PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part85


__ADS_3

"Pagi.." Riko menyapa kedua mertua dan juga istrinya yang sedang menyiapkan sarapan pagi mereka.


"Pagi Rik.." Sapa Fitri.


"Pagi By." Rere tersenyum, Riko merangkul pinggang Rere dan mengecup pipinya.


Ehem


Deheman Hilman hanya membuat Riko melirik sekilas, dirinya sudah kebal jika di tatap julid oleh ayah mertua karena bermesraan di depannya.


"By, persediaan bahan makanan belum lengkap hanya ada ini." Rere menunjukan omelette di atas piring.


"Tidak apa, nanti siang aku antar kamu belanja."


"Ayah ibu, bisa memakan ini kan, mungkin mendapatkan makanan seperti di Indonesia sedikit sulit untuk disini, tapi jika bahan makanan masih bisa di dapatkan." Terangnya pada kedua mertuanya, mereka pasti menyesuaikan lidah mereka, jika harus memakan makanan asing pasti mereka merasa aneh.


"Tidak apa nak, lama-lama pasti kami akan terbiasa." Fitri tersenyum, menantunya mungkin bukan pria baik dan sempurna. Tapi pria itu bisa merubah keburukannya menjadi kebaikan, dan Fitri sangat mensyukuri itu. Apalagi Riko rela jauh dari keluarga demi putrinya dan rumah tangganya.


Setelah selesai sarapan mereka semua berangkat menuju tempat kerja masing-masing.


Riko yang berangkat ke kantor bersama Miko. Rere berjalan dengan kedua orang tuanya menuju toko bunga dan toko kue.


Menjalani hari-hari bersama dengan orang yang di sayangi dan di cintai membuat Rere bahagia, bahkan dirinya selalu di buat tersenyum dan tertawa oleh mereka.


Dan sekarang dirinya bisa melupakan rasa sakit hati dan tekanan batin yang pernah Ia alami. Kini Rere bisa hidup seperti yang di inginkan, dimana tidak ada orang yang bisa menghina dan mencemoohnya karena belum bisa hamil.


Di kehidupan dan tempat baru ini semoga memberi nya kebahagiaan dan keinginan nya terwujud.


.


.


.


Toko bunga...


Miranda yang mendadak di tinggalkan bosnya kini dirinya membuka lowongan baru untuk membantunya, dan itupun Rere sendiri yang menyuruhnya lewat pesan chat, Rere mempercayakan toko bunga yang berada di Jakarta kepada Miranda dan di kota B kepada Bella.


Untuk hasil terserah mereka, karena baik Rere sendiri tidak terlalu memikirkan hal itu yang penting kedua tokonya tetap buka dan tetap berjalan, karena untuk Miranda sendiri Memang butuh pekerjaan.


Prang


Suara pecahan pot yang di banting seseorang membuat Miranda dan dua pembeli di dalam terkejut.


"Lis ada apa?" Tanya Miranda menghampiri Lisa rekan kerjanya yang sedang menunduk takut.


"Bapak..!! Apa yang bapak lakukan." Hardik Miranda melihat bapaknya yang membuat keributan di depan toko.

__ADS_1


"Bapak hanya mau minta bunga itu, tapi dia tidak memberikannya, dan malah menyuruh bapak membayarnya." Ucap pria berusia hampir lima puluh itu, Jamal ayah Miranda.


"Bapak yang salah, di sini bunga nya di jual bukan untuk diminta-minta." Ucap Miranda dengan kesal.


"Kamu berani sama saya." Jamal mengangkat tangan nya hendak memukul Miranda.


"Pukul pak kalau mau pukul, bapak cuma mau buat Miranda di pecat dan gak bisa kasih uang ke bapak hah..?! itu yang bapak mau." Miranda berteriak, dirinya tidak peduli dengan beberapa orang yang melihatnya.


"Bapak tidak peduli dengan aku yang setiap hari banting tulang hanya untuk memberi uang sama bapak untuk bermain judi dan mabuk-mabukan." Miranda menatap tajam Jamal dengan napas memburu, dirinya sudah muak dan lelah menjadi mesin uang untuk ayahnya bermain judi dan mabuk-mabukan.


"Kamu sudah berani berteriak dan memakiku hah..dasar anak kurang ajar tidak tau diri." Jamal melayangkan tangannya untuk memukul Miranda, tapi sebelum menyentuh Miranda tangannya sudah lebih dulu di tahan oleh seseorang.


Miranda yang memejamkan matanya tidak merasakan pukulan ataupun rasa sakit, dirinya perlahan membuka mata.


"Jangan kasar dengan perempuan tuan." Ucap Bastian dengan suara dingin. Tangannya mengempiskan tangan Jamal.


"Siapa kamu berani ikut campur." Jamal menatap Bastian sengit. "Ini urusan saya, dengan anak saya kamu tidak perlu sok jadi pahlawan."


Miranda hanya diam, dengan Lisa yang memeluk lenganya. Beberapa pembeli langsung pergi karena tidak ingin terkena sasaran kemarahan.


