudut mata, Rere menahan ras sakit yang membuat tubuhnya terasa terbelah.


"Maaf honny.." Riko menciumi seluruh wajah istrinya, dan berakhir mellumat bibir yang mengeluarkan suara seksih itu.

__ADS_1


Suara di dalam kamar hotel mewah dan luas itu semakin tak terkendali ketika keduanya berperang untuk saling memuaskan.


Hingga hampir satu jam keduanya sama-sama mengerang keras, berakhir Riko yang memeluk tubuh sang istri di bawahnya.


"Terima kasih sayang.." Kecupan di kening Riko berikan, dirinya tersenyum bangga, kehormatan sang istri di berikan kepada-nya, ternyata memang selama menikah dengan Zidan mereka tidak saling berhubungan, rasa bahagia seketika menyeruak dalam hatinya.


Rere hanya tersenyum dan memejamkan matanya, malam ini benar-benar malam pertama baginya, tubuhnya terasa remuk setelah di gempur hampir satu jam oleh sang suami.


Kebagian kini jelas dirasakan oleh keduanya, mereka sudah terikat dalam janji pernikahan.


.


.


"Ck. sepertinya kita tidak bisa menunggu lama lagi." Ucap Himan yang kesal, karena sarapan pagi keluarga menjadi tertunda karena menunggu sepasang pengantin baru.


"Ayah kayak gak pernah muda aja." Ucap Fitri pada sang suami, yang sejak tadi menggerutu, karena terlalu lama menunggu menantu dan anaknya itu.


"Lebih baik kita makan duluan saja pak, sepertinya mereka sedang berkerja keras untuk membuatkan kita cucu." Ucap Harlan terkekeh.


"Semoga saja pak." Ucap Fitri. "Karena saya dulu mendapatkan Rere butuh waktu lama." Fitri tersenyum menatap sang suami.


"Jadi karena itu Rere tidak memiliki saudara?" Tanya Harna.


Fitri menganggukkan kepalanya. "Iya jeng, dan dulu kami hampir putus asa, tapi ternyata Tuhan memberikan kebahagian itu di saat rasa putus asa itu menjadi rasa menyerah."


Dulu memang Fitri dan Hilman cukup lama untuk mendapatkan keturunan, padahal keduanya sudah periksa dan dalam keadaan baik dan subur, tapi semua itu belum cukup untuk mereka mendapatkan anak dengan cepat, hampir sepuluh tahun keduanya mendamba kan seorang anak, dan Tuhan menjawab doa mereka ketika usia pernikahan mereka menginjak sepuluh tahun.

__ADS_1


__ADS_2