
Riko menunggu di balik pintu dengan mondar mandir merasa cemas dan penasaran.
'Ya tuhan semoga kau kabulkan doa kami.'
Tak lama Rere membuka pintu kamar mandi, dengan wajah menunduk.
"Honny, bagaimana?" Tanya Riko antusias.
Rere hanya menunjukan tespeck yang baru saja dia pakai, dan sudah terlihat hasilnya.
"Hon..Ini.."
Rere yang di tatap langsung memeluk tubuh suaminya.
"Honny.." Riko membalas memeluk erat Rere dan menciumi kepala istrinya.
"Aku hamil By." Rere menangis terisak di dalam pelukan, Riko dirinya tidak percaya dengan yang di lihat, setelah mencoba ternyata muncul garis dua.
"Iya, sayang..terima kasih." Riko mengurai pelukannya dan berjongkok di depan perut Rere.
"Disini ada anak kita." Tangannya mengelus perut Rere, matanya sudah berkaca-kaca.
Rere mengangguk dengan air mata bahagia yang mengalir di kedua matanya.
"Ya..tuhan terima kasih." Riko menciumi perut Rere berulang kali.
Keduanya larut dalam tangis, tangis bahagia yang mengiringi kesedihan mereka selama ini, dimana Rere yang selalu di katakan tidak bisa memiliki anak. Dan kini wanita yang pernah mereka hina dan permalukan menjadi wanita paling bahagia saat ini, dimana Tuhan telah menitipkan anugerah yang selama ini mereka dambakan.
Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Tuhan telah menggariskan takdir hidup masing-masing bagi hambanya.
Pagi-pagi di ruang makan sudah menjadi tempat tangis haru, dimana Riko yang memberi tahu kedua mertuanya jika Rere benar sedang hamil, dan karena ucapan Riko Fitri memeluk dan menciumi putrinya itu dengan tangis bahagia. Dimana seorang ibu yang selalu mendoakan putrinya dengan tulus dan sepenuh hati, dan kini doa sang ibu di jamah oleh tuhan, di mana putrinya di kasih kepercayaan untuk hamil.
Hilman memeluk kedua wanita yang berarti bagi hidupnya, dirinya juga sampai meneteskan air mata, dimana ingat di saat Riko bercerita jika putrinya di permalukan didepan umum oleh mertuanya, dan sebagai seorang ayah, Hilman juga merasa sedih.
"Selamat ya nak, jaga kandungan kamu." Fitri tak henti meneteskan air mata, jangan lupakan Rere yang sudah terisak di dalam pelukan sang ibu.
Riko yang melihat itu menjadi terharu, bibirnya melengkung dengan senyum, tapi matanya berkaca-kaca. Andai saja kedua orang tuanya tahu, pasti mereka sangat bahagia, Dan Riko adalah orang yang paling bahagia di dunia ini.
"Lebih baik kalian periksa ke dokter nak, untuk memastikan berapa usia kandungan Rere." Ucap Fitri. Mereka sudah kembali ke tempat duduk masing-masing.
"Iya Bu, rencananya nanti siang kami akan ke rumah sakit, karena lagi ini saya ada metting." Riko menggenggam tangan Rere, dan tersenyum.
"Semoga semua baik-baik saja." Fitri pun tersenyum, dirinya bahagia melihat putri dan menantunya juga bahagia.
__ADS_1
.
.
.
Jika kedua orang di belahan Negera lain merasakan bahagia, maka lain halnya dengan kedua orang tua Riko.
Dimana Harna yang sudah tak lagi berkumpul dengan para sosialita nya karena semua kartu yang dia miliki di blokir oleh Harlan, dan sampai sekarang suaminya itu belum memulihkan kartu-kartunya lagi.
Harna yang waktu itu pernah ikut berkumpul kembali menjadi di bully karena ingin membayar makanan dan ternyata kartunya kembali tidak bisa di gunakan, dan para teman nya itu malah mengolok dan mempermalukannya.
Dan setelah itu Harna selalu di sisihkan dan tidak di anggap ada oleh mereka, padahal sebelum-sebelumnya Harna selalu royal pada mereka. Dan mereka sekarang menjauhinya hanya karena Harna tidak lagi memiki yang banyak untuk mentlaktir mereka lagi.
Karena hal itu Harna tidak berani bercerita kepada Harlan, dimana suaminya pernah mengingatkannya, jika kita senang, semua orang akan mendekat, dan ketika kita sedang susah, mereka pasti akan menjauh, hanya teman yang tulus yang mau mendekati kita jika kita kesusahan, dan itu tidak ada pada para teman-teman nya itu, dan Harna sekarang merasakan bagaimana di hina dan tidak di anggap oleh teman-temannya.
"Pah.." Harna mendekati Harlan yang sedang duduk di teras rumah, dimana sedang menunggu Felik menjemput untuk berangkat ke kantor.
Harlan hanya menoleh tanpa menjawab.
