PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part97


__ADS_3

Empat bulan kemudian....


Kandungan Rere sudah memasuki tujuh bulan, dimana mereka sudah mengetahui jenis kelamin bayi mereka yaitu laki-laki. Riko yang mengetahuinya senang bukan kepalang, apalagi ini adalah putra pertamanya.


Bukan hanya Riko, Rere dan kedua orang tuanya ikut senang dan bahagia, nyatanya kehidupan di sekitar Rere yang tidak ada tekanan membuat Rere mendapatkan anak. Mungkin ketika di Jakarta Rere yang terlihat biasa saja, tapi merasa tertekan dan stres, dan itu mempengaruhi hormon untuk mendapatkan anak.


Hari ini Rere mengajak ibunya untuk membeli perlengkapan bayinya, dimana kurang dari dua bulan lagi dia akan melahirkan.


"Bu, apa saja yang harus dibeli?" Tanya Rere pada Fitri, karena dirinya memang belum tahu, dan tidak mau mencari tahu lewat ponsel pintarnya. Pikirnya ada sang ibu yang akan membantunya.


"Kita kesebelah sana." Fitri menunjuk tempat popok-popok bayi.


"Ya Tuhan, kenapa semua lucu-lucu." Mata Rere berbinar melihat beberapa pakaian bayi yang lucu dan unik.


"Bu coba lihat, ini sangat lucu." Rere menunjukan satu set pakaian bayi.

__ADS_1


"Re, apa kamu tidak ingat jenis kelamin anakmu?"


Rere mengangguk. "Laki-laki Bu." Ucapnya polos.


"Lalu kenapa kamu menunjukan baju warna pink." Fitri hanya geleng-geleng kepala.


Rere menyengir dan mengembalikan baju itu kembali ke gantungan.


Mereka berbelanja kebutuhan untuk si kecil, bahkan Rere juga melalaikan Vidio call pada Riko hanya untuk minta pendapat memilih warna ataupun model, jika dirinya bingung.


Rere begitu sangat antusias mempersiapkan semua keperluan bayinya, dirinya juga mengikuti kelas yoga agar lancar dalam persalinan nanti.


"Lik, apa kamu tidak mau memberi tahu Om dimana Riko tinggal? Sudah lebih satu tahun mereka tidak memberi kabar?" Tanya Harlan di depan Felik dengan wajah memelas.


Dulu Riko memang tinggal di Paris cukup lama, tapi mereka masih berhubungan komunikasi setiap saat, jadi Harlan tidak merasa kehilangan putranya. Dan sekarang dirinya benar-benar ingin bertemu putranya.

__ADS_1


"Riko berada di Paris Om." Ucap Felik akhirnya, dirinya juga tidak tega melihat Harlan yang sangat ingin bertemu Riko.


"Paris?"


"Iya Om, Riko mengelola perusahaan yang kami rintis di sana, tapi di bisnis ini Riko lah yang berperan paling banyak, dan Alhamdulillah perusahaan di Paris sekarang semakin berkembang." Terang Felik membuat Harlan tak percaya.


"Bagaimana bisa dia mendirikan perusahaan disana?"


"Om masih ingat, saham yang di jual di Paris?" Tanya Felik, dan Harlan mengangguk.


"Itu Riko beli dengan menggunakan nama saya." Felik menatap Harlan. "Riko hanya ingin membuat perusahaan kelak untuk anak atau istri nya, dan dia tidak ingin hanya menerima harta dari keluarga, apalagi om tahu sendiri bagaimana terakhir kali Tante Harna mempermalukan istrinya dengan menuduh Rere hanya ingin memiliki kekayaan Riko."


Harlan mengangguk membenarkan, bibirnya menyunggingkan senyum. "Om bangga sama dia Lik, kalau begitu kamu hendel semua pekerjaan, om akan mengunjungi mereka di Paris."


"Mungkin sekarang waktunya yang tepat Om, dan di sana om akan mendapat kejutan." Felik tersenyum lebar, mengingat jika Rere sedang hamil besar. Dimana sahabatnya itu sangat bahagia menyambut kehamilan sang istri, bahkan Riko sering mengeluh pada nya, soal ngidam Rere yang terkadang membuatnya pusing.

__ADS_1


Harlan yang mendengar putranya memiliki kehidupan yang baik pun juga bahagia, selama ini dirinya selalu memikirkan kehidupan putranya, bahkan mereka pergi membawa kedua orang tua Rere, dan itu membuat Harlan sedih. Mereka bisa lebih dekat dengan putranya di banding kan dirinya sebagai orang tua kandung nya.


__ADS_2