
Silla sampai di depan rumah mewah yang tadi alamatnya Ia dapatkan dari Riko, rumah yang ternyata lebih besar dari rumah yang mereka tinggali.
"Heh..kamu keterlaluan Mas." Silla menatap bangunan dua tingkat itu penuh rasa kecewa.
Turun dari mobil Silla berjalan mendekati pintu rumah yang sedang terbuka, karena seperti nya yang dikatakan Riko itu benar, jika para orang tua mereka sedang datang berkunjung, karena Silla bisa mendengar gurauan mereka dari teras rumah.
"Kalian bahagia di atas penderitaan ku." Silla mengepalakan kedua tangannya dirinya merasa kecewa dan marah atas sikap Zidan yang sudah mengabaikan nya, bahkan sudah berani tidak jujur di belakangnya.
"Sayang, kapan kita akan mendapatkan cucu, pernikahan kalian sudah hampir satu tahun loh." Ucap ibunya Zidan.
Zidan hanya tersenyum dan melirik Rere, keduanya duduk berdampingan saling menempel.
"Di tunggu saja mah, doakan saja kami segera mendapat momongan." Ucap Zidan sambil mencium pipi Rere. "Benar kan sayang." Tangannya memeluk bahu Rere.
Rere sejak tadi sudah risih karena Zidan sering melakukan sentuhan intim dengannya, meskipun suami istri tapi tetap saja bagi Rere Zidan adalah pria yang sudah memiliki istri lainya.
"Re, kamu tidak menunda nya kan?" Tanya ibu Rere pada putrinya.
"Em..menunda? oh..itu tidak Bu, tidak sama sekali." Ucap Rere yang awalnya tidak mengerti. "Mungkin memang belum waktunya karena kami hanya orang asing." Rere melirik Zidan yang menyapanya tajam.
"Maksud kamu apa nak?" Tanya mertua Rere yaitu papanya Zidan.
"Em..maksud saya_"
"Maksudnya karena mereka memang hanya dua orang asing yang terpaksa menikah siri." Suara seorang perempuan terdengar tegas berdiri di ambang pintu.
Semua yang berada di sana menoleh kearah sumber suara.
"Kamu siapa?" Tanya ibu nya Rere.
Sedangkan Zidan menatap tajam Silla yang berdiri melihatnya sinis.
__ADS_1
Kedua orang tua Zidan mengenali Silla, yang dulu pernah menjadi pacar putranya.
"Kamu..kamu kenapa bisa di sini?" Tanya Mama Zidan.
Rere bergeser sedikit menjauh dari Zidan dan lebih memilih mendekati ibunya.
"Tentu saja bertemu dengan kedua mertua saya Mama, apa lagi." Silla berjalan mendekati kedua orang tua Zidan yang menatapnya tidak suka.
"Apa kabar Mama dan papa mertua, selamat datang di rumah kami." Silla tersenyum manis.
"Zidan apa maksud ucapnya." Mama Zidan menatap putranya meminta penjelasan.
"Hanya salah paham mah." Zidan mendekati Silla dan menarik tangannya kuat.
"Ikut aku." Tatapan mata Zidan begitu tajam.
"Ck. kenapa? sakit tau." Silla menghempaskan tangan Zidan.
"Kau..!!"
"Silla..!!" Zidan mencegah Silla.
"Kenapa mas, aku hanya ingin berkenalan dengan kedua orang tua maduku." Silla menatap Zidan remeh.
"Ada apa ini, kenapa dia bilang istri kedua..madu." tanya Hilman ayah Rere.
Silla maju satu langkah dan mengulurkan tangannya pada Hilman. "Kenalkan Om, saya Silla istri pertama mas Zidan."
Jederrr
Bagai petir di siang bolong mereka semua terperangah mendengar ucapan Silla.
__ADS_1
"Zidan, apa-apa'an ini." Papa Zidan menatap putranya nyalang, dirinya tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Silla.
"Pah, mah, ini hanya salah paham, dia bukan_"
"Bukan istri kamu." Silla berjalan mendekati kedua mertuanya. "Lalu ini apa Mas." Silla mengeluarkan dua buku nikah mereka, yang sengaja dia ambil dari rumah sebelum datang kesini, karena dirinya yakin jika tidak ada bukti mereka semua tidak akan percaya.
Papa Zidan meraih buku yang Silla tunjukan membuka dan membacanya.
"Pah.." Mama Zidan menutup mulutnya tak percaya melihat nama, foto dan tanggal menikah mereka.
"Kamu keterlaluan Zidan, kamu membohongi kita semua"
Plak
Zidan mendapat tamparan keras dari papanya sendiri. "Pah, mah, Zidan bisa jelasin." Zidan menatap kedua orang tuanya mengiba agar mau mendengarkan penjelasan nya.
Ayah Rere pun meraih buku yang papa Zidan pegang, beliau membuka dan membacanya.
"Ya Tuhan Rere." Fitri ibu Rere memeluk putrinya yang hanya berdiri diam saja, tanpa ekspresi apapun.
"Gandi saya kira anak kamu lebih baik dari yang saya kenal, tapi ternyata." Hilman menatap kecewa kepada sahabatnya itu.
Persahabatan mereka terjalin sejak SMA dan mereka berjanji akan menjodohkan anak mereka jika terlahir laki dan perempuan, dan hal itu menjadi kenyataan, tapi ternyata Zidan tak sebaik seperti Hilman mengenal Gandi.
"Hil, saya minta maaf..saya tidak tahu kelakuan Zidan seperti ini..kami pun tidak tahu jika mereka menikah tanpa restu kami." Gandi menatap Hilman penuh rasa bersalah.
Silla tersenyum kemenangan setidaknya mereka semua sudah tau jika dirinya istri sah Zidan.
"Itu berarti putramu telah membohongi mu, dan kami orang yang tidak tahu apa-apa." Hilman merangkul putrinya. "Nak, apakah dia menyakitimu selama ini, apakah dia menganggap mu seorang istri." Tanya Hilman pada Rere.
Rere hanya diam menatap kedua orang tuanya bergantian, dirinya yang sebenarnya tidak tega melihat kedua orang tuanya terluka karenaya.
__ADS_1
"Jangan takut nak, kami tidak akan marah, hanya saja kami menjodohkan kalian berharap rumah tangga kalian bahagia, bukan menjadi seperti ini."
Ayah Rere menjadi merasa bersalah jika putri satu-satunya yang Ia miliki tidak bahagia dalam pernikahannya, apalagi karena mereka lah pernikahan itu terjadi, dan dirinya menyesal tidak mencari tahu lebih dulu seperti apa pria seperti Zidan itu.