
"Alhamdulillah kenyang, meskipun makanan nya tak seenak masakan ibu." Ucap Hilman dengan mengelap bibirnya menggunakan tisu, setelah selesai makan.
Semua yang di sana melongo, mendengar ucapan Hilman, dan melihat kenyataan di depan mereka.
"Kenapa wajah kalian ekspresi nya begitu?" Tanya Hilman yang melihat wajah-wajah cengo di depan nya.
Riko menggaruk kepalanya yang tak gatal, dirinya heran dengan ayah kekasihnya yang seper wow ini. Karena ketika menjalin hubungan dengan Rere Riko hanya sekali bertemu karena meminta ijin untuk meminang Rere selebihnya mereka tidak saling akrab.
"Ayah sudah kenyang." Tanya Fitri dengan tatapan horornya.
"Tentu saja, kenyang...orang makanan nya enak-enak kok, apalagi gratis." Ucap Hilman melengos karena melihat tatapan horor dari istrinya.
"Bagus, jika sudah selesai mari kita keluar." Fitri menyeret Hilman keluar lebih dulu dari restoran itu.
"By, maafin ayah ya." Wajah Rere mendadak memelas. Dirinya merasa malu karena kelakuan papanya yang begitu membuat nya malu.
"Kenapa minta maaf." Riko tersenyum, senyum yang tulus. "Anggap saja pendekatan pada calon mertua dari awal." Ucap Riko dengan tawa.
"Kok malah ketawa sih." Rere menatap Riko heran.
Riko masih meledakkan tawanya hingga sudut matanya berair.
"Sayang, sejak tadi aku menahan tawa melihat ayah mu, bikin aku sakit perut."
Bugh
"Jahat kamu By, ngetawain orang tua." Rere memberengut dengan mengerucutkan mulutnya.
Cup
"By.." Teriak Rere ketika Riko mengecup bibirnya sekilas.
Sedangkan yang di teriaki, sudah kabur melesat menuju kasir.
.
.
.
Sesampainya di apartemen Riko membuka pintu apartemen nya dengan kartu card yang di bawanya, karena satunya di bawa Rere.
"Silahkan Om, Tante." Ucap Riko mempersilahkan mereka masuk.
__ADS_1
Rere masih memanyunkan bibirnya kesal ketika melintasi Riko.
Dengan sengaja Riko menoel pinggang Rere dan membuat gadis itu menjerit kaget.
"Ada apa Re?" Tanya Fitri yang menoleh ke belakang ketika mendengar jeritan putrinya.
"Em..itu_"
"Hanya kejepit tangannya Tante." Riko menyambar tangan Rere untuk di tiup, pura-pura kejepit.
Rere mendelik tajam, sedangkan Riko tersenyum menyeringai.
"Kalian itu ada-ada saja." Fitri kembali berjalan, namun tidak dengan Hilman.
Plak
"Jangan nyari kesempatan, modus kamu itu." Hilman menarik tangan Rere ketika Riko melepaskan genggaman tangannya saat di geplak kepalanya oleh Hilman.
Rere menoleh ke belakang dan menjulurkan lidah mengejek Riko 'Syukurin' wlee.
Riko mendengus kasar, dirinya tidak bisa berdekatan dengan Rere seperti biasanya karena ada satpam yang siap dua puluh empat jam jaga.
Sialan.
"Ini kamar Om dan Tante." Ucap Riko dengan membuka kamar tamu di sebelah ruang tv, sedangkan kamarnya berada sekitar dua meter dari kamar tamu itu.
"Rere biasa tidur dengan saya Om." Ucap Riko santai, tapi setelah melihat tatapan tajam Hilman membuat nya meralat ucapanya. "Maksudnya Rere bisa tidur di kamar saya." Riko menelan salivanya kasar.
Hilman hanya manggut-manggut.
"Jika perlu apa-apa, anggap saja seperti rumah sendiri Om."
"Ya sudah sana, awas kalau kalian macam-macam, dan ingat kamu tidur di sofa." Hilman memperingati Riko dengan jari telunjuknya.
"Emm..ba-baik om." Riko pun pergi dengan wajah frustasi.
"By kamu kenapa?" Tanya Rere yang keluar dari kamar Riko sudah mengganti pakaiannya.
"Honny..." Riko langsung memeluk tubuh Rere merengek seperti bayi.
"Iss..kenapa sih." Rere mencoba menjauhkan kepala Riko dari ceruk leher nya, tapi Riko malah semakin mengeratkan pelukannya. 'Modus mumpung gak ada yang liat'.
Riko semakin memeluk Rere erat, menghirup aroma rambut Rere yang selalu membuatnya candu.
__ADS_1
"Boleh ya malam ini aku tidur sama kamu." Ucap Riko setelah menarik kepalanya untuk melihat Rere.
Rere masih diam, mendadak aneh dengan kelakuan Riko.
"Kamu kenapa sih, sakit." Rere menempelkan punggung tangannya pada kening Riko.
Pluk
Riko menepak kening Rere. "Kok malah mukul sih." Rere mengelus keningnya dan menatap sengit Riko.
"Aku ngomong apa, kamu jawab nya apa..bikes tau." Riko melepas pelukannya dan berjalan menuju dapur mini di apartemen itu.
Mengambil air dingin untuk Ia minum.
"Lah, memang nya kenapa, biasanya kamu gak pernah tanya By." Rere ikut duduk di depan Riko, jarak mereka terhalang meja makan.
Riko mendengus kasar. "Ini tidak biasa Hon, ada kedua orang tuamu membuatku tak bebas, apalagi besok sudah pulang ke Jakarta, pasti tidak bisa tidur meluk kamu lagi." Ucap Riko panjang, dirinya merasa berat.
"Ck. justru kamu seharusnya senang donk, aku pulang ke Jakarta jadi kamu tidak bolak-balik kesini." Rere menatap Riko intens.
"Ya..ya iya..tapikan itu.."
Ehem
Suara deheman keras membuat kedua orang itu menoleh.
"Kalian sedang apa?" Hilman mendekati keduanya dengan wajah mengintimidasi Riko.
"Om lihatnya sedang apa?" Ucap Riko sepontan.
"Sopan kamu sama orang tua." Ucap Hilman membuat Riko menutup mulutnya rapat-rapat.
"Ayah, jangan galak-galak ihh...nanti cepet tua." Ucap Rere mencoba membuat ayahnya biasa saja.
"Ayah sudah tua, dan sudah pantas mendapat cucu, tapi kami malah sudah janda sebelum memberi cucu."
Rere menunduk. "Maaf yah."
"Ya sudah kalau begitu kamu akan ayah jodohkan dengan pria yang lebih baik dari Zidan itu." Ucap Hilman tanpa permisi, tidak ada hujan tidak ada angin.
Jeder
"What..!!
__ADS_1
"You're crazy, I'm the one who made your child a widow, but someone else got it..." Pekik Riko tak terima.
Anda gila, saya yang sudah membuat anak anda menjanda, tapi malah orang lain yang mendapatkannya...