PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Martabak manis


__ADS_3

Jika sahabatnya sudah mendapatkan kebahagian, maka Felik masih harus menyakinkan Miranda. Wanita itu masih susah untuk Felik tahlukkan, meskipun ada janin yang mengikat mereka, tapi keras kepala Miranda yang masih tidak mau dia nikahi membuat Felik pasrah.


Sebisa mungkin dirinya menjadi orang pertama jika Miranda mengingkan sesuatu dan bantuan, meskipun dirinya sangat sibuk tapi Felik sebisa mungkin meluangkan waktu untuk Miranda dan bayinya.


Pekerjaan Felik hari memang cukup banyak dan padat, apalagi Harlan pergi untuk beberapa waktu ke Paris mengunjungi Riko dan menantunya.


Felik yang diberi kepercayaan dan tugas besar untuk menjalankan perusahaan sahabatnya itu menjadi super sibuk, lelahnya sudah tidak lagi dirasa.


"Apa masih ada yang harus kita temui." Felik melihat Jan di pergelangan tangannya, waktu sudah hampir jam delapan malam tapi pekerjaannya tidak selesai-selesai.


Dirinya ingin cepat pulang ke apartemen karena ada seseorang yang sudah menunggunya di sana.


"Sudah tidak ada pak, tadi yang terakhir." Jawab Akmal asisten yang Felik pilih.


"Baiklah, saya langsung pulang saja, kamu juga langsung pulang." Ucap Felik langsung memasuki mobil nya setelah keluar dari restoran tempatnya metting tadi.

__ADS_1


Felik mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, ketika melewati banyak jajanan di pinggir jalan Felik mengingat Miranda yang menyukai martabak manis.


Felik memakirkan mobilnya di pinggir jalan dirinya turun dan memesan martabak manis dengan toping spesial.


Bibirnya melengkung senyum, ketika sudah mendapatkan pesanan yang hampir tiga puluh menit itu, pasti Miranda akan suka dengan oleh-oleh yang dia bawa. Felik yang sebenarnya bukan tipe pria yang suka jajan di pinggir jalan, tapi semenjak dua hari tinggal bersama Miranda membuatnya sering membelikan makanan yang Miranda suka, dan di jual hanya di pinggir jalan.


Semenjak keluar dari rumah sakit, Felik meminta Miranda untuk tinggal bersamanya di apartemen, jika Miranda tidak mau menikah dengannya dan dengan berat hati Miranda menuruti kemauan Felik, karena sejujurnya Miranda juga ingin merasakan hamil diperhatikan oleh ayah dari anaknya.


Setelah hampir empat puluh menit, Felik baru sampai di basement apartemen nya, dirinya segera menaiki lift ke lantai tujuh untuk sampai di flat kamarnya.


Ting


Suasana apartemen nya sepi, Felik kembali menutup pintu dan berjalan masuk mencari keberadaan Miranda.


Waktu menunjukan hampir jam sembilan malam, pasti Miranda sudah tidur.

__ADS_1


Melonggarkan dasi yang ia kenakan, Felik membuka kamar Miranda, setelah menaruh makanan yang dia beli di meja makan.


"Kamu baru pulang." Sapa Miranda yang duduk di atas ranjang dengan memegang sebuah buku novel.


"Kamu belum tidur?" Tanya Felik balik, tanpa menjawab pertanyaan Miranda.


Felik mendekati Miranda yang masih duduk. "Aku kira kamu sudah tidur, apa dia rewel?" Tanyanya yang menyentuh perut buncit Miranda, dan Felik merasakan gerakan halus di permukaan perut Miranda.


"Tidak, hanya saja_" Miranda berhenti menatap Felik, wajah pria itu terlihat lelah tapi tetap mengulas senyum di bibirnya.


"Hanya saja apa?" Felik menatap wajah Miranda.


Miranda menggeleng. "Tidak apa, mandilah aku sudah siapakah air untukmu." Ucapnya yang langsung beranjak dari atas ranjang.


"Mau kemana?" Tanya Felik lagi ketika melihat Miranda keluar dari kamar.

__ADS_1


"Mau mengambil minum, persediaan di kamar habis." Jawabnya dan berlalu pergi.


Felik mengusap wajahnya, "Kenapa susah sekali membuatnya menerima ku." Gumamnya dengan menghela napas, dan Felik langsung bergegas membersihkan diri.


__ADS_2