
Suara dentuman musik begitu keras, ramainya pengunjung menambah semangat mereka yang sedang menikmati hiburan kelab malam itu.
Felik nampak sudah menghabiskan beberapa botol minuman, tapi pria itu masih sedikit menyisakan Kesadarannya. Banyak wanita yang menggoda ingin menghabiskan malam dengan nya, tapi karena dirinya sedang tak ingin main teh celup Felik menolak semua wanita itu.
"Tuan anda tidak ingin bermain dengan kami dulu." Wanita dengan pakaian kurang bahan mendekati Felik, pakaian wanita itu sangat seksih dan mengundang iman goyah.
Felik menatap wajah wanita itu, matanya melihat ada tiga wajah yang bergerak-gerak dan wajah wanita itu pun berubah-ubah.
"Kamu seperti bunglon, bisa berubah di manapun tempat." Ucap Felik dengan suara mabuknya. "Wanita sepertimu tidak bisa menjaga komitmen." Felik melihat wajah Lidya yang sedang menggodanya.
"Jangan mendekatiku..!!" Sentak Felik ketika wanita itu ingin duduk dipangkuan nya, membuat wanita itu mengurungkan niat nya.
Felik hendak berdiri, tapi karena banyak minum tubuhnya menjadi sempoyongan. Disisa-sisa Kesadarannya dia nekat mengendarai mobilnya.
Felik mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, Dimana Kesadarannya hanya tinggal sedikit tersisa, dirinya masih bisa mengendalikan jalur lajunya.
Semakin lama, matanya semakin berat, karena pengaruh alkohol tak sadar kakinya semakin lama tidak menginjak gas, membuat mobilnya yang menyala berhenti mendadak.
"Mbak Miranda?"
"Iya pak."
"Mari, maaf menunggu agak lama." Ucap tukang Ojol dengan menyerahkan helm.
"Iya pak, saya juga baru saja keluar." Miranda menerima helm yang di berikan, dan naik di bagian belakang jok motor.
Miranda yang merampungkan pesanan untuk besok pagi harus lembur, dan jam sembilan malam dirinya baru menyelesaikan pesanan itu, karena besok pagi-pagi sekali sudah harus di kirim. Dan Lisa sudah Ia suruh pulang duluan, karena kasian jika harus ikut lembur sampai malam.
"Loh pak, itu mobil kenapa, kok berhenti di tengah jalan." Tunjuk Miranda pada sebuah mobil yang berhenti di tengah jalan, beruntung jalan yang dilewati memang sepi jika sudah malam hari.
"Waduh mbak saya gak tau."
Semakin dekat Miranda semakin familiar melihat mobil itu, dan benar saja dirinya hafal mobil milik siapa.
"Pak, minggir dulu pak. Itu mobil teman saya." Miranda menepuk bahu tukang Ojol itu, dan mereka berhenti di belakang mobil itu.
"Sebentar ya pak." Miranda melepas helm nya, dan di berikan pada mang Ojol.
"Mas Felik." Miranda yang melihat kepala Felik menyandar miring di kemudi setir dengan mata terpejam.
Miranda mengetuk kaca mobil beberapa kali dengan cukup keras.
"Mas buka pintunya." Tangan nya mencoba membuka pintu mobil tapi masih di kunci dari dalam.
"Mas, mas Felik..!!" Miranda terus mengetuk kaca mobil dengan sedikit kuat.
Cukup lama Miranda melakukan itu, hingga membuat Felik merasa terganggu dengan suara berbisik.
Felik membuka kaca mobilnya, dengan masih setengah sadar Felik menatap Miranda.
"Apa? Jangan ganggu saya." Ucapnya dengan ketus.
Miranda menutup hidungnya ketika mencium bau alkohol dari mulut Felik.
"Mas Felik mabuk." Ucap Miranda yang masih menutup hidungnya. "Kenapa malah nyetir sendiri kalau sedang mabuk."
Felik menatap Miranda sinis. "Kamu tidak usah sok baik, urusi saja selingkuhan kamu itu." Umpatnya dengan suara khas orang mabuk.
Miranda mendekati tukang Ojol tadi. "Bapak, apa bapak bisa menyetir mobil?" Tanya Miranda pada Ojol itu.
"Bisa mbak, karena sebelum jadi Ojol saya supir taksi."
"Minta tolong antar mobil sama mas nya, saya bawa motor bapak, bapak ikuti saya dari belakang bisa." Tanya Miranda. "Nanti saya tambahin ongkosnya."
__ADS_1
"Oh..bisa mbak kalau begitu." Dengan senang hati pak Ojol mau membantu mendengar ongkos tambahan.
