
Bugh
"Ah sial..!!" pria itu mengumpat ketika ingin mendekati toko bunga Rere tiba-tiba tubuhnya terpelanting ke belakang.
"Siapa kalian." Pria itu menatap dua orang di depannya dengan intens.
Kedua pria berbaju biasa itu saling pandang.
"Bawa dia.." Terdengar suara perintah dari earphone yang berada di telinga mereka.
Mereka pun hanya mengangguk.
"Lepas..!!" Pria itu mencoba untuk memberontak ketika tubuhnya di seret.
Kedua pria itu tak mendengarkan, mereka memaksa pria itu untuk masuk ke dalam mobil.
"Brengsek, mau kalian bawa kemana aku?" Umpatnya dengan masih memberontak.
"Diam, nanti kamu juga tau."
Mobil yang membawa mereka pun meninggalkan lokasi toko bunga Rere.
"Kamu kenapa Mir?" Tanya Rere yang melihat Miranda celingukan di depan toko.
"Tadi sepertinya ada orang di depan sana, tapi kok gak ada ya?" Miranda menggaruk kepalanya, dirinya melihat sekilas jika ada dua orang yang sedang memaksa seseorang untuk masuk ke mobil.
"Salah lihat mungkin kamu." Rere pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Mir, Kita siapkan saja pesanan untuk besok pagi, agar tidak terlalu repot, sambil menunggu bunga yang belum datang."
Pagi tadi tokonya mendapat orderan buket bunga, dan beberapa bunga hias untuk acara besok pagi di salah satu gedung hotel yang lumayan banyak.
"Iya mbak.."
__ADS_1
Miranda segera membatu menyiapkan pesanan bunga.
Drt...Drt..Drt..
Rere melihat ponselnya yang bergetar, menampilkan nomor baru yang tidak di kenal.
"Halo...?"
"Maaf apa ini benar nomor istri dari bapak Riko Kusuma?"
Tanya seseorang di seberang sana.
"Iya, saya sendiri." Ucap Rere yang mulai khawatir.
"Kami menemukan dompet dan tanda pengenal atas nama Riko Kusuma, berada di jl.xxx sebelah Utara tapi kami tidak menemukan orang yang memiliki identitas ini."
"Maksud bapak?" Tanya Rere mulai panik, suara nya sudah terdengar gemetar.
Tut..Tut.. Tut...
"Halo...!! halo..!!" Rere berteriak memanggil, tapi sambungan telponnya sudah terputus.
"Mbak kenapa?" Miranda yang melihat wajah panik Rere menjadi khawatir.
"Em..aku harus pergi, mas Riko dalam bahaya." Ucapnya yang langsung menyambar tas miliknya.
"Mbak, tunggu dulu mbak mau kemana?" Miranda berteriak.
Tanpa mendengar panggilan Miranda Rere pun langsung menyetop taksi yang baru saja melintas.
"Ke jln. xxx selatan pak." Ucapanya dengan panik dan khawatir.
"Ya Tuhan semoga tidak terjadi sesuatu."
__ADS_1
Rere terus berdoa dalam hati, dirinya yang khawatir dan panik tidak melihat dan mendengar jika ponsel nya sejak tadi bergetar di dalam tas, karena ponselnya dalam mode silent.
"Lebih cepat pak.." Ucapnya pada supir taksi itu.
"Baik mbak."
Setelah empat puluh menit dalam perjalanan, taksi yang di tumpangi Rere berhenti di tempat yang Rere sebutkan.
"Mbak, apa mbak yakin alamat nya disini?" Tanya supir itu yang melihat sekeliling tempat itu hanya ada bangunan kosong dan tua, apalagi jauh dari keramaian.
"Iya pak, tadi katanya di alamat ini." Rere mengeluarkan uang untuk membayar dan keluar dari dalam taksi.
"Sebaiknya mbak hati-hati." Setelah mengatakan itu, supir itupun melesat pergi.
"Kenapa tempatnya seperti ini." Rere melihat kesekeliling, hanya ada gedung tua.
Mengeluarkan ponselnya, Rere bermaksud untuk menghubungi nomor yang tadi menghubunginya.
"Loh, kenapa nomor Mas Riko memanggil." Gumamnya yang melihat banyak panggilan tak terjawab dari suaminya.
Drt..Drt..
Ponselnya kembali bergetar, dan menampilkan nama sang suami.
"Hal_"
"Sayang kamu dimana?" Suara di seberang sana terdengar panik.
"By, kamu..bukanya.." Rere tidak melanjutkan ucapnya, melainkan matanya membulat sempurna ketika melihat seorang pria berdiri didepannya dengan wajah menyeramkan.
"Sayang...halo..honny..." Suara itu masih terdengar jelas di telinganya, tapi mulutnya tak biasa berucap.
"F_Frans.."
__ADS_1