
Suara tembakan menggema di ruangan itu, Rere sampai menutup matanya.
"Hey, buka mata kamu." Riko memeluk tubuh istrinya dengan perasaan lega.
"By..?" Rere menoleh ke belakang, dan ternyata Frans sudah terjatuh di lantai memegangi kakinya.
"Tidak apa semua baik-baik saja." Riko yang mengerti ketakutan sang istri mencoba untuk menenangkan.
"Pelaku adalah buronan kami beberapa bulan lalu, karena kasus narkoba, dan dia satu-satunya yang masih dalam DPO." Ucap seorang polisi yang sudah melayangkan timah panasnya pada kaki Frans.
"Arghh.. Brengsek kalian semua." Umpat Frans dengan menahan sakit di kakinya.
"Terima kasih atas bantuan tuan-tuan telah membantu kami menemukan pelaku, kami akan memproses kasus ini sampai tuntas." Polisi itu menyeret Frans keluar dari gedung kosong yang ternyata tempat nya selama ini bersembunyi dari kejaran polisi.
"Rik, lu gak pa-pa?" Tanya Felik yang khawatir.
"Gue gak pa-pa. Terimakasih kalian datang tepat waktu."
"Syukurlah, kalau kalian selamat."
Mereka keluar dari gedung terbengkalai itu, Riko menggendong tubuh istrinya yang lemah, dengan keadaan yang berantakan.
"Maaf-in aku By, yang sudah membuat kalian dalam masalah." Ucap Rere yang sudah duduk di dalam mobil.
Riko memeluknya, mendekapnya agar terasa nyaman. "Ssstt...tidak perlu berterima kasih, yang penting kamu baik-baik saja." Ucapnya mencium kening Rere.
Ya, bagi mereka keselamatan adalah uang utama, dan beruntung di kejadian ini tidak ada yang terluka.
Rere yang merasa lega karena bisa bebas dari Frans pria toxic yang begitu kejam.
Jika dulu dirinya sangat mencintai Frans itu karena sifatnya yang dahulu tidak seperti sekarang, dan sekarang hanya ada rasa kasihan melihat pria itu yang menjadi terpuruk dan liar.
Setelah hampir satu jam berkendara, Riko membopong tubuh Rere untuk masuk ke dalam rumah, karena istrinya itu tertidur dalam mobil ketika di perjalanan.
Mungkin hari ini adalah hari berat yang Rere lalui.
"Loh Rik, Rere kenapa?" Harna yang melihat Riko menggendong Rere bertanya.
"Gak pa-pa Mah, hanya kecapean." Jawabnya tanpa memberi tahu hal yang sebenarnya.
"Duh, beneran gak papa." Tanya Harna lagi untuk menyakinkan, karena wajah Rere tidak terlihat dengan jelas.
__ADS_1
"Iya Mah, aku antar Rere ke kamar dukun" Riko melangkah kakinya menaiki tangga menuju kamar mereka.
"Maaf Hon, harus membuatmu dalam keadaan seperti ini." Ucapnya membelai wajah Rere. "Pasti ini sangat sakit." Jarinya mengelus sudut bibir Rere yang lebam.
Riko meninggalkan Rere di tempat tidur, dirinya masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.
.
.
"By.." Rere mengerjapkan matanya ketika dirinya merasa tak di peluk.
Membuka mata, ternyata Riko tak berada di sampingnya.
"Jam sebelas malam." Gumamnya melihat jam di nakas.
Berjalan keluar kamar untuk mencari sang suami, Riko pasti sedang berada di ruang kerjanya, kebiasaan jika sudah di ruang kerja pasti bisa lupa waktu.
"Tapi pernikahan kami belum ada tiga bulan mah, mama jangan meminta yang Tuhan saja belum kasih." Ucap Riko dengan suara sedikit keras.
"Mama hanya menyuruh kalian untuk berobat atau apalah itu. Jika kalian memang sehat lalu kenapa Rere belum juga hamil, dan Rania yang baru dua bulan menikah sudah hamil lebih dulu." Ucap Harna dengan kesal.
"Mah, anak itu adalah rezeki.. jika Tuhan belum kasih berarti kami harus lebih berusaha dan sabar lagi."
"Arrgghh.." Riko meremas rambutnya kasar.
'Ya tuhan..' Rere menangis dalam diam di balik dinding, dirinya mendengar dan melihat bagaimana Riko dan Mamanya bertengkar karena dirinya belum hamil.
