PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part100


__ADS_3

"Maaf umi, Miranda tidak mendapat bantuan." Ucap Miranda yang sudah kembali masuk ke dalam.


"Tidak apa nak, sebaiknya kita tunggu sampai subuh, nanti umi akan menghubungi Fikri untuk mengantar kita ke rumah sakit." Umi Salamah mengompres kedua nya, agar panas nya tidak semakin tinggi.


Miranda hanya menatap sendu, dirinya terpaksa berbohong dengan umi Salamah, karena tidak ingin berdekatan lagi di dengan Felik.


Dirinya sengaja berbohong agar Felik tidak lagi mendekatinya. Cukup sadar diri jika dirinya bukan wanita baik dan tidak ingin membuat kedua sahabat itu bertengkar.


Biarlah dirinya hidup dengan keadaan seperti ini, dimana dia akan merawat dan membesarkan anaknya.


Felik masih diam berdiri dengan bersandar di badan mobil, dirinya tidak beranjak dari tempat tadi.


"Kamu pasti bohong hanya untuk menghindari ku Mir." Gumamnya dengan suara pelan.


Dirinya tidak percaya jika Miranda sudah menikah, apalagi mereka tidak bertemu hampir enam bulan, dan melihat perut Miranda yang sudah terlihat besar Felik memiliki pemikiran lain.


Allahu Akbar, Allahu Akbar..


Suara azan subuh sudah berkumandang, sebagian orang keluar untuk mendatangi Mushola ataupun masjid.


Felik yang masih berdiri di luar, terpaksa masuk ke dalam mobil.


Setelah melaksanakan kewajiban mereka, Fikri yang Umi Salamah mintai tolong datang ke yayasan. Pria yang umurnya tidak jauh dari Miranda, terlihat sedang membantu menggendong Faiz masuk ke dalam mobil.


"Umi, tunggu sini biar Miranda ambil barang mereka dulu." Miranda kembali masuk ke dalam dimana Fikri yang baru saja keluar dan mengendong Aisyah.

__ADS_1


"A' Tunggu sebentar ya.." Miranda berpapasan ketika ingin masuk.


Felik yang sempat tertidur lagi karena menunggu lagi, kini dirinya terbangun karena bunyi ponselnya.


"Ck. ganggu saja." Kesalnya ketika melihat pesan masuk hanya dari operator.


"Umi ini..Aakh.!!" Miranda berteriak ketika kakinya tak sengaja kesandung, beruntung Fikri langsung menolong Miranda dengan merangkul pinggangnya.


"Hati-hati Mir." Jantung Miranda terpompa dengan cepat, dirinya syok dan takut.


"Terima kasih A." Tangannya menyentuh dadanya, jantungnya seperti ingin terlepas.


"Maafin Mama nak." Gumamnya dengan mengelus perutnya.


"Tidak A, hanya masih syok." Miranda mencoba menetralkan napasnya.


"Yasudah ayo masuk." Fikri membukakan pintu mobil untuk Miranda.


Dan kejadian barusan membuat Felik mengepakkan tangannya. Dimana dirinya melihat Miranda yang sedang berpelukan dan melihat perhatian pria itu ketika membantu Miranda membukakan pintu mobil.


Karena Felik tidak melihat ketika Fikri keluar masuk menggendong anak, yang di lihatnya hanya kejadian di mana Miranda akan jatuh.


.


.

__ADS_1


.


Bastian yang sedang berada di kota B, sudah tidak lagi memikirkan Miranda di mana wanita itu seperti hilang di telan bumi, Bastian merasa jika dirinya perhatian kepada Miranda hanya karena rasa bersalahnya, dan dia tidak memiliki rasa cinta kepada Miranda.


"Sayang..." Seorang wanita masuk ke dalam rumah kerjanya, dengan senyum lebarnya.


"Kamu masih sibuk?" Perempuan itu langsung duduk di pangkuannya.


"Lumayan." Bastian langsung melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu.


Wanita itu mengecup bibir Bastian sekilas. "Ayo kita pergi, aku udah pesan tempat untuk kita makan siang." Wanita itu mengelus pipi Bastian.


Bastian menatap wajah wanita di depannya, dirinya dekat dengan seorang wanita baru dua bulan ini.


"Emph.." Karena tidak tahan melihat bibir merah wanita itu Bastian melumattnya dengan kasar.


Sudah dua bulan Bastian menyalurkan hasratnya pada kekasihnya itu, karena dirinya tidak ingin menyewa wanita malam, lebih baik dirinya mencari pacar dan memakainya sesuka hati. Setelah dirinya puas maka akan Ia ganti dengan yang baru.


Perubahan Bastian memang sangat drastis, apalagi semua hotelnya mengalami kemajuan pesat, dan membawa dampak terutama pada kehidupan pribadinya.


Bastian mengangkat wanitanya di atas meja, tanpa melepaskan cumbuannya.


"Em.." Wanita itu mengeliat ketika inti tubuhnya di serang oleh Bastian.


Keduanya sedang di kuasai gairah dimana tidak perduli jika mereka sedang ada di mana.

__ADS_1


__ADS_2