PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part56


__ADS_3

Semua keluarga menatap Riko dengan penuh intimidasi, apalagi tatapan ayah Rere yang begitu mendominasi.


"Sumpah, demi apapun demi kepala ku botak, demi aku yang sudah gak perjaka, aku tidak pernah menghamili dia." Tunjuk Riko pada wanita yang sedang duduk sendiri di kursi singgel, wanita itu tampak sedih dengan mengelus perut buncitnya.


Hilman mendelik tajam mendengar sumpah yang di ucapkan menantunya itu. Bisa-bisanya Riko sudah tak perjaka.


"Lalu kenapa dia datang dengan kondisi seperti itu dan meminta tanggung jawab mu." Bentak Harlan yang sudah tak bisa menahan emosi nya.


"Pah.." Harna mencoba menenangkan suaminya.


"Mana aku tau Pah, mungkin dia hanya menjebak ku." Ucap Riko membela diri.


Dirinya tidak mungkin menghamili wanita itu, apalagi dirinya sama sekali tidak pernah melihat wanita yang mengaku hamil anaknya itu.


Rere menghela napas, dirinya sudah tahu pasti akan terjadi masalah seperti ini, hanya saja tidak di sangka jika masalahnya datang di saat acara pernikahan mereka.


Karena wanita tak di kenal yang mengaku hamil anak suaminya, dengan terpaksa semua kelurga berkumpul di ruangan khusus keluarga, dan pesta pun di percayakan kepada Felik asisten Riko dan Sean, di bantu Allanaro sebagai sepupu ipar suaminya agar tetap berjalan bagaimana mestinya meskipun tidak ada kedua mempelai.


Pesta yang seharusnya berlangsung meriah kini hanya ada raut ketegangan yang ada di ruangan itu.


Rere yang duduk di samping ibunya pun berdiri.


"Re, mau kemana?" Tanya Fitri tapi Rere tak menjawab.


"Honny..." Riko mencoba meraih tangan Rere yang berjalan menuju di mana wanita hamil itu duduk, tapi ditepis tangan Riko oleh Rere.


"Boleh aku tau, berapa usia kehamilan kamu?" Tanya Rere yang sudah berdiri depan wanita hamil itu.

__ADS_1


Wanita itu hanya mengernyit bingung tak urung dia pun menjawab. "Lima bulan." Ucapnya santai.


Rere bisa melihat dari mata wanita itu yang terlihat santai. "Kapan kalian melakukan hal itu."


"Hon.." Riko mencoba mencegah Rere, tapi melihat tangan Rere mengisaratkan untuk diam Riko pun hanya pasrah.


"Lima bulan lalu."


"Apa kau yakin jika dia anak suamiku." Tanya Rere melirik perut buncit wanita itu.


"Tentu saja, karena terakhir kali aku hanya berhubungan dengan dia."


Semua yang di ruangan itu hanya diam menyaksikan kedua wanita yang sedang bercakap, entah apa maksud Rere melakukan hal itu.


"Kalau begitu kita tes DNA saja, karena kami disini tidak percaya jika anak mu itu adalah anak suamiku." Rere menatap wanita itu intens, dirinya menangkap wajah terkejut dari wanita itu.


"Jadi lebih baik kamu bicara yang jujur, sebelum semuanya terlambat." Rere bersedakep dada dirinya terlihat tenang dan santai.


"Hon, jangan sembarangan kamu, aku tidak mau bertanggung jawab dengan dia." Ucap Riko yang sudah panik, karena dirinya sebenarnya tidak yakin dengan apa yang dia ucapkan tadi, mengingat jika dirinya sudah meniduri banyak wanita.


Dan dia pun tidak bisa mengingat itu semua, yang jelas dirinya selalu bermain aman.


"Semua perbuatan harus ada konsekuensi nya By, dan kamu harus terima, jika itu benar."


Riko menunjukan wajah memelas nya, dirinya tidak mau pernikahan nya yang baru sehari pun menjadi kandas dan berakhir tragis.


"Baiklah, kita kerumah sakit sekarang." Ucap Rere yang tidak sabar, karena melihat wanita hamil itu hanya diam saja.

__ADS_1


"Tapi ini sudah malam nak..?" Ucap Harna pada menantunya itu.


"Tenang saja bibi, Dira sudah menyuruh Abang untuk memberi tahu dokter Tina, agar mau membantu untuk melakukan tes DNA malam ini." Timpal Indira, yang seprtinya sudah tahu rencana Rere.


Wanita hamil itu semakin pucat, tubuhnya pun sudah sedikit gemetar.


"Baiklah, papa hubungi teman yang bekerja di kepolisian, jika terbukti dia bohong, maka biar langsung bisa di bawa." Harlan menimpali.


Beberapa diantara mereka masih menatap Riko tajam.


"Dasar menantu kurang ajar, dosa apa aku bisa menikahkan putriku dengan pria sepertimu." Ucap Hilman pada Riko yang berdiri didepannya.


"Yah," Fitri mencoba menegakan suaminya.


Riko hanya diam, tanpa menjawab ucapan mertuanya, karena mereka memang tidak tahu track record dirinya.


"Ayo.." Rere meraih tangan wanita itu agar mau berdiri, tapi tangannya malah di tepis.


"Aku hanya ingin tanggung jawab dia, bukan meminta kalian untuk melakukan tes DNA." Ucap wanita itu dengan tegas, meskipun tersirat rasa takut di wajahnya.


"Jika benar dia anak suamiku, lalu kenapa harus takut, aku tidak akan ingkar janji, pasti kamu akan mendapat pertanggung jawabannya." Timpal Rere.


"Aku.._"


"Apa jangan-jangan kamu hanya berbohong, apa kamu melakukan ini atas suruhan orang lain."


Wanita itu nampak gelagapan, mendengar tuduhan yang di layangkan kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2