
Felik mondar-mandir di depan pintu UGD dirinya begitu kacau dan panik apalagi ruangan itu pintunya masih tertutup hingga satu jam lamanya.
Duduk di kursi tunggu Felik menunduk dengan tangan bertaut menyangga keningnya dengan perasaan yang begitu sangat bersalah.
"Tuhan selamatkan kedua orang yang aku kasihi." Gumamnya dengan mata terpejam menahan sesak di dada.
Tak lama pintu UGD terbuka, dan dokter keluar dengan sister di belakangnya.
"Bagaimana keadaannya dokter?" Ucap Felik yang langsung menghampiri dokter itu, kepalanya mendongak ke dalam untuk melihat keberadaan Miranda tapi sayangnya tak terlihat.
"Pendarahannya sudah berhenti, pasien mengalami syok berat mengakibatkan kendaharan pada janinnya, beruntung janin di dalam kandungannya begitu kuat sehingga masih bisa diselamatkan." Jelas sang dokter membuat Felik bernapas lega.
"Setelah ini pasien akan di pindahkan keruang rawat, anda bisa menemui pasien juga sudah dipindahkan." Dokter itu pergi setelah Felik mengucapkan terima kasih.
Sungguh hari ini adalah hari penyesalan seumur hidup baginya, dimana dia yang sudah membahayakan dua orang yang sudah berarti dalam hidupnya. Beruntung keadaan Miranda dan bayinya tidak mengalami hal buruk dan baik-baik saja.
Felik menemani Miranda yang masih memejamkan mata, dirinya menatap sendu wajah Miranda dengan perasaan bersalah dan menyesal.
"Maafkan aku, maaf jika sudah membuat kalian dalam bahaya." Tangannya mengelus perut Miranda lembut, dan untuk pertama kali Felik merasakan gerakan di perut Miranda.
Senyumnya mengembang dengan perasaan membuncah dadanya meletup-letup seperti kembang api yang menyala.
__ADS_1
"Sayang ini papa," Ucapnya dengan mengelus perut yang sudah membuncit itu, dan kali ini denyutan nya terasa begitu kuat.
"Kamu baik-baik ya, jangan buat Mama mengalami kesulitan, kamu adalah jagoan papa." Felik tak kuasa menahan rasa haru, air matanya kembali mengalir karena merasa bahagia.
.
.
Dibelahan bumi lain, Riko nampak tak percaya jika Harlan papanya berada di kantornya dan lebih tidak percaya lagi melihat Harna Mama nya juga di sana.
"Kalian disini?" Tanyanya dengan wajah yang masih tak percaya.
Riko hanya menyunggingkan senyum. "Ada perlu apa kalian datang ke kantorku, bukankah pekerjaan kalian lebih sibuk dari pada mendatangiku jauh-jauh ke sini."
Plak
"Dasar anak durhaka." Harlan menggeplak kepala Riko.
"Pah sudah." Ucap Harna yang menenangkan Harlan, ucapan putranya memang Keterlaluan, dan Harna tahu alasan kenapa Riko sampai bicara seperti itu.
"Riko kami kesini untuk melihat kalian, dan_"
__ADS_1
"Dan sekarang kalian sudah lihat kan, jadi lebih baik kalian pulang, karena kami sudah bahagia hidup si sini."
Deg
Hati Harna mencolos, putranya ternayata masih membencinya.
Harlan hanya menghela napas, melihat perlakuan Riko, dirinya juga tidak bisa mencegah sang istri untuk tidak ikut karena melihat istrinya Harlan merasa kasihan.
"Maafkan Mama Rik, mama tahu Mama salah. Dan Mama kesini untuk meminta maaf pada kalian." Harna menjatuhkan air matanya, dirinya benar-benar tulus untuk meminta maaf dan menyesal dengan perbuatannya.
"Rik, Mama mu sudah menyesali perbuatannya kalaupun kalian tidak menerima kehadirannya setidaknya maafkan Mamamu, dan pertemukan dia dengan Rere."
Riko hanya diam saja, sebenarnya dirinya tidak bisa melihat kedua orang tuanya memohon, hanya saja kekesalan dan kekecewaan waktu dulu belum menghilang dan sekarang dirinya melupakan nya pada mereka.
Jika Rere tahu mungkin wanita itu akan memarahinya dan menjewer telinganya karena sudah berani memarahi orang tuannya, mengingat Rere membuat Riko tersenyum.
"Ijinkan Mama bertemu Rere dan meminta maaf, Mama memang bersalah dan mama pantas untuk kalian benci." Harna menangis terisak, ketika Harlan merangkul bahunya.
Riko mendengus kesal, melihat ibunya menangis membuatnya tak tega.
"Baiklah aku ijinkan."
__ADS_1