
Rere menatap wanita paruh baya didepanya dengan perasaan tak menentu, dirinya memang tidak membenci ibu yang sudah melahirkan suaminya. Dirinya hanya takut jika Mama mertuanya kembali menyuruh nya untuk meninggalkan suaminya.
"Mama.." Gumamnya dengan lirih.
Sedangkan Harna menatap menantunya dengan perasaan berkecamuk antara malu dan juga merasa sangat bersalah. Apalagi melihat keadaan Rere yang sekarang membuat air mata Harna semakin deras.
"Rere, menantuku." Harna segera berjalan mendekati Rere yang hanya berdiri diam mematung.
"Nak, maafkan semua kesalahan mama." Harna memeluk Rere dari samping.
Harna memeluknya dengan erat, mengelus kepala Rere dengan sayang.
Rere hanya menatap sendu ke arah suaminya dan papa mertuanya yang juga saling merangkul bahu.
"Rere udah maafin mama, bahkan sebelum Mama memintanya." Rere mengusap punggung Harna yang menangis terisak. "Rere juga minta maaf kalau selama ini juga punya banyak salah sama Mama."
Kepala Harna hanya menagguk dengan suara masih terisak.
Harna melonggarkan pelukannya dan menyentuh wajah Rere.
"Kamu memang menantu Mama yang baik, selama ini mama egois, hanya mementingkan perasaan Mama sendiri, maafin mama ya.. Mama benar-benar menyesal." Harna dengan perasaan semakin bersalah ketika melihat perut buncit Rere. "Apakah dia baik-baik saja." Ucapnya menunduk, menatap perut buncit Rere.
__ADS_1
"Em..," Rere mengangguk. "Cucu mama sangat sehat dan aktif seperti nya dia akan menjadi pemain sepak bola." Ucapnya dengan senyum. " Coba mama pegang." Rere menuntun tangan Harna untuk menyentuh perut nya.
Tangan Harna gemetar ketika menempel di perut buncit Rere. "Pah, cucu kita." Harna menoleh pada suaminya dengan senyum mengembang dan mata sembab.
Harlan mendekat diikuti oleh Riko. "Apa dia jagoan." Tanya Harlan dengan ikut menyentuh perut menantunya, tapi sebelum menempel tangannya lebih dulu tarik Riko.
"Eitss..papa tidak boleh ikut menyentuhnya." Ucap Riko dengan posesif. "Hanya aku pria yang boleh menyentuh perut istriku." Ucapnya lagi dengan mengelus perut sang istri.
"Cih, dasar bucin." Harlan mendengus kesal.
Sedangkan Rere dan Harna tertawa. "Kapan perkiraan cucu mama akan lahir?"
Kini mereka sudah berada di meja makan. Melihat mamanya memohon dan meminta maaf Riko tidak tega, apalagi dirinya adalah seorang anak. Bagaimanapun perbuatannya, Harna tetaplah orang tua yang melahirkannya.
Riko dan Rere memang tidak membenci Harna, mereka pergi demi keutuhan rumah tangga mereka yang tidak ingin orang lain ataupun orang tua mereka ikut campur. Dan lagi ucapan mamanya tentang keturunan pasti membuat hati Rere sakit, sedangkan Riko yang hanya mendengarnya merasa sakit apalagi istrinya yang selalu mendapat tekanan dan cibiran dari mamanya.
Sudah cukup kesedihan yang diderita Rere selama ini, dan dirinya tidak ingin membuat sang istri kembali menderita setelah menikah dengannya. Oleh karena itu Riko rela mengacuhkan ibunya hanya untuk melindungi perasaan Rere.
"Sekitar satu bulan lagi mah." Jawab Rere dengan memberikan piring berisikan makanan untuk suaminya.
Rere hari ini memang tidak ke toko bunga karena dirinya ingin membuat makanan kesukaan sang suami untuk makan siang, dan siapa sangka dirinya mendapat kejutan dengan datangnya kedua orang tua Riko yang sudah lama mereka tidak saling tukar kabar, bahkan Riko dengan sengaja memutus akses untuk kelaurganya.
__ADS_1
"Ya tuhan, ternayata sebentar lagi." Harna nampak begitu bahagia terlihat jelas dari wajahnya.
"Pah, mama ingin tinggal di sini, sampai cucu kita lahir." Ucap Harna pada suaminya. "Mama bisa bantuin Rere di toko bunga, atau bantuin besan di toko roti."
Harlan mengehela napas kasar. "Mama bukan bantuin tapi malah ngerepotin." Harlan bukannya tidak mengijinkan, melainkan takut jika istri nya kembali menyakiti menantunya.
"Mama janji tidak akan membuat mereka kesusahan, Mama hanya ingin dekat dengan Rere dan cucu mama." Harna menatap ketiga orang itu bergantian. "Anggap saja mama ingin menebus kesalahan yang sudah mama perbuat."
Rere yang melihat Harna sedih menjadi tidak tega. "Iya mah, Mama boleh tinggal disini dengan kami, justru aku senang mah." Rere memeluk bahu Harna dan kepalanya bersandar di bahu Harna.
"Terima kasih sayang, kamu memang menantu Mama yang baik." Harna mencium kepala Rere.
Harlan yang melihat pemandangan itu menjadi tidak tega dan terharu. "Baiklah jika kalian mengijinkan nya."
Rere tersenyum senang dan kembali memeluk Harna dengan perasaan bahagia.
Sejatinya jika saling memaafkan hidup akan bahagia, dan jika kita menghargai seseorang dengan kekurangan ataupun kelebihannya maka semua tidak akan menjadi saling membenci dan membatasi diri.
So, jadilah orang yang lebih bisa menghargai orang lain, dan jangan pandang seseorang dari sisi kekurangannya. Percayalah jika Tuhan itu maha adil dan yang menentukan segalanya.
END
__ADS_1
👉👉👉Selanjutnya kisah Felik yang masih meneprjuangkan Miranda, dan kejujuran Miranda tentang pria yang pertama untuk dirinya.