PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part22


__ADS_3

"Kalau begini setiap hari, perutku bisa buncit nyaingin ibu hamil sembilan bulan honny." Ucap Riko yang begitu lahap menyantap masakan Rere.


Keduanya duduk di meja makan, setelah Rere menyiapkan semua masakan yang dirinya buat.


"Gak papa, mungkin aku akan cari yang masih memiliki perut rata atau punya roti sobek enam." Ucap Rere santai.


"Eh..gak gitu konsepnya Honny." Ucap Riko buru-buru memotong ucapan Rere. "Meskipun makan ku banyak, aku jamin tidak ada lemak di perut, enak aja kamu mau cari yang lain." Riko bersungut kesal.


Rere hanya mengulum senyum mendengarnya.


"By, ponsel kamu bunyi..!" Teriak Rere di depan tv, karena Riko sedang di kamar mandi.


"Ck, berisik banget sih." Rere pun mengambil ponsel Riko yang terus berdering. "Tidak ada namanya." Ucap Rere.


Rere menekan ikon berwarna hijau.


"Hallo.."


"Maaf, apa ini benar nomor tuan Riko."


Deg


'Suara Mas Zidan.' Batin Rere.


"Siapa Hon." Tanya Riko yang muncul dari belakang.


Rere segera memberikan ponsel Riko, dirinya yang paham suara Zidan pun terkejut, semoga Zidan tidak mengenali suaranya.


"Hallo.." Sapa Riko, setelah menempelkan benda itu pada telinganya.


(...)

__ADS_1


"Oh...maaf Tuan Zidan tadi calon istri saya." Ucap Riko dengan senyum, melihat mata Rere yang tajam menatapnya.


(...)


"Baiklah nanti saya akan mampir kerumah anda tuan." Ucap Riko yang duduk disamping Rere, bahkan tangan Riko pun merangkul bahu Rere.


"By.." Rere bicara tanpa suara, hanya bibirnya saja yang bergerak.


"Ya, selamat siang." Riko menutup panggilan telpon nya.


"Kenapa Mas Zidan bisa telpon kamu By?" Tanya Rere menatap Riko penuh selidik.


Riko hanya tersenyum den mencium kening Rere sekilas.


"Kamu tidak tahu jika suami siri mu itu mengajukan kerja sama dengan ku." Ucap Riko dengan mengelus lengan Rere.


Kepala Rere hanya menggeleng, jangan kan hubungan bisnis, hubungan badan pun Rere belum pernah. Ehhh


Cup


Satu kecupan dibibir berhasil Riko dapatkan.


"Suamimu menyuruhku datang ke rumahnya Honny, untuk makan malam." Ucap Riko yang merebahkan kepalanya di pangkuan Rere.


"Eh..ngapain." Rere yang kaget pun reflek memukul lengan Riko.


"Kamu sekarang main kasar Hon." Riko pura-pura kesakitan.


"Dih, salah sendiri suka bikin orang kesal." Ucap nya dengan pandangan ke layar televisi yang menampilkan acara gosip siang hari.


Riko tidak membalas melainkan memiringkan wajahnya menghadap perut Rere.

__ADS_1


"By...Iss." Rere meraih kepala Riko agar kembali seperti semula, dirinya merasa geli dan meremang ketika hidung Riko menggesekkan di balik kaus yang dia kenakan.


"Kenapa hm." Riko menatap wajah Rere dari bawah.


"Geli, jangan diterusin." Ucap Rere menatap tajam Riko.


"Aku kangen Hon." Riko melingkarkan tangannya di pinggang Rere dengan posisi masih berbaring, paha Rere sebagai bantalan.


Tangan Rere terangkat untuk mengelus kepala Riko.


Tidak dipungkiri jika dirinya juga merindukan Riko.


Kalau saja dirinya jadi menikah dengan Riko, mungkin mereka sudah bahagia dan juga memiliki momongan, andai waktu bisa diputar kembali Rere tidak mau berada di posisi seperti ini.


Tapi mungkin takdirnya sudah seperti ini dan begini jalanya hidupnya.


"By.." Rere menggoyangkan lengan Riko pelan namun tak mendapat respon.


"Sudah tidur rupanya."


.


.


Mobil Riko memasuki halaman rumah Zidan, ketika waktu sudah jam tujuh malam.


Zidan pun sudah menunggu tamu yang dia undang Kemabli ke rumahnya, Zidan begitu senang karena Riko mau menerima ajakan dirinya.


"Selamat malam Tuan Zidan." Sapa Riko ramah dengan menjabat tangan Zidan.


Sedangkan Zidan menatap bingung dan terkejut melihat istri sirinya datang bersama Tamu spesialnya.

__ADS_1


"Kalian?" Tanya Zidan menunjuk Rere dan Riko.


__ADS_2