
"Sayang, besok aku ada pekerjaan keluar kota." Ucap Riko ketika dirinya sedang memakai pakaian kerjanya.
"Kemana?" Rere mendekati Riko dan membatunya merapikan kancing kemejanya.
"Ke kota B, mau ikut?" Ucapnya lagi, dengan kedua tangan nya melingkar di pingang Rere.
Menatap wajah cantik istrinya dengan jarak sedekat ini membuatnya senang.
"Em..Boleh ikut?" Tanya Rere balik.
"Tentu saja boleh, justru aku senang jika kamu ikut."
Riko tersenyum. "Kamu bisa menemui Bella, dan juga melihat toko mu itu."
"Eh, iya..kenapa aku jadi lupa sama Bella." Ucap Rere yang batu ingat jika di sana ada Bella yang menjaga tokonya.
"Sepertinya kamu ketinggalan berita jauh dari anak buah mu itu."
Kening Rere berkerut. "Berita apa?"
Riko menaikkan kedua bahunya. "Mana aku tahu, hanya felling ku saja." Ucap Riko mengecup kening Rere sekilas. "Terima kasih sayang." Ucapnya, karena Rere sudah membantunya memakaikan dasi.
"Hiss..kamu malah bikin aku penasaran By." Gerutunya kesal.
"Persiapkan saja dirimu, untuk besok.. tapi_" Sepertinya dirinya mengingat sesuatu. "Ya Tuhan, pergi keluar kota tapi tak bisa menyentuhmu, padahal ini pertama kali perjalanan kita keluar kota setelah menikah." Riko mendengus ketika dirinya mengingat istrinya kedatangan tamu bulannya, dan tak bisa di sentuh.
Rere mengulum senyum. "Hanya beberapa hari lagi." Ucap Rere mengelus dada bidang suaminya.
"Ck. lama sekali." Kesalnya.
"Biasanya juga seperti itu, kamu tidak mempermasalahkannya."
"Ini beda sayang, kita akan pergi dan anggap saja bulan madu."
Rere hanya geleng kepala, suaminya itu memang tidak bisa libur lama-lama untuk tidak menyentuh nya.
"Pagi.." Sapa Rere ketika sudah sampai di meja makan, dimana sudah ada kedua orang tuanya.
"Pagi nak, ayo sarapan." Ucap Fitri.
Riko tersenyum dan duduk di samping sang istri.
Mereka pun sarapan dengan tenang, Rere bahkan selalu tertawa ketika ibunya menceritakan tingkahnya dulu, meskipun Riko terkadang masih canggung kepada Hilman, tapi dirinya sebisa mungkin bisa akrab dengan ayah mertuanya.
Rere memang tidak pernah tertawa ketika berada di rumah kedua orang tuanya dan disini wanitanya itu terlihat selalu mengembangkan senyum.
__ADS_1
Riko juga meminta ijin untuk membawa istrinya ke kota B, menemani perjalanan bisnisnya di sana. Dan kedua orang tuanya mengijinkan. Karena itu lebih baik, jika seorang istri selalu menemani suaminya kemanapun pergi.
"Sayang, nanti kalau aku pulang telat aku suruh supir untuk jemput kamu." Ucap Riko sebelum istrinya turun dari mobil.
"Tidak usah By, lagian jarak toko sama rumah kan deket, aku bisa minta antar Miranda lebih dulu."
"Baiklah jika begitu."
"Ya sudah aku turun." Rere mencium pipi suaminya.
"Hati-hati By." Ucapnya setelah di luar mobil.
Riko melambaikan tangannya, mobilnya pun melesat pergi menuju kantornya.
"Pagi Mir?" Sapa Rere ketika sudah sampai di dalam toko.
"Pagi mbak." Jawab Miranda dengan senyum.
"Tumben wajah kamu senyum-senyum begitu?"
Rere yang melihat wajah Miranda ceria jadi penasaran. "Jangan-jangan abis di tembak cowok ini." Katanya lagi, dengan duduk di balik meja kerjanya.
"Hehee.." Miranda nyengir.
"Dih malah nyengir, awas tar gigimu kering." Miranda malah semakin melebarkan senyumnya.
