PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part42


__ADS_3

Riko yang tidak tahu mau melakukan apa, keluar dari apartemen.


Dirinya mengendarai mobilnya entah menuju kemana, yang jelas hanya bosan di apartemen karena tidak adanya Rere.


Setelah hampir satu jam hanya muter-muter tidak jelas Riko memutuskan berhenti di sebuah cafe yang cukup terkenal di kota itu, karena selain tempatnya yang bagus dan nyaman, tempat itu juga menyediakan area autdor diarea rooftop.


"Lah, bukanya itu bininya si Zidan." Riko melihat wanita yang dia kenal, yaitu Silla yang sedang duduk seorang diri. "Ck. jangan bilang lagi galau." Riko berjalan dengan santainya menuju di mana Silla duduk.


"Selamat siang nyonya Zidan." Ucap Riko dengan senyum tampan nya, senyum yang selalu dia perlihatkan untuk menggoda mangsa.


"Oh..Hay Riko." Silla yang awalnya murung menjadi tersenyum manis, ketika melihat siapa yang menyapanya.


"Boleh saya duduk."


"Tentu saja, silahkan." Dengan senang hati Silla mempersilahkan.


"Hanya sendiri." Tanya Riko hanya basa basi.


"Hm..seperti yang anda lihat."


"Sepertinya anda memiliki masalah. "Riko menunjuk wajahnya sendiri. "Di lihat dari raut wajah anda." Katanya dengan sok tahu.


Silla terkekeh dan mengangguk untuk membenarkan. "Tebakan kamu benar Riko."


Riko menaikan satu alisnya.

__ADS_1


Wajah Silla berubah sendu." Sepertinya aku salah satu wanita yang kurang beruntung di dunia ini." Ucapnya dengan wajah sedih. "Tadi malam, aku baru tahu kenyataan yang begitu menyakitkan." Silla menangis. "Zidan, Zidan bilang aku sudah tidak bisa memiliki anak..hiks..hiks.." Silla menangis tergugu di di depan Riko. Beruntung keadaan siang ini di roof top cukup sepi, jika tidak pasti mereka sudah menjadi tontonan. Dan itu membuat Riko sebal.


"Maksud kamu, kamu mandul?" Tanya Riko sekenanya, karena memang dirinya sudah tahu hal itu.


Silla menggelengkan kepalanya. "Bukan, tapi_" Silla menarik napas dalam, dirinya ingin bercerita tapi entah dengan siapa, dan kebetulan Riko datang. "Awalnya aku mempunyai penyakit kanker serviks, dan aku tidak tidak jika sekarang penyakit itu sudah di tidak ada bersamaan dengan rahim ku yang ikut di angkat."


"Apalagi Mas Zidan sangat mengharapkan keturunan selama ini, dan aku mencoba untuk menyembunyikan penyakit ku tapi pada akhirnya mas Zidan mengetahui semuanya, pasti dia sudah tidak menginginkan aku lagi."


Silla mengelap air mata dan hidung nya menggunakan tisu.


Riko yang sebenarnya malas untuk mendengarkan cerita Silla yang tidak penting sama sekali, jika bukan karena dirinya mempunyai rencana.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan, apa kamu akan meninggalkan suami mu itu." Tanya Riko memancing.


Silla menatap Riko. "Tidak." Dia menggeleng. "Aku tidak akan meninggalkan mas Zidan meskipun dia memintanya." Silla berkata dengan penuh keyakinan.


"Itu tidak akan pernah terjadi, karena mereka sama sekali tidak pernah dekat." Ucap Silla keceplosan.


"Maksud kamu, Zidan sudah memiliki..?" Riko memberi kode lewat gerakan tangannya.


"Em..itu.." Silla menjadi salah tingkah, dirinya salah bicara, karena yang Riko tahu Rere kekasihnya adalah pembantu mereka, Silla takut jika Riko akan membatalkan proyek besar dengan suaminya.


"Itu.." Silla masih mencari jawaban yang pas.


"Tidak apa, katakan saja, itu tidak akan berpengaruh dengan apapun." Riko mencoba menyakinkan, seolah dia tahu apa yang dipikirkan Silla.

__ADS_1


"Janji, tidak akan merubah apapun." Ucap Silla penuh harap.


"Tentu saja, jika Anda bicara dengan jujur. Karena saya tidak suka dengan kebohongan." Ucapnya dengan serius.


"Sebenarnya mas Zidan mempunyai dua istri." Silla masih menatap Riko, melihat reaksi pria itu. "Istri kedua mas Zidan adalah wanita yang anda pacari."


Riko tersenyum tipis. "Lalu.."


"Hah.." Silla ngebug. "Em..apa kamu tidak terkejut?" Tanya nya tak percaya, melihat reaksi Riko biasa saja.


Riko terkekeh. "Heh..kamu lupa siapa saya, apapun yang akan berhubungan dengan saya pasti akan saya ketahui lebih dulu."


Glek


Silla mengelus tengkuknya, dirinya lupa siapa Riko Kusuma.


"Jadi apa kamu rela kehilangan suami kamu untuk bersama Rere?" Tanya Riko dengan menyandarkan punggungnya di kursi.


"Tidak, tidak akan pernah." Ucap Silla buru-buru, dirinya tidak akan pernah membiarkan suaminya menjadikan Rere istri sahnya.


"Jika begitu berbuatlah sesuatu sebelum bencana api menyerang rumah tanggamu, datang lah ke alamat xxx kamu akan tahu apa yang di lakukan suami mu tanpa sepengetahuan kamu."


"maksud kamu?" Silla masih belum mengerti.


"Ck." Riko berdecak bicara dengan wanita lemot membuatnya kesal sendiri. "Zidan membawa keluarga Rere ke rumah yang berada di alamat tadi, dan nanti kedua orang tuanya juga akan datang, karena ini semua rencana Zidan, agar Rere mau dekat dengannya."

__ADS_1


Silla mengepalkan kedua tangannya mendegar ucapan Riko. "Kurang ajar..!!" Silla langsung berdiri dan pergi meninggalkan Riko yang tersenyum manis.


"Kena kau.." Riko menyesap minuman yang tadi dia pesan, dan ikut pergi untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya.


__ADS_2