
Wanita cantik dengan memakai kebaya modern dan menggunakan mahkota di kepalanya sebagai simbol adat yang Ia kenakan.
Rere terlihat begitu cantik dan menawan ketika dirinya di apit oleh mantan bosnya dulu yang sudah menjadi sahabatnya yaitu Indira.
Wajah Rere begitu anggun, hingga Riko yang melihatnya sampai tak berkedip. pria itu begitu terpesona oleh kecantikan wanita yang sudah sah, beberapa menit yang lalu.
Indira di temani Rania berjalan beriringan untuk mengantar Rere kepada sang mempelai pria yang sudah duduk di depan pak penghulu.
Rere yang gugup dan nervous dengan menyakinkan diri sebisa mungkin untuk tetap tenang, dirinya duduk di samping Riko yang terlihat tampan menggunakan jas.
"Nah, karena mempelai wanita nya sudah ada, silahkan cium tangan suami dan sebaliknya suami mencium kening istri, karena saat ini kalian sudah sah menjadi sepasang suami istri." Ucap pak penghulu.
Rere pun mengambil tangan Riko yang sudah didepanya, dan menciumnya dengan takzim.
Diikuti Riko yang mencium kening Rere.
"Kamu cantik sayang.." Bisik Riko di depan wajah Rere.
Rere yang mendengar menjadi tersipu, dirinya malu di sanjung seperti itu.
__ADS_1
Acara ijab kabul mereka berjalan dengan lancar, semua keluarga yang hadir nampak bahagia apalagi kedua mempelai yang sejak tadi terus mengumbar senyum, dengan para tamu yang hadir untuk menjadi saksi akad nikah mereka berdua.
"Sayang, kamu bahagia." Tanya Riko dengan memeluk tubuh Rere dari belakang, Rere sudah mengganti pakaian kebaya yang Ia kenakan tadi saat acara akad. Dan kini mereka berada di kamar hotel menunggu sore tiba untuk melaksanakan resepsi mereka.
"Em..tentu saja By." Rere tersenyum tangan kirinya mengelus wajah Riko yang berada di bahunya.
Riko menghirup aroma tubuh Rere yang begitu membuatnya candu, aroma yang menenangkan.
"By.. mmh." Rere memejamkan mata ketika bibir Riko menjamah area lehernya, bahkan kedua tangan yang tadi melingkar di perut nya sudah berada di atas kedua gundukan miliknya.
Keduanya larut dalam rasa yang begitu menggelora, hingga keduanya menginginkan hal lebih.
Riko tersenyum menyeringai. "Belum saat nya sayang, jika aku melakukan nya sekarang aku pastikan pesta kita tidak akan hadir pengantin wanita." Ucapnya mengelus wajah Rere lembut.
"By.." Rere merengek di dalam pelukan Riko begitu dirinya menyadari jika ucapan suaminya.
"Bukan kamu saja yang ingin sayang, lihat." Mata Riko melirik alat tempurnya di sana. "Dia sudah ingin mencicipi rumah barunya yang akan menjadi rumahnya selamanya."
Bugh
__ADS_1
Rere memukul dada Riko, membuat pria mesum itu tertawa.
.
.
Ballroom hotel di penuhi oleh tamu undangan, rekan kerja Riko, sahabat dan keluarga pun berkumpul, para karyawan semua ikut hadir untuk memberi selamat dan doa pada atasan mereka di kantor.
Senyum kedua mempelai tak pernah pudar apalagi melihat kedua orang tua mereka juga bahagia dengan pernikahan ini.
"Honny, kita menikah saja mereka sangat bahagia, apalagi jika kita memberikan mereka cucu banyak." Ucap Riko memeluk pinggang Rere posesif.
"Satu saja belum nyicil, mau minta banyak." Rere menatap Riko sebal.
"Nanti malam kita nyicil, siapa tau disini tumbuh kecebong lima." Riko mengelus perut rata istrinya.
Rere mendelik tajam, mendengar ucapan Rere.
Keduanya saling bertatapan penuh cinta, ketika ingin mendekatkan bibir, tiba-tiba mereka semua di kejutkan dengan tamu yang mencoba menerobos paksa masuk.
__ADS_1