
Rere yang sudah kembali ke dalam ballroom hotel kembali di buat terkejut ketika melihat Bram juga berada disana sedang berbincang dengan Riko dan pemilik pesta.
Meskipun begitu Rere tidak terlalu peduli karena memang dirinya hanya sebatas mengenal Bram.
"By.." Rere berdiri disamping Riko.
"Sudah selesai?" Tanya Riko, tapi matanya menangkap sesuatu yang membuat dadanya panas.
"Hm.." Rere hanya berdehem, dirinya masih terbawa suasana hati yang kesal, dengan perlakuan Zidan.
Bram yang masih mengobrol pun menoleh, dirinya sangat familiar dengan wanita yang membelakangi dirinya.
"Maaf, apa kamu Rere?" Tanya Bram pada wanita yang berdiri membelakanginya.
Riko yang mendengar pun malah semakin panas.
Rere yang ingin berbalik pun langsung di tarik Riko. "Maaf kami kesana sebentar." Ucap Riko pada kedua pria yang sedang menatapnya heran.
"By..mau kemana?" Rere mengikuti langkah lebar Riko hingga kakinya sedikit kesusahan dan tersandung.
"Auws.." Rere yang tersandung kakinya sendiri jatuh di lantai, beruntung di tempat itu sudah sepi karena mereka sampai di luar ballroom.
"Sayang kamu tidak apa-apa." Riko membantu Rere berdiri, dirinya merasa bersalah karena sudah menarik Rere mengikuti langkahnya yang cepat padahal Rere menggunakan gaun panjang dan hills tinggi.
__ADS_1
"Lepas..!" Rere menyentak tangan Riko ketika pria itu ingin membantunya berdiri.
"Sayang, maaf kan aku." Riko masih berusaha membantu Rere tapi tetap saja tangannya di tepis kasar oleh nya.
"Sudah puas melihatku jatuh haha." Rere menatap tajam Riko setelah dirinya berhasil berdiri sendiri, meskipun kakinya terasa nyeri.
"Hon..aku tadi hany_"
"Kamu sama saja dengan pria kurang ajar itu." Rere mengumpat Riko dengan kesal. "Sama-sama keterlaluan." Rere melepas hills yang dia pakai dan menaikkan bawahan gaun yang Ia kenakan agar dirinya leluasa berjalan apalagi kakinya terasa nyeri.
"Honny, aku minta maaf, bukan maksudku membuat mu jatuh, aku hanya ingin bertanya, kenapa lipstik di bibir mu berantakan, apakah ada yang melecehkan mu tadi." Ucap Riko dengan cepat karena Rere masih saja berjalan dengan tertatih-tatih.
Seketika langkah Rere berdiri dengan kedua tangannya mengepal meskipun sedang memegangi hills dan baunya.
Dada Riko semakin bergemuruh, kedua tangannya mengepal kuat, tatapan matanya berubah tajam mencekam.
Riko mencemarkan kedua lengan Rere. "Katakan apa saja yang dia lakukan, katakan Re katakan..!!" Riko menatap tajam kedua mata Rere, membuat mata Rere menjatuhkan air matanya.
"Apa dia menyentuh ini." tangannya mengusap pipi Rere.
Rere hanya menggeleng. "Disini...?" Riko mengelus leher Rere. "Atau disini.." Riko menunjuk dada Rere dengan jari telunjuknya. Dan Rere hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Riko.
"Hanya disini." Ibu jarinya mengelus bibir Rere yang lipstik nya sudah melebar kemana-mana.
__ADS_1
"Hm.." Rere hanya bergumam dengan mata tak lepas dari wajah Riko.
Cup
Riko menyapu permukaan bibir Rere dengan lidahnya, mellumat benda kenyal itu bergantian seakan sentuhannya penghapus noda yang baru saja mengotori bibir candunya itu.
Terbawa suasana Rere meleguh ketika lidah Riko menerobos masuk untuk mengapsen rongga mulutnya dan lidah keduanya pun saling membelit satu sama lain.
"Emph.." Rere mendessah ketika bibir nya digigit kecil dan disesap begitu kuat.
"Sudah tidak ada bekas dia lagi disini." Riko menatap bibir Rere yang sedikit bengkak, jarinya mengelus bibir Rere. "Katakan apapun yang dia lakukan sama kamu, jangan pernah tutupi apapun dari aku, kamu mengerti."
Rere hanya mengangguk. "Baiklah ayo kita pulang."
Riko langsung membopong tubuh Rere. "By.." Tangannya langsung melingkar di leher Riko. "Maaf sudah membuat kakimu terluka." Riko mengecup kening Rere yang berada di gendongan nya.
"Maaf juga sudah bicara kasar sama kamu By.."
Keduanya berjalan menuju dimana mobil nya terparkir, tidak perduli jika mereka tidak pamit dengan yang punya acara karena keduanya sudah tidak mood lagi untuk melanjutkan pestanya.
Tak jauh dari mereka seorang pria mengepalkan tangannya dengan kuat, tatapannya begitu tajam menatap punggung dua orang yang baru saja bercumbu mesra di depan matanya.
Zidan yang sejak tadi melihat dan mendengar pembicaraan keduanya menjadi geram, dirinya seperti tak dihargai dengan istrinya yang di sentuh pria lain, bahkan dirinya sama sekali belum menyentuhnya, dan malah membuat aset nya menjadi nyeri karena ulah Rere.
__ADS_1
"Tidak akan aku biarkan kalian bersama." Zidan tersenyum iblis.