Bastian tersenyum miring. "Jika anda ayahnya maka anda tidak pantas di sebut seorang ayah. Karena seorang ayah tidak akan menyakiti putrinya sendiri." Suara Bastian terdengar tegas.


"Cih, sok nasehatin kamu anak muda." Jamal menatap Bastian remeh.


"Dari pada kamu sibuk nasehati saya, lebih baik kamu beri saya uang." Jamal yang melihat penampilan Bastian seperti orang kaya tidak menyia-nyiakan kesempatan.


"Beri bapak uang dulu, bapak tau kamu hari ini gajian dan sudah kewajiban kamu memberi uang kepada bapak karena sudah merawatmu sejak kecil." Ucap Jamal dengan menyodorkan tangannya, meminta uang kepada Miranda.


"Tapi pak Mira butuh uang itu."


"Ck. tidak ada tapi-tapi mana?" Jamal masih menyodorkan tangannya.


Mau tidak mau Miranda mengeluarkan uang dari saku celananya.


"Ah..lama.." Jamal merebut semua uang yang berada di tangan Miranda.


"Jangan semua pak, itu untuk makan kita selama sebulan." Ucap nya dengan nada mengiba.


"Kamu cari lagi, dan jangan lupa cari yang banyak." Jalan menatap Bastian dengan wajah sombongnya


Dan mengibaskan ulangnya di depan wajah Bastian.


"Mbak yang sabar." Ucap Lisa mengelus punggung Miranda, Lisa tahu perasaan Miranda pasti sangat sedih.


Ehem


Bastian berdehem untuk membuat kedua wanita itu sadar jika ada dirinya di sana.

__ADS_1


"Eh..mas mau beli bunga." Ucap Lisa yang melihat pria tampan berpakaian rapi.


Bastian menatap Miranda yang sama sekali tak melihatnya.


"Ya, buatkan saya buket bunga Lily." Ucap Bastian masih menatap Miranda yang berdiri diam.


"Baik, tunggu sebentar." Lisa meninggalkan kedua masuk kedalam.


Miranda yang merasa di perhatikan berbalik dan ingin pergi.


"Tunggu dulu." Bastian mencekal tangan Miranda.


"Terima kasih sudah membantu saya, tapi maaf lain kali tidak perlu melakukan hal itu lagi." Ucap Miranda dengan wajah datar. Tanpa melihat wajah Bastian.


"Kamu masih ingat aku." Ucap Bastian dengan suara pelan. "Aku Tian, Bastian yang dulu menja_"


"Maaf saya tidak mengenal anda tuan." Ucap Miranda ketus dan berlaku pergi dari hadapan Bastian.


Dada Bastian terasa tersentil melihat sikap Miranda yang berbeda jauh ketika dulu masih bersamanya.


Bastian menyadari keberadaan Miranda ketika mengantarkan Felik ke toko bunga istri teman nya itu, dan Bastian tidak sengaja melihat Miranda yang sedang berinteraksi dengan Felik waktu itu.


Ya, Bastian masih ingat dengan Miranda kekasihnya dulu selama satu bulan, gadis yang baru saja masuk SMA dan pertama kali jatuh cinta kepada dirinya.


Dan Bastian sendiri sudah menjadi mahasiswa di waktu itu, dan Bastian pun mengambil kesempatan itu untuk gadis sepolos Miranda.


Bastian yang akan pergi ke LN untuk melanjutkan kuliahnya di sana, meminta Miranda memberikan sesuatu yang berharga milik Miranda, dan karena gadis itu benar-benar mencintai Bastian dan tidak ingin kehilangan pria yang dicintai, maka dengan sadar Miranda memberikan kesuciannya kepada Bastian.


Dan setelah kejadian itu Miranda tidak lagi mendengar kabar ataupun bertemu dengan Bastian, meskipun dirinya berusaha mencari tapi tetap bertemu. Dan Miranda mengetahui jika Bastian pergi ke LN sore hari setelah semalaman bersama dirinya di kamar hotel.


"Ini mas bunganya." Ucap Lisa menyadarkan lamunan Bastian.


"Oh, iya terima kasih." Bastian memberikan lembaran uang kepada Lisa.


"Terim kasih." Lisa hendak pergi tapi di cegah Bastian.


"Maaf, bisa berikan bunga ini pada Miranda." Bastian memberikan bunga yang Ia beli tadi pada Lisa.


"Katakan saja dari Tian."


.


.


Aku selipin kisah Bastian yang dulu pernah nakal, dan sekarang dirinya tobat karena merasa bersalah dengan seorang gadis yaitu Miranda.. Berbeda dengan Riko dan Felik yang suka teh celup, Bastian sendiri bahkan hanya pernah satu kali bermain teh celup dan itu hanya dengan Miranda.🤣


Pernah aku spil di awal cerita, tapi lupa bab berapa 🤣🤣🤣🙏

__ADS_1


__ADS_2