
Rere sampai di Jakarta siang hari, dirinya pulang kerumah kedua orang tuanya lebih dulu, karena Rere sempat membelikan oleh-oleh untuk mereka.
"By, aku baru saja sampai di rumah ayah dan ibu..".
Rere mengirim pesan pada Riko, pesan itu centang dua tapi belum di baca.
"Mungkin dia sedang sibuk." Pikirnya karena memang masih jam kerja.
"Bu, Rere mau ke rumah Mama karena Rania mengadakan pesta tujuh bulan." Ucap Rere pada sang ibu.
"Loh, ibu malah tidak tahu nak, kalau Rania sedang mengadakan syukuran." Ucap Fitri, yang memang merasa tidak di undang oleh besan nya.
"Mungkin hanya acara kecil Bu, karena mas Riko sedang sibuk, jadi Rere yang mewakili."
Fitri hanya mengangguk, meskipun dalam hati juga merasa kecewa karena ternyata mereka tidak mengundang dirinya padahal kini mereka juga sudah menjadi keluarga.
"Yasudah Rere mau berangkat dulu, mau bantu-bantu disana." Ucap Rere yang melihat jam sudah pukul empat sore, karena acaranya selepas magrib.
"Hati-hati ya, pulang saja kesini kalau mau." Ucap Fitri mengelus kepala sang putri, ketika Rere mencium tangannya.
"Iya Bu." Rere pun pamit, untuk pergi.
.
.
Rumah besar keluarga Riko, nampak ramai, meskipun acara belum di mulai tapi sanak saudara mereka sudah berkumpul, dan di dalam rumah itu sudah di sulap sedemikian rupa untuk kelancaran acara syukuran tersebut.
"Ternyata mengadakan acara besar." Gumam Rere ketika melihat dekorasi di dalam rumah mewah dan besar itu, dan dirinya tidak menyangka acaranya seperti ini, padahal kedua orang tuanya tidak di undang.
"Re..!!" Sapa Indira ketika melihatnya, Indira menghampiri Rere dengan menggendong putrinya.
"Hay.." Keduanya saling berpelukan dan cipika-cipiki.
"Kamu sendiri?" Tanya Indira ketika melihat Rere hanya sendiri.
"Iya, Ra. Mas Riko masih di luar kota."
"Kalau itu aku sudah tau, karena aku tadi sempat mengirim pesan, maksudku kedua orang tuamu."
"Em..tadi ayah sedang kurang enak badan, makanya ibu tidak bisa hadir karena menemani ayah." Ucap Rere berbohong, Indira hanya mengangguk.
'Maafin Rere ayah.' Gumam nya dalam hati karena sudah mengatakan jika ayahnya sakit.
"Kak.." Rania tersenyum lebar ketika melihat kakak iparnya yang datang, wanita yang perutnya buncit itu berjalan mendekati Rere dengan sedikit berlari.
__ADS_1
"Hati-hati Ran, tidak usah lari." Rere memperingati, karena merasa ngeri melihat Rania yang berlari kecil ke arahnya.
"Aku kira kakak tidak datang" Rania memeluk kakak iparnya dengan wajah bahagia.
"Maaf Mas Riko tidak bisa datang karena pekerjaan nya benar-benar tidak bisa di tinggal." Ucap Rere mencoba untuk menjelaskan.
"Iya kak, Rania ngerti." Ucap gadis itu, yang sebenarnya merasa kecewa karena kakak kandung nya tidak bisa menghadiri acara pentingnya.
"Jangan sedih, mas Riko titip salam buat kamu, semoga calon keponakannya selalu sehat dan selamat sampai nanti lahir." Rere tersenyum dengan mengelus lengan Rania.
"Terima kasih kak." Rania tersenyum lebar.
"Ran, jangan lama-lama berdiri nanti kamu capek." Ucap Harna yang baru saja datang.
"Mah.." Rere manyalami Mama mertuanya.
"Re, bantu mbak di belakang ya, soalnya yang lain sibuk, dengan anak-anak nya, apalagi sepupu Rania juga ada yang sedang hamil." Ucap Harna pada Rere didepan Rania dan Indira.
"Mah.." Rania menatap Mamanya tak percaya, padahal di belakang sudah banyak pelayan yang membantu.
"Iya mah, akan Rere bantu." Rere tersenyum, dan pamit pada Rania dan Indira.
"Sebaiknya kalian duduk di sana dulu, satu jam lagi acaranya akan di mulai." Harna mengalihkan atensi anaknya agar tidak banyak bertanya.