Bapak itu membantu Felik untuk di pindahkan di kursi penumpang, agar lebih leluasa untuk Istirahat.
"Bapak ikuti saya ya." Ucapnya lagi.
"Iya mbak."
Miranda berfikir kemana dia akan membawa Felik, dirinya tidak tahu dimana tempat pria itu tinggal. Di bawa ke rumah kontrakannya itu tidak mungkin.
Karena tidak ada pilihan, Miranda membawa Felik kerumah Rere, dimana rumah yang ditinggalkan untuk Miranda rawat, jika mau Miranda bisa tinggal disana.
Tak lama Miranda sampai di rumah bosnya itu, beruntung rumah Rere jaraknya tidak terlalu jauh dari toko bunga.
"Sebentar pak, saya buka pintu rumah dulu." Miranda merogoh tasnya, mencari kunci rumah itu.
Setelah terbuka mereka memapah Felik sampai di sofa, dimana pria itu sama sekali tidak terusik.
Miranda yang ingat akan memberi ongkos tambahan mengambil dompet dalam tasnya, dan ketika membuka isi dompetnya hanya ada uang pecahan receh 30ribu. 'Duh, masa iya aku kasih tiga puluh ribu.' Gumam nya dengan bingung. Karena dirinya memang sedang tidak pegang uang.
Melihat Felik Miranda memiliki ide.
"Maaf mas, ini juga untuk bayar jasa bantuin kamu." Ucapnya yang sudah berhasil mendapatkan dompet Felik, dan ternyata hanya ada tiga lembar uang berwarna merah.
"Begini kalau orang kaya, tidak butuh uang kes, tapi kartu kredit berderet nyampe gak ke itung." Ucap Miranda yang melihat banyaknya kartu di dompet Felik.
"Ini pak, saya banyak terima kasih bapak mau membantu teman saya." Ucap Miranda dengan memberikan dua lembar uang kepada Ojol tadi.
"Sama-sama mbak, alhamdullah berkat mbak saya bisa belikan anak saya susu." Bapak itu mengucap syukur, mendapat rezeki yang tak terduga.
"Alhamdullillah pak, sekali lagi terima kasih." Miranda tersenyum dan menutup pintu setelah bapak itu pergi.
"Hah, untung ketemu orang baik." Gumamnya yang melihat Felik tergeletak tak berdaya di atas sofa.
"Kenapa dia tampan sekali." Bibir Miranda menyunggingkan senyum. "Sayang sudah mau nikah." Bibirnya menjadi cemberut.
Miranda hendak pergi untuk mengambil kan air hangat tapi belum sempat pergi tangannya di cekal oleh Felik.
"Mau kemana?" Tanya nya dengan mata terbuka, mata sayu yang belum sepenuhnya sadar.
"Engh.." Miranda yang ingin melepas cekallan tangan Felik, malah di tarik oleh pria itu, membuatnya tersungkur di dada bidang Felik.
"Mas lepas." Miranda mengeliat merasa tidak nyaman.
"Kenapa hm.. bukannya kamu sengaja membawaku kesini untuk berdua denganku." Felik berbisik di telinga Miranda. Hembusan panas napas Felik membuat tubuh Miranda meremang.
"Mas_ Emph.." Bibir Miranda sudah lebih dulu di bungkam oleh Felik, pria itu mellumat lembut benda kenyal yang belum pernah Ia sentuh.
Miranda memberontak di awal, tapi dengan permainan cumbuan Felik yang lembut dan terkesan menuntut membuat Miranda membalas pangutan bibir itu.
Felik yang masih setengah sadar dan dikuasai oleh alkohol membuat gairahnya terpancing dengan cepat. Apalagi ciuman yang dia lakukan di balas Miranda dengan lebih intens, membuat Felik memperdalam ciuman mereka.
Felik menahan tengkuk Miranda, luamattan dan sesapan keduanya berlomba untuk menyalurkan rasa di dalamnya.
Mungkin bagi Miranda hanya sekedar ciuman membuatnya tidak akan terlena nyatanya setelah merasakan permainan lidah Felik membuat gejolak dalam tubuh Miranda menginginkan lebih.
Ah
Miranda meleguh ketika bibir Felik menyusuri leher jenjangnya, dimana belum pernah lagi Miranda rasakan setelah kejadian lima tahun lalu bersama Bastian.
"Mas..emh." Miranda menatap wajah Felik dengan mata sayu, dimana ketika tangan Felik menyentuh bagaian sensitif di dadanya.
