
Semakin lama Riko semakin pusing menuruti ngidam Rere, sepertinya benar-benar kecebongnya itu turunan lokal. Riko yang sekarang sedang berada di kantor mendadak semua pekerjaannya Ia cansel dan di serahkan kepada Miko.
"By..aku ingin makan rujak dengan bumbu kacang, sekarang..dan harus dapat ya.."
Pesan yang Rere kirim selalu dirinya lihat berulang kali, berharap permintaan itu berubah menjadi pizza ataupun makanan yang lain, dimana dirinya gampang menemukannya.
Beruntung waktu mencari kacang rebus, istri dari Miko itu memilki berbagai tanaman sejenis kacang-kacangan, dan Riko mendapatkan kacang dari rumah Miko, meskipun bentuknya berbeda dari kacang kulit lokal, tapi cukup membuat istrinya bahagia dan mau memakannya.
Dan sekarang dirinya kembali pusing untuk mencari rujak dengan bumbu kacang di mana.
Memiliki ide cemerlang Riko menghubungi ibu mertuanya.
"Halo bu.." Sesaat setelah panggilnya di angkat oleh Fitri.
"Ada apa Rik?"
"Rere minta rujak bumbu kacang, apa ibu bisa membuatnya?" Tanya Riko yang memiliki ide.
"Ada-ada aja si Rere ngidamnya, gak keren." Ucap Fitri malah meledek putrinya.
Riko menggaruk keningnya.
"Belikan saja bahanya, nanti ibu buatkan, kalau beli jadi mana mungkin di Paris ada rujak."
"Ibu kirim pesan saja apa yang harus Riko beli.." Saran Riko, agar dirinya mudah mengingat.
"Baiklah nanti ibu kirim."
"Terima kasih Bu, sekarang Riko akan pergi ke supermarket." Riko langsung mematikan sambungan telponnya, akhirnya dirinya mendapatkan ide yang jitu tanpa harus keliling Paris hanya untuk mencari penjual rujak.
Setelah hampir satu jam berbelanja akhirnya mobil Riko sampai di depan toko kue sang mertua, dirinya sengaja menukar mobil dengan Miko agar Rere tidak curiga bahwa dirinya meminta bantuan sang ibu.
__ADS_1
"Kamu dapat semua yang ibu pesan?" Tanya Fitri ketika melihat Riko memasuki toko kue nya.
Riko tersenyum lebar. "Dapet, meskipun harus mengelilingi satu supermarket."
Dirinya yang kesusahan mencari asam yang seperti ibu mertuanya pesan, dan akhirnya setelah hampir menyerah ide bertanya pada petugas supermarket batu terlintas. Huh dasar pelupa
"Bantu ibu mengupas buahnya, dan ibu akan membuat bumbunya."
Ucap Fitri, karena sejak tadi ponsel Riko terus berdering dan Rere lah pelukannya.
"Lihatlah Bu, sejak tadi dia terus menelpon." Riko memperlihatkan ponselnya.
"Memang begitu kalau wanita hamil menginginkan sesuatu, apa lagi mood nya selalu berubah-ubah, dan emosinya suka naik turun." Fitri bercerita sambil meracik bumbu. Dan Riko mengupas buah mangga muda yang aromanya membuat giginya ngilu.
Mendengar cerita sang ibu, Riko teringat beberapa hari lalu ketika dirinya pulang telat dan Rere marah-marah bahkan mendiamkannya hingga malam hari dan dirinya disuruh tidur di luar. Tapi ketika tengah malam istrinya itu menyusulnya tidur di ruang tamu, dengan alasan tidak bisa tidur jika tidak memeluk dirinya. Rasanya Riko ingin sekali memberi istrinya itu hukuman, tapi mengingat lesan dokter dirinya harus menunggu tiga hari lagi.
Setelah menyelesaikan tugasnya, dan Fitri pun juga telah selesai membuat sambal, Riko segera membawa bungkusan yang sudah Fitri diapakan intuk putrinya yang sedang ngidam lokalan itu.
"Kenapa lama sekali sih..?" Rere bertambah kesal ketika panggilan telepon nya tidak di angkat oleh Riko.
"Awas aja kalau gak dapet." Gumamnya dengan wajah di tekuk.
"Paket rujak mbak..?" Riko Menenteng bungkusan plastik dan memamerkan di depan wajah istrinya.
"Pesanan rujaknya mbak.." Ucap Riko tersenyum melihat wajah istrinya. "Jangan ngambek nanti cantiknya ilang." Riko memeluk pinggangnya.
"Ck. Lama banget By, aku sampe kesel nungguin." Rere memanyunkan bibirnya cemberut.
"Disini butuh perjuangan yank nyarinya, kalau di Indonesia banyak."
"Kenapa tidak pulang ke Indonesia aja kalau gitu." Ucapan Rere membuat Riko menghela napas.
__ADS_1
"Nanti kalau tiba waktunya, sekarang mau makan rujak spesial ngak?"
"Em, tapi rasanya kayak bikinan ibu tidak?" Tanya Rere balik.
Membuat Riko tersenyum lebar. "Coba aja rasain, kalau ngak sama tinggal kasih mereka aja." Riko melihat para karyawan yang sedang melayani pembeli.
"Enak aja, inikan spesial kamu beli buat aku." Rere dengan mata berbinar Rere membuka bungkusan berisi kan rujak pesanan yang dia minta.
"Tentu saja untuk istriku tersayang, mana mungkin aku membelikan untuk orang lain."
Mata Rere memincing mendengar ucapan sang suami. "Jadi kamu ada niatan untuk membelikan orang lain?" Tanyanya dengan mengintimidasi sang suami.
Riko menggaruk kepalanya yang tak gatal, kali ini ucapannya bumerang bagi dirinya sendiri.
"Mana mungkin sayang , itu tidak akan pernah terjadi."
"Cih, awas aja kalau sampai ketahuan aku potong naga ajaib mu itu." Rere mendelik, sedangkan Riko reflek menutupi naga ajaibnya.
'Ya tuhan aset masa depan terancam.' Batin Riko.
Melihat Rere yang makan dengan lahap rujak yang dia bawa, Rico ikut tersenyum.
"Enak sayang?" Tanya Riko yang merasa ngilu sendiri melihat cara makan Rere, yang memakan buah mangga muda. Dari aromanya saja sudah tercium asam.
"Em.." Rere mengangguk mantap.
"Jangan banyak-banyak kasihan bayi kita nanti kepedasan, didalam sana." Riko mengelus perut Rere.
"Ini tidak pedas By, rasanya persis seperti buatan ibu." Ucap Rere di sela-sela mengunyah buah rujak.
Dengan lahap Rere memakan rujak itu, dimana saat ini benar-benar merasakan ngidam yang sesungguhnya.
__ADS_1