PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part08


__ADS_3

Rere sudah kembali kekamar setelah Silla datang, dirinya akan makan malam ketika mereka semua sudah selesai makan dan pergi dari meja makan.


Rere menjalani kehidupannya seperti ini sudah enam bulan semenjak dirinya menginjakkan kaki dirumah ini untuk pertama kali.


Meskipun begitu dirinya tidak pernah menyalahkan kedua orang tuanya atau pun Zidan yang sengaja melakukan ini, Rere berfikir mungkin inilah takdir yang harus dirinya jalani.


Waktu menunjukan pukul delapan malam, Rere keluar untuk melihat apakah suami dan istri beserta ibunya itu masih disana.


Rere bernafas lega ketika mereka semua sudah tak ada di meja makan.


Membersihkan sisa makanan dan piring kotor bekas mereka Rere dengan ikhlas melakukan itu semua, terkadang dirinya juga merasa lelah, tapi kembali lagi dirinya tidak ingin membuat kedua orang tuanya kecewa dan sedih.


Jika bisa dirinya akan mengadu tentang kehidupannya selama bersama suami sirinya, namun hal itu tidak Ia lakukan karena Zidan tidak pernah memperlakukannya dengan buruk, seperti kekerasan dalam rumah tangga, Zidan tidak melakukan itu.


"Kenapa setiap makan pasti sisanya tinggal sedikit sih, padahal aku udah banyakin dari biasanya." Keluh Rere yang melihat lauk serta sayur yang tersisa hanya sedikit. Dirinya juga tidak pernah menyisakan untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Mungkin mereka kelaparan." Rere bicara sendiri dengan tangan bergerak membersihkan meja makan.


Setelah selesai mencuci piring kotor, Rere mengambil nasi untuk dirinya sendiri dan menaruh lauk yang masih tersisa meskipun sedikit setidaknya dirinya tidak makan nasi saja.


Membawa piring dan segelas air, Rere duduk di kursi dekat kamarnya yang memang tersedia meja dan kursi untuk pelayan makan.


Menikmati makan malam, meskipun hanya sekedar yang tersisa nampak Rere sangat menikmati.


Dari pintu Zidan melihat Rere yang sedang makan dengan piring makan yang isinya tak seberapa membuat dadanya terenyuh.


Apalagi Zidan tadi memperhatikan Rere sejak merapikan meja makan, bahkan Rere berbicara pun dirinya mendengarnya.


'Apakah aku sangat keterlaluan?' Pikir Zidan.


Riko nampak hanya berdiam diri dikamar hotel, dirinya tidak berniat untuk keluar malam ini karena tidak ada dua sahabatnya yang gesrek itu.

__ADS_1


Riko hanya menghabiskan waktu di dalam kamar hotel, dirinya memesan makanan lewat pelayanan hotel karena enggan untuk keluar.


Menikmati malam lewat balkon kamar hotel, dari atas sana bisa dirinya lihat keindahan lampu malam yang kerlap-kerlip seperti hiasan.


Dirinya juga bisa melihat toko kecil dengan lampu di bentuk sedemikian rupa hingga membentuk huruf "RR Florist." Riko tersenyum, huruf dua itu mengingatkan dirinya pada Rere.


"Kenapa juga haru RR, bikin ingat saja." Riko bergumam dengan pelan.


Pagi hari dikediaman Zidan nampak sibuk dengan Silla yang akan ikut suaminya menghadiri acara peresmian hotel di rekan bisnisnya. Zidan yang diundang pun mengajak Silla untuk ikut.


Karena memang Silla istri sahnya, maka Zidan mengajak Silla bukan Rere yang hanya istri siri.


Jika acara keluarga maka Zidan akan mengajak Rere, tapi jika acara kantor Zidan akan memperkenalkan Silla sebagai istrinya.


Rere sudah keluar rumah sejak jam enam pagi, bahkan ketika Zidan sengaja ke dapur agar melihat Rere pun sudah tak ada. Zidan tahu jika istri sirinya itu mungkin mendapat orderan bunga dari klien nya karena Zidan sempat merekomendasikan toko bunga Rere pada rekanya.

__ADS_1


Meskipun terlihat tak perduli namun jika ada kesempatan Zidan akan menawarkan jasa atau toko bunga Rere agar rekanya membeli atau memesan disana. Karena Zidan bilang disana bunganya baru dan segar juga harganya lumayan lebih miring dari pada toko lain.


__ADS_2