PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part62


__ADS_3

Seperti yang sudah mereka rencanakan, makan siang kali ini dalam formasi lengkap. Semua berkumpul bahkan Rania sengaja pulang setelah mata kuliahnya selesai, padahal biasanya gadis itu lebih suka menghabiskan jam istirahat di kantin sekolah.


Tak lupa Rania juga mengajak tunangannya yaitu Raka.


"Papa senang melihat keluarga kita bisa berkumpul seperti ini." Harlan bicara di sela-sela makanya.


"Iya pah, mama juga senang.. apalagi melihat anak-anak sudah menemukan kebahagiaan nya, hanya menunggu Rania beberapa Minggu lagi untuk di persunting."


Rencana pernikahan Rania memang sudah direncanakan sejak lama, sebelum Riko mengutarakan keinginannya untuk menikahi Rere.


Karena tidak ingin menunggu lama Riko gerak cepat untuk mempersunting Rere ketika sudah mengantongi restu ayah Rere.


"Bagaimana pekerjaanmu Rik, apa semua lancar?" Tanya Harlan pada putranya, Harlan memang sudah pensiun sejak Riko menggantikannya, dan kini dirinya sibuk dengan klub motor besar ataupun tour dengan mobil antik.


Karena itu Harna sering kali kesepian jika suaminya pergi dengan para rombongan klub nya, dan Harna lebih memilih bergaul dengan tetangga dan teman sosialitanya.


"Baik pah, malahan Riko dan Felik sedang menangani proyek pembangunan wahana di bagian selatan." Ucapnya dengan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


Mereka makan dengan diselingi obrolan ringan, hingga tidak membaut makan siang itu terasa sunyi.


Rania hanya menyimak dirinya juga mengobrol dengan Raka, meskipun saling berbisik.


"Raka sampai mana persiapan kalian?"


"Eh.." Raka yang sedang asik berbisik pun menjadi gelagapan ketika bertanya.


"Sudah siap lahir batin Om." Ucapnya tanpa ragu.


Plak

__ADS_1


Rania menggeplak lengan Raka kuat.


"Aduh yank, sakit tau." Raka mengelus lengannya yang habis di pukul Rania.


Riko dan Rere sudah tertawa, Harlan dan Harna hanya geleng kepala.


"Kalau ngomong di pikir dulu, di tanya apa jawabnya apa.." Rania mendelik.


"Lah, kan memang bener, persiapan ku ya siap lahir batin, apa nya yang salah? Iya gak kak..?" Tanya nya menatap Riko.


Riko mengangkat kedua bahunya tidak tahu.


"Dasar neraka jahanam." Umpat Rania kesal.


Raka hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Serba salah nih kayaknya."


.


.


Sedangkan Rania sudah pergi lebih dulu bersama Raka.


"Hm.. hati-hati." Ucapnya dengan senyum.


"Harus tahan sampai malam ini." Gumam Riko yang melihat senyum manis sang istri.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Si naga mau minta jatah, tapi masih nunggu nanti malam." Ucapnya polos.


Rere mendelik mendengar ucapan Riko. "Iss.. siang-siang otak kamu mesum By."


"Mesum sudah halal ini, sah-sah saja."


"Tapi otak mesum kamu gak pandang halal dan sah." Rere memanyunkan bibirnya.


"Hahaha...kamu benar Honny." Riko tertawa.


"Iss..malah ketawa."


Riko memajukan wajahnya. "Habis kamu lucu." Ucapnya dengan suara lirih dan semakin mendekatkan wajahnya.


"Memangnya aku badut." Bibirnya Ia monyong kan.


Cup


Dengan cepat bibir Riko menyambar bibir yang sejak tadi sudah menggodanya.


"Emph.." Rere menggerang dalam cumbuan kasar Riko, ketika lidah nya disesap begitu kuat.


"Jangan suka menggodaku dengan ini." Jarinya mengusap bibir Rere. "Tidak kamu goda pun aku sudah terpancing, apalagi kalau kamu goda." Ucapnya dengan napas hangat menerpa wajah Rere.


"Hm..sudah sana berangkat." Wajah Rere bersemu mendapat tatapan mata yang penuh cinta.


"Rasanya ingi berangkat ke atas kasur saja, lebih baik sibuk olah raga ranjang yang bisa menghasilkan orok." Ucapnya mengusap wajahnya kasar.


"Dasar pria mesum." Rere mencubit pinggang Riko.

__ADS_1


"Aduh yank, sakit..!!"


Bukanya Segera berangkat keduanya malah asik bercanda.


__ADS_2