Alis Rere terangkat sebelah mendengar ucapan Miranda. "Jangan bilang kamu naksir cowok orang Mir?"
Miranda masih mengembangkan senyumnya dengan kepala mengangguk.
"Ya Tuhan.." Rere menepuk keningnya. "Carilah pria yang masih singgel, jangan sampai kamu sakit hati karena dia tidak memilihmu dan memilih wanita lain."
Miranda memanyunkan bibirnya. Memang benar sih apa uang di katakan bosnya itu.
Dulu dirinya juga pernah menyukai seorang pria, bahkan dirinya juga sudah menyerahkan kesuciannya untuk pria itu. Tapi pria itu pergi setelah berhasil mengambil miliknya yang berharga, pergi keluar negeri untuk kuliah.
Dulu Miranda masih duduk di kelas sepuluh SMA, dimana jiwa remaja dan keingintahuannya begitu menggebu-gebu, apalagi sedikit banyak teman mereka sudah melakukan hal seperti itu, dan rasa penasaran Miranda pun semakin kuat. Pada akhirnya dirinya meyerahkan miliknya yang berharga dengan kekasihnya yang baru satu bulan pacaran dengan nya.
"Huh, untung aja waktu itu kecebongnya gak berkembang biak." Gumam Miranda mengingat percintaan pertama kali mereka, pria itu menyemburkan bibit kecebongnya di dalam.
.
.
Hari ini Riko dan Rere baru saja turun dari pesawat, mereka memilih menggunakan transportasi burung besi untuk ke Bandung.
__ADS_1
Rere tidak memberi tahu Bella jika dirinya akan datang ke kota B, dan mengunjunginya di toko.
Karena Rere ingin membuat kejutan pada Bella.
"Sepertinya aku kenal mobil itu By." Ucapnya yang melihat ada mobil hitam tak asing baginya.
"Hm.. mungkin pelangan yang sering datang ke toko mu." Jawab Riko, dengan memakirkan mobilnya di belakang mobil hitam tadi.
"Seperti mobil Daddy nya Cika." Gumam Rere.
"Ayo turun." Riko membukakan pintu untuk Rere.
"Mami, bunga ini untuk mami dari Daddy." Ucap Cika pada gadis yang sejak tadi sibuk dengan pekerjaannya.
"Terima kasih Cika sayang." Bella melirik Bram yang sedang menatapnya dengan senyum tipis.
"Bukan sama Cika mami, tapi sama Daddy." Gadis kecil itu pergi ke belakang untuk memetik bunga mawar kesukaannya.
Bella menghela napas, dirinya menghampiri Bram.
"Kenapa?" Tanya Bram uang melihat wajah Bella cemberut.
"Kenapa harus melalui Cika kalau cuma mau kasih bunga." Ucap Bella memanyunkan bibirnya, berdiri didepan Bram yang duduk di kursi.
"Padahal aku ngarepnya Mas Bram yang kasih sendiri." Gadis berusia dua puluh tahun itu terlihat lucu di mata Bram ketika sedang cemberut.
Bram berdiri, kedua tangannya Ia masukkan ke dalam saku celana.
"Tapi intinya itu dari aku kan." Bram menatap wajah Bella yang memang masih belia, terlihat menggemaskan.
"Tapi lebih berkesan kalau kamu yang kasih." Bella masih memanyunkan bibirnya.
Karena gemas melihat bibir Bella seperti bebek, Bram yang tidak tahu jika ada dua orang sedang mengamati mereka pun mencium bibir Bella.
"Emph.." Bella gelagapan ketika mendapat ciuman mendadak dan untuk pertama kalinya.
Ehem
"Ya Tuhan, mata ku By." Ucap Rere sepontan menutup mata menggunakan tangan.
Kedua orang yang terciduk sedang berciuman pun segera melepas tautan bibir mereka.
"Rere..!!
"Mbak Rere..!!" Bella membulatkan matanya, terkejut sekaligus malu.
__ADS_1
"Hon kenapa mataku yang di tutup." Riko menyingkirkan telapak tangan Rere yang menutupi matanya.
"Eh..aku salah menutup mata By." Ucapnya kikuk, karena mata yang di tutup adalah mata suaminya, sedangkan matanya melihat ciuman live streaming barusan.