"Em.." Felik yang menggelengkan kepalanya mencoba untuk menarik kesadarannya, dimana melihat wanita di depannya ternyata Miranda.
__ADS_1
"Miranda.." Ucap pelan, dengan perasaan berkecamuk, di mana gairahnya yang sudah terpancing minta di salurkan, tapi melihat Miranda membuatnya berfikir sejenak.
"Kamu masih perawan?" Tanya Felik dengan tiba-tiba.
Membuat Miranda menggeleng. "Sudah tidak semenjak lima tahun lalu." Ucapnya dengan menunduk.
Tangan Felik menyentuh dagu Miranda untuk melihat wajah itu.
Tanpa permisi Felik kembali mencumbu bibir Miranda dengan rakus, kali ini dirinya melakukannya dengan sadar, jika Miranda adalah korban teh celup nya malam ini.
.
.
.
Tring...tring...tring..
Suara alarm sebuah ponsel berbunyi.
Dimana dua insan yang saling berpelukan di bawah selimut merasa terganggu.
Miranda meraih benda berbunyi yang mengganggu tidurnya.
"Em..ya tuhan jam lima." Ucapnya dengan tiba-tiba duduk. Dirinya ingat jika jam tujuh lagi Ia harus mengirim pesan bunga dari toko.
"Emhh..Kenapa bangun masih pagi." Suara serak khas pria bangun tidur, menyadarkan Miranda berada dimana.
"I-ini.." Miranda melihat ke bawah, dimana dadanya terekspose tanpa penutup. "Ya, tuhan." Dengan cepat miranda menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Mas Felik." Ucap nya lirih, menatap pria yang berada di sampingnya.
"Hm..sebentar lagi sayang, masih ngantuk." Gumam Felik dengan mata terpejam.
Miranda perlahan menyikirkan lengan Felik yang memeluk perutnya.
"Mau kemana?" Felik membuka matanya, melihat Miranda yang merasa gugup.
"A-aku.."
"Sebentar lagi, ini masih terlalu pagi." Felik merapatkan kepalanya pada pinggang Miranda.
"Aku ada pesanan pagi ini Mas." Ucap Miranda dengan pelan.
"Tidak ada toko bunga yang buka di jam lima pagi buta." Felik mendongak menatap wajah Miranda yang semalam terlihat begitu seksih di bawah kungkungan, bahkan wanita itu terus meneriakkan namanya ketika mendapat pelepasan, bibir Felik menyunggingkan senyum.
"Kenapa senyum-senyum sendiri." Ucap Miranda yang melihat Felik aneh.
"Ternyata kamu begitu cantik ketika mendesahh."
Bugh
Miranda memukul bahu Felik. "Pertama dan terakhir, tidak akan terulang lagi, anggap saja aku hilaf." Ucap Miranda dengan senyum. Karena nyatanya posisinya hanyalah pelampiasan, Miranda menikmati percintaan mereka tadi malam dan dalam keadaan sadar. Karena dirinya mengagumi pria di depannya membaut Miranda ingin merasakan hal yang sudah pernah dia rasakan dulu, dimana waktu kebodohannya di masa remaja.
"Aahk." Felik membanting tubuh Miranda di bawahnya.
"Mas, minggir." Miranda mendorong dada Felik tapi tenaganya kalah kuat, pria itu tak bergeming.
Mata Felik menatap wajah Miranda lekat, meskipun bukan yang pertama untuknya, tapi merasakan milik Miranda yang belum pernah ia rasakan membuat Felik sadar jika mungkin Miranda hanya melakukan hal itu satu kali.
"Nanti setelah, membuatmu mendesah kembali." Felik langsung menyerang bibir Miranda, mellumat dan menyesap bibir itu kembali, untuk membuat wanita di bawahnya meminta hal lebih, karena Felik adalah ahlinya dalam menaklukan wanita di atas ranjang.
Setelah bertunangan, Felik memang sering melakukan hal itu dengan Lidya, dan semenjak Riko pergi membuatnya sudah lama tidak menyalurkan gairahnya, apalagi kesibukannya yang padat membuatnya tak berpikir lagi untuk mencari kepuasan, mungkin karena itu Lidya mencari selingkuhan. Dan Felik sadar jika rasa di tubuh Miranda terasa sangat berbeda dari wanita-wanita yang pernah dia pakai, termasuk Lidya.
__ADS_1
Kedua insan tanpa hubungan itu kembali memadu kasih, entah apa yang akan terjadi setelah ini ketika Felik tahu siapa pria yang sudah beruntung mendapatkan Miranda untuk pertama kali.