Dan Rania, ternyata adik iparnya itu sudah hamil.
Ya, pagi tadi Rania datang bersama Raka setelah memeriksakan kehamilannya dari rumah sakit, dan tentu saja Harna yang mendengar itu sangat bahagia. Apalagi kabar itu dari putrinya sendiri. Dan yang dia harapkan dari istri putranya malah belum membuahkan hasil.
.
.
"Sayang..kamu disini." Riko memeluk tubuh Rere dari belakang.
Ketika masuk ke kamar Riko tak menemukan Rere di atas ranjang, dan ternyata sedang berdiri di balkon kamar mereka.
"Hm..kamu dari mana By." Ucapnya dengan tangan berada di atas kedua tangan Riko yang berada di perutnya.
__ADS_1
"Meyelesaikan pekerjaan." Kepalanya berada di ceruk leher Rere.
Menikmati aroma yang begitu menenangkan baginya.
"By..?"
"Hm.." Riko berdehem untuk menanggapi.
Rere menghela napas. Membalikkan tubuhnya Rere menatap wajah Riko yang begitu Ia cintai.
"Bagaimana jika kita lama untuk mendapatkan anak?" Tanyanya dengan senyum, agar tidak membuat Riko tersinggung, tapi justru hatinya lah yang merasa sakit.
"Kenapa tanya begitu." Riko menatap lekat wajah sang istri, dirinya melihat kegelisahan di dalam kedua matanya.
"Hanya sedang berfikir begitu, Rania saja yang baru dua bulan menikah sudah di beri kepercayaan, kita yang selalu menunggu momen itu tapi belum juga_"
"Sstt..".Jari Riko berada di bibir Rere. "Semua sudah ada yang mengatur, kapan giliran kita yang dikasih kepercayaan, mungkin hari ini keberuntungan mereka yang Tuhan kasih, bisa jadi besok atau lusa giliran kita yang mendapat keberuntungan itu." Riko mengelus pipi Rere, dirinya tahu jika istrinya sedang bersedih. Mungkin saja tadi Rere mendengar pertengkaran dirinya dan Mamanya.
"Tidak usah terlalu dipikirkan sayang, lebih baik kita berusaha lebih giat." Senyum nakal terbit dari bibirnya. "Tidak akan ada hasil jika kita tidak berusaha, dan selebihnya Tuhan lah yang menentukan."
Riko langsung menggendong tubuh istrinya, dan menjatuhkannya di atas ranjang empuk miliknya, mengungkung tubuh Rere di bawahnya.
"By,, stop..!!" Rere tertawa keras ketika perutnya di kelitikin oleh Riko sampai membatunya lemas.
"Kamu nakal By, hah..hah.." Napasnya tersengal karena terlalu keras tertawa.
"Dan yang nakal ini adalah suamimu." Riko langsung membuka baju yang Rere kenakan dan membuangnya asal.
"By..ah.." Rere merengek ketika kedua aset miliknya terpampang jelas tanpa penghalang.
"Ayo kita usaha mulai malam ini, jika belum beruntung kita harus usaha setiap hari." Riko tersenyum menyeringai, dirinya melepas sendiri pakaian yang Ia kenakan.
"Ya Tuhan, kamu benar-benar mesum By." Rere memalingkan wajahnya ketika Riko sudah melepas kain penutup terakhirnya.
"Kalau tidak Mesum, tidak akan adanya anak dalam rumah tangga, karena mereka tidak ada yang bercocok tanam." Ucapnya dengan mengarahkan miliknya yang sudah tegak ke dalam sarangnya.
"Ahh..By." Rere memejamkan matanya, tubuhnya sampai terdorong ke belakang, tanpa aba-aba Riko melakukan penyatuan.
"Em..Sayang Jangan pernah berhenti mencintaiku, karena aku selalu mencintaimu." Riko pun melancarkan aksinya, dengan menggerakkan tubuhnya di atas Rere.
keduanya bercinta dengan rasa cinta yang menggelora, berusaha untuk mewujudkan keinginan keduanya dalam membina rumah tangga, yaitu memiliki keturunan dan keluarga kecil yang bahagia.
__ADS_1
Malam yang sunyi dan dingin, tapi terasa panas dan berisik di kamar dua insan yang sedang mengejar gelombang hasrat yang menggebu.