"Apa papa tidak tahu di mana Riko tinggal?" Tanya Harna dengan wajah sedikit takut. Dirinya sadar jika putranya pergi karena keegoisan nya.
"Tidak, papa tidak tahu." Ucap Harlan yang memang belum tahu di mana putranya itu tinggal. Karena Harlan sudah menyuruh orang orang mencari Riko di Indonesia tapi tidak juga ada yang berhasil.
Harna menghela napas dalam, putranya itu sudah pergi hampir enam bulan tapi belum tahu ke mana mereka pergi, dan nomor mereka semua tidak ada yang bisa di hubungi.
"Untuk apa mama mencari mereka, lagipula mereka pergi kan karena Mama." Ucap Harlan yang masih terus menyinggung istrinya. Harlan kesal dan juga marah, karena putranya pergi dirinya harus kembali ke perusahaan, apalagi keadaannya sekarang tak sebugar dulu.
"Tapi Mama_"
Tin...Tin..Tin..
Suara klakson mobil Felik membuat Harna berhenti bicara.
"Pagi, Om..Tante.." Sapa Felik pada kedua orang tua itu.
"Ayo kita kita pergi." Harlan berdiri dan mendekati mobil Felik.
"Nak Felik, apa kamu tidak tahu di mana Riko tinggal." Tiba-tiba Harna bertanya, ketika Felik ingin masuk ke mobil.
Felik menggeleng. "Tidak Tante, Riko tidak memberi tahu di mana dia tinggal."
Harna hanya tersenyum kecut, mungkin saja mereka dengan sengaja menutupinya.
__ADS_1
"Ya sudah terima kasih." Harna berjalan masuk ke rumah dengan wajah sedih.
Dirinya memang egois, dan sekarang dia telah menyesal.
.
.
Miranda yang sedang mengatur letak di mana bunga-bunga nya akan di taruh, tidak memperhatikan ada orang yang sejak tadi memperhatikannya. Di mana orang itu adalah Bastian, pemilik hotel yang sudah menjadi pelanggan Miranda pagi ini.
Bastian hanya tersenyum melihat Miranda yang sibuk dengan salah satu WO untuk menatap letak bunga-bunga itu, dan Bastian sengaja menyuruh asistennya untuk memesan bunga di toko tempat Miranda bekerja.
Entah mengapa melihat Miranda yang sekarang membuat Bastian suka, Miranda yang dulu tak secantik sekarang, apalagi sekarang tubuh Miranda sedikit berisi dan terlihat seksih.
Bastian menggelengkan kepala kepala ketika bayangan masa lalu di mana keduanya sedang memadu cinta dan itupun sama-sama untuk pertama kali bagi mereka.
Tak lama seseorang datang, dan langsung melingkarkan tangannya di pinggang Miranda, membuat Bastian mengernyitkan keningnya.
'Kenapa Felik sedekat itu dengan Miranda, padahal sebentar lagi Felik akan menikah.'
"Masih sibuk?" Ucap Felik ketika tangannya berhasil meraih pinggang Miranda.
Miranda yang terkejut pun menoleh. "M-Mas ngapain kamu udah disini?" Tanya Miranda heran dan tangannya mencoba menyingkirkan tangan Felik di pinggangnya, padahal Felik baru satu jam lalu mengantarkannya ke tempat ini.
"Menghadiri undangan apalagi." Ucap Felik dengan senyum manis nya, dimana semua wanita akan tergoda.
"Undangan..?" Miranda melihat jam di tangannya. "Masih tiga puluh menit lagi acaranya akan di mulai." Miranda memeprlihatkan jam di tangannya.
Felik hanya tersenyum, dirinya memang sengaja datang lebih awal karena ingin lama-lama bersama Miranda. Entah mengapa setelah kejadian tadi malam membuatnya ingin selalu berdekatan dengan Miranda, padahal dengan Lidya saja Felik hanya akan datang jika butuh pelepasan.
Ehem
Suara deheman seseorang membuat keduanya menoleh.
"Hay bro, Sorry gue datang lebih dulu." Felik menyapa Bastian dengan ala pria sejati, dimana mereka dan Riko akan melakukan hal yang sama ketika bertemu.
Miranda hanya diam dirinya mencari kesibukan setelah tahu siapa pria itu.
"Kayak mau kiamat lihat lu nonggol duluan bahkan acara belum di mulai Lik?" Ucap Bastian dengan santai, tapi matanya melirik Miranda yang sibuk menata bunga.
"Ck, lu ngejek gue karena gue selalu telat kalau dateng ke acara." Felik tertawa. "Spesial buat lu, gue dateng duluan di acara lu."
Bastian hanya mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
Miranda hanya mendengar mereka bicara, meskipun jarak mereka tidak terlaku dekat tapi telinganya masih bisa mendengar percakapan mereka.
"Jadi hotel yang memesan bunga, milik Tian.' Gumam Miranda dalam hati.