PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Martabak manis 2


__ADS_3

Felik keluar kamar dengan tubuh yang sudah segar, dirinya mencari keberadaan Miranda yang tidak ada di dalam kamar.


"Katanya hanya mengambil Air minum, kenapa lama." Ucapnya pada diri sendiri.


Dengan yakin langkah kakinya menuju dapur, dimana Miranda pasti masih disana.


"Kamu ngapain?" Tanyanya yang melihat Miranda sedang duduk manis di kursi makan.


"Kenapa Mas gak bilang kalau pulang bawa ini." Ucapnya dengan menunjukan potongan martabak di tangannya dan mulut yang penuh membuat perkatanya sedikit belepotan.


"Telan dulu jika ingin bicara." Ucap Felik yang ikut duduk di kursi samping Miranda.


Miranda segera menelan makanan yang berada di dalam mulut nya dan menegak minum.


"Mas kenapa gak bilang beli martabak manis?" Miranda kembali mengulang pertanyaan tadi.


"Lupa." Jawab Felik santai.

__ADS_1


Miranda hanya mendengus, dirinya sejak tadi memang ingin memakan makanan manis tersebut. Dan tadi dirinya sempat ingin meminta Felik untuk membelikannya, tapi melihat wajah lelah Felik membuatnya mengurungkan niatnya.


"Mau ke mana?" Tanya Felik menyentuh pergelangan tangan Miranda, tiba-tiba saja mood nya menjadi buruk karena mendengar ucapan Felik.


"Tidur." Ucap Miranda cuek.


"Martabak nya belum habis, katanya kamu suka makanan itu." Felik menatap Miranda penuh perhatian. "Duduklah, aku temani makan." Felik menarik tangan Miranda agar duduk kembali, dirinya tahu jika mood ibu hamil suka berubah-ubah dan Felik melihat itu dari wajah dan cara bicara Miranda.


"Aku sengaja tadi lewat depan penjual martabak, dan aku ingat kamu menyukai makanan manis ini." Felik mengambil separuh potong martabak, dirinya memang tidak suka makanan manis itu, tapi demi membuat mood Miranda baik lagi, Felik melakukannya.


Miranda yang mendengar ucapan Felik tersenyum dalam hati, ternayata benar pria itu begitu peduli dengan dirinya.


Felik menoleh. "Tidak apa, nanti kamu kurang." Jawabnya tidak ingin membaut Miranda merasa bersalah.


"Oh." Miranda hanya membulatkan bibir nya tanpa bersuara. Wanita hamil itu kembali lahap memakan nya.


Felik yang melihat cara makan Miranda membuatnya hanya geleng kepala. "Sehat-sehat sayang, diperut mana." Ucapnya sambil mengelus perut buncit Miranda.

__ADS_1


Felik beranjak dari kursi, " Mau kemana mas?" Tanya Miranda gantian.


"Bikin susu, kamu belum meminum susulan?"


Miranda hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Felik.


Felik hanya tersenyum, dan mengelus pucuk kepala Miranda yang tidak tertutup hijab. Jika di dalam apartemen Miranda tidak memakai hijabnya, meskipun mereka bukan muhrim, tapi Felik mengijinkan apapun yang membuat Miranda nyaman tinggal bersama dirinya.


Felik melihat Miranda yang masih asik makan, wanita itu sudah pindah duduk di depan tv, dengan membawa makananya, dan Felik datang membawa segelas susu hangat untuk Miranda.


"Jika sudah kenyang, sudah jangan di habiskan." Felik duduk disamping Miranda tanpa jarak, memberikan segelas susu pada Miranda.


"Em, lagian aku juga sudah kenyang."Jawab Miranda yang menerima pemberian Felik.


Miranda menegak nya hingga habis, Felik melihat cara Miranda minum tidak berkedip, apalagi melihat ada sisa susu yang menempel di atas dan bawah bibir Miranda.


"Kenap_" Belum sempat menyelesaikan ucapannya, bibirnya sudah di lumatt lembur oleh Felik. Miranda merasakan sapuan lembut bibir kenyal Felik, di bagian permukaan bibirnya.

__ADS_1


"Manis, rasa coklat." Ucap Felik tersenyum, ibu jarinya mengelus bibir Miranda sensual.


__ADS_2