PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part77


__ADS_3

Ehem


Suara deheman seseorang membuat kedua wanita yang asik mengobrol itu menoleh.


"Mas Zidan.." Rere saling pandang dengan Bella.


"Hay, Re. apa kabar."


"Em..baik Mas." Rere tersenyum canggung, meskipun pernah tinggal satu atap, tapi mereka tetap dua orang asing yang tidak pernah akrab.


Rere menyuruh Zidan untuk duduk, sedangkan Bella melayani pembeli yang baru masuk ke dalam toko.


"Aku tadi tidak sengaja lewat, dan ingin mampir. Tapi malah ketemu kamu disini." Ucapnya dengan santai dan tersenyum.


"Em..iya aku dan mas Riko datang kemarin." Ucap Rere.


Mendengar nama Riko membuat Zidan mengepalkan kedua tangannya.


Apalagi mengingat jika kerja sama mereka di batalkan dengan sepihak, padahal Zidan sudah mengeluarkan modal banyak untuk kerja sama itu.


"Oh.." Zidan hanya menjawab singkat.


"Apa kabar dengan mbak Silla mas." Tanya Rere, basa basi, karena dirinya sedikit banyak mendengar dari cerita Riko tentang hubungan mereka.


"Em..Silla baik, tapi yaah." Zidan mengedikan kedua bahunya. "Hubungan kami sudah tidak bisa dipertahankan, karena Silla memilih untuk bersenang-senang diluaran sana dengan teman prianya." Ucap Zidan menceritakan kebiasaan Silla sebelum dirinya meninggalkan Silla.


Rere hanya diam tanpa mau menjawab.

__ADS_1


"Bagiamana kalian, apa sudah mendapat kan momongan?" Zidan melirik perut Rere yang masih rata.


"Em.. belum Mas, insyallah secepatnya Tuhan kasih kami kepercayaan."


"Semoga kalian, cepat di berikan momongan." Ucap Zidan dengan senyum.


"Aminn..mas."


Keduanya mengobrol, hingga tak berapa lama Zidan pamit pergi.


"Mbak, apa mbak tahu kalau istri pertamanya itu, sekarang beda jauh." Ucap Bella ketika melihat Zidan sudah pergi.


"Maksud kamu apa Bell." Tanya Rere, meskipun kemarin dirinya sempat melihat Silla, dan benar penampilan Silla pun sudah berubah drastis.


"Waktu itu istrinya pernah kesini dan membeli bunga, tapi penampilannya tidak seperti dulu yang suka memamerkan barang mewah nya, dia sekarang seperti hidup sebagai orang normal." Ucap Bella


"Ya, menurutku sih begitu."


Rere hanya menggelengkan kepalanya, hidup seseorang selamnya tidak akan berada di atas terus, melainkan roda berputar dan pasti akan ada masanya ada di bawah.


.


.


"Bell aku duluan yaa.." Ucap Rere pada Bella yang sudah di jemput Riko lebih dulu.


"Iya mbak, hati-hati." Bella pun melambaikan tangannya, tanda perpisahan.

__ADS_1


"Kamu sudah makan?" Tanya Riko ketika mereka sudah duduk di dalam mobil.


"Sudah Mas, tadi Sugar Daddy nya Bella datang dan membawakan makanan." Rere cekikikan sendiri, mengingat kejadian yang menurutnya menggelikan, ketika Bella bersikap manja di depan Bram, dan tanpa malu pada dirinya yang berada di sana.


Apalagi melihat wajah Bram yang pasrah, dan menuruti permintaan Bella.


"Kamu kenapa tertawa, senang di belikan makanan sama duda itu." Ucap Riko ketus.


Dirinya tidak senang melihat Rere yang tertawa karena pria lain.


"Iss... kamu mikirnya negatif." Rere mencubit pipi Riko dari samping.


Keduanya sedang dalam perjalanan menuju apartemen.


"Lagian, wajah kamu seneng banget cerita dapet makanan dari duda itu." Riko masih memasang wajah kesal.


"Aku akan lebih senang kalau dapet jatah dari suamiku." Ucap Rere dengan senyum nakal. Tangannya pun membelai dada Riko.


Riko menarik napas dalam, bisa-bisa Rere memancungnya dalam keadaan di dalam mobil.


"Yank, jangan mancing kalau tidak mau aku terkam." Riko menahan tangan Rere menggunakan tangan kirinya, ketika jari-jemari Rere menyusup ke dalam kemejanya.


"Uhhh takuutt.." Rere malah tertawa, memancing gairah Riko begitu mudah, hanya di beri sentuhan sedikit pria itu sudah terbakar gairah.


"Awas..kamu ya, kalau sudah sampai jangan harap aku kasih ampun." Riko tersenyum menyeringai, kakinya menginjak pedal gas lebih dalam.


Dirinya tidak sabar ingin memberikan hukuman kepada istrinya yang nakal itu.

__ADS_1


__ADS_2