PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part82


__ADS_3

Di lain tempat Harlan nampak bingung ketika pagi-pagi Felik datang ke rumahnya untuk meminta tanda tangan berkas-berkas penting. Padahal semua yang berhubungan dengan kantor sudah Harlan serahkan pada putra nya.


"Maaf tuan, pagi-pagi saya menganggu." Ucap Felik sopan dan sedikit membungkuk, bagiamana pun Harlan adalah orang tua sekaligus bosnya yang sekarang.


"Kenapa kamu pagi-pagi berada disini?" Tanya Harlan menatap Felik bingung.


"Saya hanya mengantar berkas yang harus anda tangani tuan, karena ini penting." Felik yang duduk di depan Harlan, menyerahkan beberapa map yang berisikan dokumen penting.


"Tunggu dulu, maksud kamu apa? bukankah ada Riko untuk mengurus kantor." Tanya Harlan lagi.


"Loh, Felik." Harna yang baru saja datang membawakan teh hijau untuk Harlan. Meskipun suaminya itu masih dingin dan mendiamkan nya, Harna tetap melayani Harlan seperti biasa.


"Pagi nyonya." Sapa Felik dengan senyum tipis.


"Felik, jelaskan pada Om apa yang terjadi." Ucap Harlan yang penasaran.


Felik menghela napas, apalagi melihat tatapan papa Riko yang begitu mengintimidasinya.


"Riko pergi, meninggalkan semua terutama urusan kantor, dan Riko menitipkan ini untuk anda." Ucap Felik dengan lugas.


"Pergi? pergi kemana maksud kamu?"


"Saya, tidak berhak menjawab atau memberi tahu Om, karena Riko sendiri tidak mengatakan kemana akan pergi." Bohong Felik, karena nyatanya dia pasti tahu kemana sahabatnya itu pergi, apalagi mereka sedang membangun sebuah perusahaan yang sudah mereka rintis sejak satu tahun lalu, dan karena kerja sama mereka berdua perusahaan itu sudah di kenal oleh kalangan pembisnis dan investor.


Maka dari itu Riko pergi meninggalkan semua, dan memulai kehidupannya sendiri dari Nol.


"Apa dia keluar kota?" Tanya Harna yang menyela ucapan mereka, Harlan membuka map yang Felik berikan.


"Tidak Tante, Riko tidak ada perjalanan bisnis."


"Apa-apaan ini." Harlan melempar map itu di atas meja. "Tidak mungkin Riko dengan mudah menyerahkan semua kembali yang sudah aku berikan." Harlan memijit kepalanya yang sedikit pusing, melihat isi dokumen itu sudah menjelaskan jika putranya menyerahkan semua kembali padanya, dan itu berati Riko tidak akan pernah kembali.


"Pah.." Harna menyentuh pundak Harlan. "Apa yang terjadi?" Tanya Harna memberanikan diri bertanya.


Harlan menoleh pada Harna, matanya menatap tajam wajah istrinya. "Baca ini." Harlan melempar map itu kepada Harna. "Aku harap kamu tidak akan menyesal sudah melakukan hal yang begitu mengecewakan putra ku."


Setelah mengatakan itu Harlan pergi ke ruang kerjanya, dan menyuruh Felik untuk mengikutinya.


tangan Harna bergetar, pembaca isi surat yang dilempar suaminya. "Ini tidak mungkin.." ucapnya dengan menutup mulutnya menggunakan tangan.

__ADS_1


bagaimana bisa putra sulungnya kembali menyerahkan apa yang sudah menjadi haknya sebagai pewaris di keluarga Kusuma.


Harna tidak habis pikir kenapa bisa menjadi seperti ini. Putranya rela meninggalkan semua yang sudah menjadi miliknya.


"Riko tidak akan bisa hidup kekurangan di luar sana, ini pasti karena Rere yang sudah meracuni Riko." Harna menatap kertas itu dengan kesal.


.


.


"Jadi kamu benar-benar tidak tahu kemana mereka pergi?" Tanya Harlan setelah selesai menandatangani berkas yang Felik bawa.


"Tidak Om, karena Riko tidak ingin kehidupan rumah tangganya kembali terganggu." Felik membereskan berkas dan memasukkan kembali ke dalam tasnya.


