PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part29


__ADS_3

Semenjak Zidan mendatanginya di toko bunga, Rere selalu dibuat heran karena tingkah aneh Zidan.


Jika biasannya selama enam bulan lebih Zidan tidak pernah bicara kepadanya, apalagi memberi perhatian kecil sungguh mustahil baginya.


Namun sekarang pria yang berstatus suami siri nya itu sedikit berubah kepadanya.


Kemarin sebelum Silla pulang dari rumah sakit, Zidan menjemput dirinya sore hari ketika toko sudah tutup, dan hal itu mampu membuat Rere bertanya-tanya.


Selain itu Zidan selalu memintanya untuk memasakkan sarapan pagi dan bekal untuk nya makan siang.


"Re besok pagi bekalnya langsung taruh di mobil aku aja."


Bahkan ketika istrinya sudah pulang Zidan masih memintanya untuk membuatkan bekal dan di taruh langsung di mobilnya, yang pasti suaminya itu tidak ingin istri sahnya tau jika beberapa hari ini dirinya membawa bekal.


Karena biasanya Zidan hanya sarapan sandwich yang Silla buatkan.


Jika Zidan merasa senang karena bisa lebih dekat berinteraksi dengan Rere, lain halnya dengan Rere yang sudah mulai curiga jika Zidan mulai peduli dengan dirinya.


"Mbak.. kemarin yang pesan bunga mawar alamat xx tadi minta dikirim lagi ke alamat kantornya." Ucap Bella yang menyampaikan pesan pada bosnya.


"Ya, tinggal di kirim lah Bell."


"Masalahnya yang pesan, minta mbak sendiri yang nganterin geh."


Rere menatap Bella sekilas. "Emang siapa sih dia."


"Mana Bella tau, kemarin yang terima resepsionis nya."


"Yasudah buatkan, nanti biar aku antar."


Bella pun segera menyiapkan pesan dari customer yang meminta bosnya sendiri yang mengirim. Aneh


.


.


"Pak hari ini ada rapat dengan klien di perusahaan xx." Ucap Aji sekertaris Zidan.

__ADS_1


"Jam berapa?"


"Satu jam lagi."


"Oke."


.


.


"Bener ini alamatnya." Rere menatap bangunan tinggi didepanya.


Memasuki lobby Rere bertanya pada resepsionis.


"Siang mbak, saya ada pesanan bunga atas nama Tuan Bram Permana."


"Oh..iya mbak, silahkan anda naik lift ke lantai tujuh, disana ruangan CEO pak Bram Permana."


Rere mengucapkan terima kasih dan berjalan menuju lift yang di tunjukan oleh resepsionis tadi, dimana akan mengantarnya ke lantai tujuh adalah lantai CEO yang telah memesan bunga nya.


"Pasti untuk istri atau kekasihnya." Ucapnya dengan senyum.


Dirinya juga menyukai bunga mawar, tapi lebih suka jika dengan mawar putih, dan hanya Riko yang tahu jika dirinya menyukai mawar putih. Padahal menatanya dahulu sebelum Riko sering memberi dirinya bunga tapi mawar merah, karena tidak ingin di anggap tidak menghargai pemberian kekasihnya Rere pun menerima bunga itu dengan senang.


Tring


Pintu lift terbuka, Rere segera keluar dan mencari ruangan CEO bernama Bram Permana.


"Permisi saya ingin mengantar pesanan bunga ini pada tuan Bram Permana." Ucap Rere yang berdiri didepan meja sekertaris Bram seorang perempuan.


"Eh..mbak ditunggu bapak di ruangannya." Ucap sekertaris yang bernama Kiki.


"Maaf, apa saya tidak bisa nitip saja sama anda nona." Ucap Rere dengan wajah meminta tolong.


"Maaf, mbak tadi bapak sudah berpesan jika anda datang maka disuruh langsung keruangan bapak."


Kiki berjalan menuju pintu bosnya diikuti Rere.

__ADS_1


"Silahkan." Ucap Kiki yang sudah mengetuk pintu dan membukanya ketika dari dalam di persilahkan.


"Permisi." Ucap Rere dengan membawa buket lumayan besar sehingga sedikit menutupi tubuhnya.


"Papa, itu bunganya sudah datang." Suara pertama yang Rere dengar adalah suara seorang anak kecil.


Anak itu segera berdiri dari duduknya di karpet bawah karena sedang bermain.


"Tante ini bunga untuk Cika." Ucap seorang gadis kecil dengan senyum manisnya.


"Eh..i-iya sayang." Rere pun menjadi kikuk, dan tidak tahu bunga itu untuk siapa, tapi gadis kecil itu langsung mengambil dari tangannya.


Ehem


Suara deheman menyadarkan Rere yang sedang berinteraksi dengan gadis kecil itu.


"Maaf tuan, bunganya di ambil nona kecil." Ucap Rere dengan takut. Karena pikir Rere bunga itu untuk istri atau kekasihnya.


"Bunga itu memang untuknya." Ucap Bram dengan senyum ramah.


"Oh.." Rere hanya mengangguk dan tersenyum melihat gadis kecil itu menciumi bunga nya dengan tertawa.


"Silahkan duduk." Ucap Bram menyuruh Rere untuk duduk si sofa pojok ruangan nya, dan dibawahnya ada putrinya yang sedang asik dengan buket bunga mawar kesukaannya.


"Terima kasih tuan, tapi saya harus kembali ke toko." Ucap Rere sopan agar tidak menyinggung pria dewasa di depannya.


"Hanya sebentar saya ingin membahas pesanan untuk anda." Bram menyuruh Rere untuk duduk dengan isyarat tangannya.


Rere yang merasa tidak enak akhirnya duduk.


"Begini, putri saya memang sangat menyukai bunga mawar merah, tapi selama ini saya sering Gonta ganti toko untuk membelikan dia buket bunga mawar itu, dan kemarin untuk pertama kali putri saya meminta bunga seperti itu lagi hari ini, karena biasanya setiap hari saya harus membeli bunga dengan toko yang berbeda." Ucap Bram panjang lebar.


"Jadi saya ingin anda setiap hari buatkan buket bunga dengan bentuk yang sama untuk putri saya."


Rere sedikit terkejut mendengar ucapan pria didepanya itu, anak sekecil itu dibelikan bunga seratus tangkai setiap hari.


"Tidak perlu terkejut, karena bagi saya kebahagiaan putri saya adalah paling penting."

__ADS_1


__ADS_2