PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part60


__ADS_3

Seorang pria berlarian dari lobby rumah sakit, Riko yang mendegar kabar jika istrinya keracunan makanan dan di larikan ke rumah sakit segera dirinya pergi meninggalkan rapat yang sedang berlangsung.


"Tuan.." Sapa Miranda ketika melihat Riko yang sudah berdiri di depannya.


"Bagaimana keadaanya." Dengan napas tersengal dan wajah yang terlihat sangat panik Riko menatap tajam Miranda.


"Dok-dokter sedang memeriksa mbak Rere." Miranda yang mendapat tatapan tajam Riko pun hanya menunduk takut.


"Kenapa kamu baik-baik saja, apa kamu menukar makanan itu pada istri saya?" Tanya Riko mengintimidasi Miranda.


Miranda menggeleng. "Saya belum sempat memakan, makanan itu tuan, saya sedang mencuci tangan dan mbak Rere sudah batuk-batuk dan memuntahkan makanan itu ketika saya kembali." Miranda menceritakan bagaimana kronologinya.


Beruntung dirinya belum sempat memakan makanan itu, jika sudah mungkin keduanya tidak akan selamat.


Ceklek.


Pintu ruangan UGD terbuka dan munculah dokter yang menangani Rere.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya Riko panik.


"Beruntung pasien segera di bawa kemari, jika tidak mungkin racun itu sudah menyebar di tubuhnya." Ucap sang dokter membuat Riko lega.


"Pasien akan segera di pindahkan ke ruang rawat, dan keadaan sudah melewati masa kritis, hanya perlu pemulihan dan istirahat."


Dokter itu pun pergi setelah Riko mengucapkan terima kasih.


"Sialan masih juga selamat, ini hanya peringatan untuk kalian berdua." Orang itu pun pergi setelah mendengar penjelasan dokter.


Bugh


"Maaf.." Rania meminta maaf pada seseorang yang baru saja dia tabrak, dan orang itu hanya membenarkan topi yang Ia pakai, dan memakai masker.


"Aneh.." Gumam Rania ketika melihat orang itu pergi tanpa berucap apapun.


"Kak.." Rania masuk ke dalam raungan rawat kakak iparnya, disana Riko duduk di samping brankar sang istri.


"Ran kamu sudah datang " Riko berdiri dan mendekati sang adik. "Kamu jaga kakak kamu disini, jangan pergi kemana-mana, kakak ada urusan." Ucap Riko pada Rania, Riko sengaja menghubungi Rania lebih dulu, agar kedua orang tuanya tidak panik, dan dirinya harus mencari tahu siapa yang sudah membuat istrinya seperti ini.


"Iya kak." Tanpa banyak tanya Rania pun hanya patuh.


.


.


"Lik lu cari tahu siapa yang sudah kasih racun di makanan istri gue,, udah gue kirim alamat restoran nya." Riko menghubungi Felik untuk membantunya.


Sedangkan dirinya menuju toko bunga sang istri untuk melihat makanan yang benar dia pesan tadi atau bukan.

__ADS_1


Felik yang mendapat kabar jika istri bosnya itu keracunan langsung mendatangi restoran yang tadi di pesan oleh Riko, dan memang makanan itu dari sana.


"Apa anda yakin makanan itu aman, sedangkan istri sahabat saya keracunan setelah memakan makanan dari sini." Felik menatap tajam pemilik restoran itu dengan penuh intimidasi.


"Benar tuan, bahkan pelanggan lain yang pesan juga tidak mengalami masalah, padahal dikirim dengan orang yang sama, dan waktu yang sama." Ucap pemilik itu yang sudah ketakutan melihat wajah Felik.


"Kalau begitu siapa orang yang sudah mengantar makanan itu ke toko bunga dengan alamat xxx?" Tanya Felik lagi, menatap satu persatu orang yang berdiri di depannya itu.


Mereka semua menunduk dan saling melirik.


"Baik lah jika tidak ada yang mengaku." Felik mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.


"Tu_an, sebenarnya yang mengantarkan makanan itu saya." Ucap seorang pria yang sejak tadi menunduk takut.


Semua rekan kerjanya mengangkat wajahnya, melihat rekanya yang sudah mengaku.