"Jadi saya harus kembali ke perusahaan lagi." Harlan menyandarkan punggungnya di kursi, baru satu tahun lebih dirinya hidup santai dan tidak memikirkan pekerjaan, kini pekerjaan itu datang kembali padanya.


"Ya tuan." Ucap Felik. "Kalau begitu saya permisi." Felik berdiri dan menunduk hormat.


"Lik, kamu hendel pekerjaan di kantor, Om percaya dengan kamu." Ucap Harlan menatap Felik serius.


"Tapi Om.."


"Tidak ada bantahan, ini perintah." Ucap Harlan tegas.


'Gara-gara Riko gue jadi kena imbasnya.'


.


.


Setelah menempuh perjalan udara selama kurang lebih enam belas jam, pesawat yang Riko dan keluarga tumpangi sampai di tempat tujuan yaitu Paris.


Dimana negara Paris yang dulu sudah memberikan dirinya banyak kebebasan dan mengenal Indira, bahkan dirinya sempat naksir dengan keponakan nya sendiri.


"By, kita ke Paris?" Tanya Rere menatap tak percaya.


"Ya, kamu suka." Riko merangkul bahu Rere.


"Aku tidak membayangkan bahkan bermimpi untuk sampai di negara ini." Ucap Rere dengan mata berbinar.

__ADS_1


"Dan sekarang kamu sudah berada disini, dan kita semua akan tinggal disini."


Rere menghela napas, dirinya hanya diam mungkin memang ini adalah jalan terbaik untuk mereka, karena rumah tangga nya adalah yang terpenting.


Huek..huek..


Riko dan Rere mengalihkan pandangannya kepada seseorang yang sedang muntah-muntah.


"Ya ampun Yah, kok malah mabok udara to." Fitri memijit leher Hilman, supaya lebih baik.


Hilman masih muntah-muntah, ternyata mengalami mabuk udara atau jetlag.


"Duh kasian ayah By, maklum belum pernah naik pesawat." Ucap Rere yang merasa khawatir.


"Aku juga tidak tahu, kalau ayah mabuk udara." Riko menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Di luar bandara sudah ada sebuah mobil yang menunggu mereka, dan mau tidak mau, Riko yang harus memapah ayah mertuanya yang mengalami jetlag parah.


Membantu Hilman masuk ke dalam mobil, Riko duduk di depan samping supir, dan Hilman berada di belakang bersama istri dan putrinya.


"Oalah pak, kalau orang katrok yaa begini naek pesawat malah ka'o." Ucap Fitri.


"Memangnya ibu tidak merasa pusing." Tanya Rere.


"Kalau ini tidak usah di ragukan lagi, jangankan enam belas jam, dua puluh empat jam saja ibu kuat." Ucap Fitri dengan gaya nya.


Rere hanya geleng kepala, kedua pria yang duduk di kursi depan hanya tersenyum.


"Apa kabar tuan." Ucap supir Riko yang bernama Miko.


"Baik Mik, bagaiman dengan kamu sendiri, aku dengar istrimu baru saja melahirkan anak kedua kalian." Ucap Riko dengan menatap Miko sekilas.


"Ya Anda benar, dan kami akan menggandakan pesta keluarga lusa, jadi anda harus datang." Miko tersenyum kepada Riko. Dirinya senang jika Riko datang ke Paris.


"Tentu saja, pasti kami akan datang"


Riko menepuk bahu Miko. "Kamu beruntung Mik, sudah memiliki dua anak, pasti kediaman mu sangat ramai."


Miko tersenyum dan mengangguk, "Ya tuan, bahkan putri kami yang pertama masih berusia tiga tahun jadi masih aktif-aktifnya." Miko sedikit menceritakan buah hatinya.

__ADS_1


"Saya juga sangat beruntung Tuan, pernikahan saya selama 3 tahun baru memiliki anak. Tuhan memberikan hadiah terindah dalam hidup kami setelah penantian selama 3 tahun lamanya." Miko menceritakan sedikit kisahnya yang memang lama untuk memiliki momongan.


Riko hanya mengangguk membenarkan Apa yang diucapkan Miko. "Ya Kamu benar, inilah hasil dari sebuah kesabaran yang kamu miliki. Dan semoga saja kami juga segera mendapatkan seperti apa yang kami inginkan."


__ADS_2