
"Kamu..!!" Zidan mendekati Silla dan mencekram dagu Silla menggunakan tangannya.
"Mas lepas..sakit..!!" Silla meronta dan mencoba melepas tangan Zidan dari dagunya tapi nihil, karena tangan Zidan begitu kuat.
Mata Zidan menatap Silla tajam, terpancar dari kedua matanya jika sedang marah, dirinya tidak terima di katakan tidak bisa memiliki anak alias mandul, dan itu sangat melukai harga dirinya, sebagai seorang pria yang normal.
"Dengar Silla, seharusnya kamu berterima kasih karena saya masih mau dengan wanita yang penyakitan seperti kamu." Zidan menekankan ucapnya tersirat rasa marah di dalamnya. "Kamu wanita yang tidak bisa menjaga lisan mu, asal kamu tahu kamu lah wanita mandul itu.!!" Zidan berbicara lantang hingga Silla sampai memejamkan matanya.
Deg
"Maksud ka_kamu apa Mas." Ucapnya terbata antara rasa sakit karena tangan Zidan dan rasa sakit hatinya di katakan mandul.
"Dengarkan baik-baik, kamu sudah tidak memiliki anak Silla, karena rahimmu sudah di angkat akibat penyakit kanker serviks yang kamu miliki." Zidan melepaskan tangannya dengan kasar membuat Silla langsung memegangi dagunya yang terasa nyeri.
"Tidak mungkin mas, kamu bohong..!!" Silla menangis dengan keras, dirinya tidak mungkin melakukan operasi yang mengangkat rahimnya, walaupun dirinya tahu jika mengidap kanker serviks, tapi Silla pernah menolak untuk di lakukan operasi pengangkatan rahim ketika dirinya baru tahu tentang penyakitnya, dan kini suaminya juga mengetahui semuanya.
"Terserah kamu Silla, saya sudah muak dengan kelakuan kamu yang sekarang." Zidan pergi dengan wajah kesal, dirinya lebih memilih memasuki kamar tamu, di bandingkan tidur sekamar dengar Silla.
"Tidak, itu tidak mungkin. "Silla meremas rambutnya, dan menangis tergugu di atas lantai, dirinya tidak mau menjadi seperti ini, karena keinginannya menikah dengan Zidan untuk mendapatkan keturunan dan bisa menguasai Zidan dan hartanya.
"Hiks..hiks..ini tidak mungkin terjadi." Silla menangis dan meraung, dirinya merasa hidupnya sudah hancur ketika keinginannya akan menjadi berantakan.
.
__ADS_1
.
.
"Kamu yakin akan pergi sendiri?" Tanya Riko pada Rere yang akan pergi dari apartemen nya untuk menjemput ibu dan ayahnya di bandara.
"Hm..lagian aku tidak ingin ibu dan ayah melihatmu By." Rere mengelus wajah Riko yang terlihat kesal, karena waktu kebersamaannya hanya tinggal sehari dan keduanya orang tuanya malah datang berkunjung.
Riko menghembuskan napas panjang. "Baiklah, besok pagi aku juga akan pulang ke Jakarta." Ucapnya mencoba berlapang dada ketika bayangan Zidan yang akan bersama Rere dan pasti keduanya saling berdekatan tanpa jarak. Mengingat itu rasanya membuatnya frustasi sendiri.
"Hm..baiklah, aku usahakan akan menemui mu sebelum pulang." Rere memeluk tubuh Riko, dirinya sangat mencintai pria ini.
"Baiklah, hati-hati di jalan, dan selalu kabari aku." Riko mencium kening Rere.
"Hah..kenapa rasanya berat sekali." Riko menghela napas dalam ketika Rere sudah tak terlihat di balik pintu lift.
Rere sampai di bandara lebih dulu, karena apartemen Riko lebih dekat dari bandara.
Tak lama Zidan sampai dengan penampilan cansual, senyum Zidan mengembang ketika melihat Rere duduk di kursi tunggu.
"Sudah lama Re." Tanya Zidan yang langsung duduk di kursi samping Rere persis.
"Em..belum mas." Ucap Rere seadanya, dirinya sedikit membenarkan duduknya agar tidak terlalu menempel dengan Zidan, entah mengapa rasanya sekarang menjadi was-was jika berdekatan dengan Zidan semanjak kejadian kemarin malam.
__ADS_1
"Em.. Re, aku minta maaf atas kejadian kemarin..maaf sudah berbuat lancang sama kamu." Ucap Zidan dengan sungguh-sungguh.
"Aku sudah lupa dengan kejadian itu mas, aku harap kamu tidak lagi membahas kejadian itu." Rere bicara menatap Zidan dengan serius.
Zidan hanya mengangguk. "Baiklah, kita lupakan kejadian itu, dan sekarang saat nya kita berakting karena mereka sudah datang." Zidan lebih dulu berdiri, dan Rere yang melihat kedua orang tuanya pun segera berdiri.
"Ayo.." Zidan meraih pergelangan tangan Rere untuk Ia genggam, dulu mereka juga melakukan hal seperti ini.
"Ibu, ayah.." Rere langsung memeluk kedua orang tuanya ketika sudah sampai di depan nya.
"Nak, ibu merindukan mu." Ibu Rere memeluk dan menciumi putri semata wayangnya itu.
"Apa kabar nak." Ayah Rere pun ikut memeluk putrinya.
"Baik yah, ayah sendiri bagiamana?" Rere tersenyum.
"Baik, kami baik." Beliau terkekeh. "Zidan sehat nak." Ayah Rere bergantian memeluk Zidan.
"Sehat yah, seperti yang ayah lihat." Jawab Zidan dengan senyum bergantian menyalami tangan ibu Rere.
Zidan membantu membawakan koper bawaan kedua mertuanya, dirinya sudah menyiapkan rumah untuk mereka ketika akan datang kemari, jadi tidak tinggal satu rumah dengan Silla ataupun yang mereka tempati selama ini.
Silla juga tidak tahu jika kedua orang tua Rere akan datang, dan Silla juga tidak tahu jika Zidan memiliki rumah lain, yang khusus untuk pertemuan keluarga.
__ADS_1
Zidan menyiapkan itu semua belum lama, ketika dirinya sudah merasa muak dengan kelakuan Silla, dan Zidan ingin memperbaiki semua sebelum terlambat, karena yang dirinya tahu Rere sudah memiliki kekasih yang lebih kaya dari nya.