PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part74


__ADS_3

Ehem


Riko berdehem keras untuk memecah kecanggungan yang baru saja terjadi.


"M_mbak Rere kapan datang." Ucap Bella kikuk sekaligus malu.


Bagiamana bisa ciuman mereka yang baru saja terjadi menjadi tontonan.


"Lumayan lama, melihat kalian..em.." Rere mempertemukan kedua jarinya, seperti berciuman.


Bram hanya melengos melihat kelakuan Rere yang bikin dirinya malu, padahal dulu dirinya tidak pernah berbuat seperti ini, meskipun pada mendiang istrinya.


Bella menunduk tersipu malu, kedua tangannya saling bertautan.


"Ck. kamu bikin malu mereka Hon." Riko merangkul lengan Rere, berjalan menuju sofa di pojok ruangan itu.


Ehem


Gantian Bram yang berdehem, dirinya melirik Bella yang hanya menunduk malu.


"Apa kabar Re, kalian kesini tidak memberi tahu." Tanya Bram basa-basi untuk mencairkan suasana.


"Mau datang ke toko sendiri masa harus kasih tau sih Mas, nanti gak bisa lihat ehem.." Rere menggoda Bella. "Ternyata kalian akrab, bahkan_"


"Mbak..iss malu tau." Bella merengek mendengar ucapan Rere.


Rere tertawa. "Ternyata selera mu sugar Daddy Bell, bukan Manurios lagi." Rere teringat dulu jika Bella mengidolakan Manurios, suhu di dunia Oren.


"Iss..Mas Bram gak galah ganteng, mirip Massimo lagi." Bella menatap Bram dengan senyum aneh nya.

__ADS_1


"Duh mas, kayaknya mas harus sabar, Bella suka pria bule." Bisik Rere yang masih di dengar mereka semua.


"Siapa lagi itu Kasimo?" Tanya Riko yang tidak tau.


"Massimo Tuan, bukan Kasimo." Ucap Bella merenggut.


Bram menggaruk keningnya pusing.


"Ah..terserah siapalah itu."


Rere hanya menahan tawa.


"Ck dasar." Ucap Bella lirih.


Mereka mengobrol dengan santai, beruntung toko juga dalam keadaan tidak ramai, dan Cika begitu senang melihat Rere datang kesana.


Hari sudah semakin sore, Rere menyuruh Bella untuk menutup toko nya, untuk hari ini toko tidak buka sampai malam.


Riko menghentikan mobilnya di pinggir jalan, karena tenda itu berjualan di pinggir jalan.


"Duh, pantas saja ramai, ternyata makanannya banyak banget." Rere tersenyum senang, matanya berbinar melihat banyaknya makanan yang berjejer di meja.


"Kenapa tidak ke restoran saja sih Hon." Tanya Riko yang melihat ramainya pembeli di sana.


"Sama saja By, malahan sepertinya enak di sini makananya." Rere pun segera mengambil tempat duduk yang kosong.


"Ah..maaf." Tak sengaja dirinya menyenggol seseorang yang sedang duduk.


"Hati-hati Hon." Riko menahan tubuh Rere yang sempat limbung.

__ADS_1


Orang yang di senggol itupun menoleh ketika mendengar suara yang tidak asing.


"Rere, Riko." Wanita itu berdiri.


"Mbak Silla." Rere pun terkejut melihat Silla.


Silla hanya menatap kedua orang itu dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Mbak Silla sama siapa?" Tanya Rere basa basi.


Silla tidak menjawab melainkan segera pergi dari sana.


"Mbak..!!"


"Sudah, biarkan saja mungkin dia tidak ingin di ganggu." Ucap Riko menahan lengan istrinya, agar tidak mengejar Silla.


"Tapi By_"


"Katanya mau makan ayo.." Riko mengajak Rere duduk di bangku yang sudah kosong.


Rere melihat punggung Silla yang sudah menjauh, entah mengapa melihat wajah Silla sepertinya menyimpan banyak kesedihan.


Meskipun pernah menjadi madu ataupun tidak di hargai, Rere mempunyai rasa kasihan terhadap Silla. Apalagi Silla sudah tidak bisa memiliki anak, pasti Zidan tidak lagi seperti dulu. Mengingat terakhir kali kejadian waktu itu, Zidan sudah tak mengharapkan Silla lagi.


"Tidak usah dipikirkan." Riko membuyarkan lamunannya.


"Takdir hidup tidak ada yang tau, biarkanlah mereka menjalani tanpa adanya kita yang ikut campur."


Bukan tanpa alasan Riko berbicara seperti itu karena memang hubungan rumah tangga mereka sudah tak bisa di pertahankan lagi, setelah Zidan menalak Rere malam itu. Bahkan Silla di campakkan begitu saja oleh Zidan.

__ADS_1


Penampilan Silla yang sekarang jauh berbeda seperti dulu ketika masih menjadi istri Zidan.


Kini Silla berpenampilan sederhana tanpa pakaian atau pun barang mewah lagi.


__ADS_2