"Tapi ketika di tengah jalan seseorang memberhentikan kendaraan saya, dan saya hanya di ajak sedikit menjauh dari kendaraan saya yang membawa pesanan antar, setelah beberapa menit orang itu pergi." Ucap pria itu dengan nada gemetar karena takut.


"Katakan siapa orang itu?"


Pria itu menggeleng. "Saya tidak tahu, dia memakai masker dan topi."


"Ck, pasti orang yang sama." Felik berpikir jika orang itu adalah orang yang sama ketika mengacau di pesta pernikahan Riko.


"Baiklah saya tidak akan menindak lanjuti kasus ini, tapi jika terjadi sesuatu dengan rekan saya, maka saya pastikan restoran ini akan tutup." Felik mengancam, dirinya merasa geram dengan orang yang sudah berniat jahat dan jika orang itu ketemu pasti sudah habis oleh dirinya.


.


.


"Makanan nya tidak berubah warna." Riko membungkus kembali makanan itu dan membawa keduanya dalam satu wadah untuk Ia berikan bukti kepada pihak berwajib, agar kasus Rere bisa di tangani, meskipun Felik sudah menyuruh anak buahnya, tetap saja negara ini adalah negara hukum.


"Bagaiman...?" Riko mengangkat panggilan telepon dari Felik.


"......"


"Kamu yakin orang itu adalah orang yang sama.."


"....."


"Baiklah...kau urus saja, kita ketemuan di cafe xxx, aku membawa sisa makanan yang di makan Rere.."


"Jika benar dia adalah pelakunya, maka jangan harap bisa lepas dariku." Riko meremat bundaran kemudi dengan kuat.


Memang mereka belum menemukan cukup bukti, tapi dari pertama kejadian di pesta pernikahannya sudah membuatnya menduga siapa orang nya, dan kejadian hari ini sudah tidak bisa di toleransi nyawa istrinya menjadi taruhannya.


.

__ADS_1


.


"Emmh.."


"Kak, kakak sudah sadar." Rania membatu Rere untuk berbaring setengah duduk, ketika wanita itu membuka matanya.


"Rania.." Rere menatap adik iparnya. "Dimana aku?"


"Kakak di rumah sakit, karena kakak tadi keracunan makanan."


"Keracunan?"


Rania mengangguk.


"Dimana Riko?"


"Kak Riko sedang keluar, makanya aku di suruh di sini menemani kakak." Rania memberikan gelas yang sudah berisikan jus.


Rere menerima dan meminumnya.


"Beruntung kakak segera di bawa kemari oleh Miranda, jika tidak pasti kakak tidak tertolong." Ucap Rania dengan wajah sendu.


"Miranda.. bagaimana dengan Miranda?" Tanya Rere khawatir ketika ingat dengan Miranda yang pasti juga memakan makanan yang sama.


"Dia tidak apa-apa, beruntung belum memakan nasi itu, dan bisa membawa kakak ke rumah sakit tepat waktu."


Rere bernapas lega. "Syukurlah kalau begitu."


.


.


"Sepertinya pelakunya orang yang sama, anak buah ku sudah menyelidiki cctv di dekat toko bunga Rere, dan mereka menemukan sebuah mobil hitam yang sejak dua hari ini selalu parkir di tempat yang sama." Ucap Felik memeperhatikan gambar cctv yang dikirimkan oleh anak buahnya.


"Ck, kenapa jarak nya jauh sekali, dan plat mobilnya tak terlihat." Riko kesal karena gambar itu tidak bisa memperlihatkan plat mobil itu, sudah Ia zoom tapi hasilnya nihil.


"Sepertinya dia sudah memprediksi hal ini, jika terjadi sesuatu."


"Apa kamu sudah cek tempat tinggal pria itu di kota B?" Riko menatap Felik serius.


"Hem.." Felik mengangguk. "Dia masih di sana bersama istrinya, tapi keadaan rumah tangga mereka sedang tidak baik-baik saja." Ungkap Felik, dirinya mendapat laporan itupun dari anak buahnya yang ditugaskan untuk memata-matai Zidan.


"Sial..!! Lalu siapa yang sudah melakukan ini." Riko mengusap wajahnya kasar, dan menyandarkan tubuhnya di kursi.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa gaess kasih dukungan emak dengan..Like..komen..apalagi hadiah kalian, otor sangat berterimakasih...🥰🥰


__ADS_2