Syukuran yang di selenggarakan berjalan dengan lancar, kini hanya tinggal acara santai para tamu undangan pun sedang berbincang dan mencicipi hidangan yang disiapkan oleh tuan rumah.
"Jeng, bukanya itu menantu jeng Harna." Tanya wanita yang berdiri dengan memegang gelas di tangannya, mereka adalah teman-teman Harna di kalangan sosialita dan para tetangga, komplek.
"Iya, itu Rere istrinya Riko..kenapa malah jadi pelayan di acara adik iparnya sendiri." Ucap wanita di sebelahnya.
Mereka melihat Rere yang membawa nampan makanan, terkadang juga membawa nampan minuman, untuk di berikan kepada para tamu.
"Iya loh, dan bajunya itu juga tidak sama dengan yang di pakai kelurga ini." Teman yang lain menyahuti.
Memang Rere menggunakan pakaian kaftan berwarna putih, sedangkan keluarga besar mereka menggunakan waran baju hijau mint.
"Duh, kok kayak menantu yang tak di anggap."
"Hayoo..pada gosip apa?" Harna yang batu saja datang membuat mereka tersenyum.
"Itu loh, kamu punya menantu kok malah di jadiin babu."
"Iya,, loo.." Mereka menyahuti, mengiyakan.
Harna melihat di mana Rere sedang melayani para tamu dengan memberi minuman yang dia bawa.
__ADS_1
"Oh..itu sih mau dia sendiri tadi." Ucap Harna tanpa rasa bersalah. "Mungkin karena malu belum juga hamil, jadi dia merasa tidak nyaman, yaa mencari kesibukan."
Mereka hanya manggut-manggut mendengar ucapan Harna.
"Sudah diperiksakan belum itu jeng, kesehatannya. Sudah mau satu tahun loh, tapi belum hamil.".
"Apa mungkin di antara mereka ada yang kurang sehat?" Ucap teman lainya.
"Anakku sudah periksa dan hasilnya sehat semua." Ucap Harna membela putranya. "Tidak tahu juga mungkin bisa jadi Rere yang bermasalah." Ucap Harna lagi, padahal dirinya tahu jika kedua nya sehat-sehat saja, mungkin memang Tuhan yang belum mengasih kepercayaan.
Prang
"Aduh..bajuku." Ucap seseorang wanita yang tak sengaja di tabrak Rere.
"Maaf mbak, saya tidak sengaja." Rere meminta maaf dan mencoba untuk membersihkan baju wanita itu yang terkena minuman.
"Kalau kerja pake mata dong, kotor kan baju mahal aku." Ucap wanita itu degan suara keras, membuat semua tamu memperhatikan kedua wanita itu.
"Iya mbak, saya minta maaf." Rere mencoba untuk membersihkannya dengan tisu, tapi tangannya di tepis oleh wanita itu.
"Laudia ada apa sayang." Ucap wanita paruh baya.
"Baju aku basah dan kotor mah, gara-gara dia." Tunjuk wanita bernama Laudia itu.
"Re, kamu tidak apa-apa." Indira menyentuh bahu Rere yang masih mencoba untuk membersihkan baju Laudia.
"Aduh jeng Leli, maaf ya. baju nak Laudia jadi kotor." Harna datang dan meminta maaf dengan wajah merasa bersalah.
"Duh jeng, masa acara besar seperti ini pakai pelayan yang gak profesional sih, lihat saja bajunya sok orang kaya." Ucap wanita bernama Leli itu menatap Rere sinis.
"Nyonya dia itu_"
"Ah, iya saya minta maaf kalau pelayan saya tidak sengaja ya." Ucap Harna cepat memotong ucapan Indira.
Hati Rere mencolos mendengar ibu mertuanya menganggapnya hanya seorang pelayan. Serendah itukah dirinya di mata Mama mertua ketika dirinya yang belum bisa memberi seorang cucu.
Indira membulatkan bibirnya, dirinya tidak percaya jika Tante nya mengakui Rere sebagai pelayan.
"Wajah saja cantik, tapi level pembantu." Ucap Leli kesal.
"Oh yaa.. dimana putramu, katanya mau di kenalkan dengan putriku ini."
"Oh..anak saya sedang ada bisnis keluar kota jadi tidak bisa hadir, mungkin lain kali kita atur pertemuan mereka ya." Harna tanpa memperdulikan Rere yang berdiri di belakangnya menahan rasa sesak didada mendengar ucapan Harna. Bagiamana bisa seorang ibu yang jelas sudah tau anaknya memiliki istri tapi masih ingin di kenalkan dengan wanita lain.
Rere hanya bisa mengepalkan kedua tangannya kuat.
__ADS_1