PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part32


__ADS_3

Keesokannya.....


"Mas, nanti aku ada kumpul teman, karena ada yang sedang berulang tahun jadi aku mungkin akan pulang malam." Silla bicara pada Zidan ketika mereka sedang sarapan pagi.


Pagi ini hanya ada roti sandwich yang Silla buat untuk nya, dirinya juga tidak melihat Rere sejak datang ke dapur. Biasanya Rere akan menyiapkan bekal untuk nya, tapi dari semalam hingga pagi dirinya tidak sama sekali melihat istri siri nya itu.


"Mas..!! kamu dengerin aku ngomong gak sih." Silla yang kesal karena tidak dihiraukan Zidan cemberut.


"Eh..maaf sayang, kamu bicara apa." Ucapnya tanpa rasa bersalah.


"Isss...mas tuh dari tadi ngelamun-in apa sih, sampai aku ngomong gak denger." Silla menatap kesal Zidan.


Zidan menghela napas, tangan nya meraih tangan Silla. "Maaf, mas banyak kerjaan jadi kurang perhatiin kamu bicara.." Ucapnya mengelus tangan Silla. "Kamu tadi bicara apa sayang?"


Silla menatap malas. "Aku ada acara sama temen-temen aku sedang merayakan ulang tahun."


"Baiklah, Mas ijin-in kamu, asal jangan pulang malam-malam." Ucap Zidan dengan tersenyum.


Silla tersenyum lebar mendengar itu. "Jangan lupa aku minta uang shoping aku di tambah ya." Silla menpilkan senyum manisnya untuk merayu sang suami.


'Duit melulu' "Baiklah nanti aku transfer." Zidan tersenyum masam.


Entah hanya perasaanya atau karena hatinya sudah bisa membedakan antara Rere dengan Silla, Zidan merasa jika akhir-akhir ini Silla selalu meminta uang tambahan dari jatah bulanan yang dirinya kasih.


Dirinya juga belum memberi tahu tentang keadaan Silla yang sudah tidak bisa mengandung, dirinya tidak yakin jika wanita itu akan bisa menerimanya.


.


.


.


"Mbak ada yang nyari di dalem." Ucap Bella yang melihat Rere baru datang.


"Siapa Bell?"


"Lihat aja sendiri." Bella pun pergi melayani datang nya customer.


Rere memang keluar rumah Zidan pukul enam pagi, karena dirinya ingin mampir ke apartemen Riko untuk melihat stok makanan dan sekalian membersihkan apartemen itu, karena niatnya nanti malam dirinya akan pulang kesana.


Apartemen Riko memang tidak menyewa jasa kebersihan karena Rere yang tidak memperbolehkan, dirinya yang ingin membersihkan apartemen itu sendiri.

__ADS_1


"Mama..." Suara Cika terdengar nyaring dari belakangnya, padahal Rere ingin melihat siapa orang yang sedang menunggunya di dalam.


"Hay..Cika.." Rere berjalan menghampiri gadis kecil itu yang berlari kearahnya.


Bruk


"Cika.. pelan-pelan sayang." Ucap Bram memperingatinya.


Rere tertawa ketika Cika langsung menabrak tubuhnya, memeluknya erat.


"Cika belum berangkat sekolah." Rere mengelus kepala Cika, yang masih melingkarkan tangannya di pinggangnya.


"Belum Mama, masih tiga puluh menit lagi." Jawabnya dengan kepala Ia sandarkan di perut Rere, karena tinggi Cika hanya sebatas perut Rere.


"Cika jangan seperti itu, kasian Tante Rere." Bram mendekati putrinya.


"No papa, sekarang aku panggilnya Mama, karena Tante Rere sudah menjadi Mama aku."


Bram hanya menghela napas. "Maaf jika dia merepotkan dan tidak membuatmu nyaman, seharusnya Cika tidak memanggil kamu mama." Ucap Bram merasa bersalah, karena putrinya memang susah di kasih tahu jika sudah memiliki keinginan.


"Tidak apa tuan, karena saya yang memperbolehkannya." Rere tersenyum pada Bram.


"Cika masih ingat janjinya tadi kan?" Tanya Bram yang melihat jam tangannya, waktunya untuk Cika berangkat ke sekolah.


Gadis kecil itu melepas pelukannya dari Rere. "Ingat papa." Jawabnya yang berjalan menuju papanya.


"Pamit dulu sama Tan- Mama Rere." Ucap Bram merasa aneh, karena menyebut Mama untuk Rere.


"Mama Cika berangkat sekolah dulu ya."


"Iya sayang, belajar yang rajin biar dapet rangking..oke.." Rere mengangkat tangannya untuk melakukan tos.


"Oke Mama." Cika menyambut nya dengan gembira.


Bram membawa putrinya masuk ke dalam mobil. "Terima kasih sudah mengabulkan permintaan putri saya untuk memanggil Mama." Ucap Bram sebelum masuk kedalam mobil, dirinya masih berdiri di samping pintu mobil.


"Tidak apa tuan, saya juga senang mengenal putri tuan." Rere bicara sopan.


Bram pun pamit dan pergi dari toko Rere untuk mengantar putrinya sekolah.


"Duh mbak hati-hati seperti nya ada yang panas." Bella melirik seseorang di balik kaca menatap mereka tajam.

__ADS_1


"Maksud kamu apa sih Bell." Rere tidak menggubris ucapan Bella, dirinya berjalan masuk ke dalam toko.


Baru lima langkah Rere bisa melihat seorang pria berdiri dengan tangan menyilang di dada, bersandar di pinggiran mejanya. Dan jangan lupakan tatapan tajam pria itu membuat jantung Rere ingin lepas.


Glek


'Mati aku'


Rere menelan ludahnya kasar ketika melihat tatapan mata Riko begitu menusuk jantungnya.


"By, kamu datang." Rere berusaha membentuk senyum lebar tapi bibirnya terasa kaku jadi terlihat aneh jika dilihat.


Riko tidak bergeming, tatapannya masih sama tajam nya.


Rere yang mengerti suasana hati Riko hanya berharap agar pria itu tidak mengamuk di tokonya mengingat Riko adalah tipe pria pencemburu.


Berjalan lebih mendekat Rere berdiri didepan Riko yang posisinya masih sama.


"By..." Ucapnya lirih menatap lekat wajah yang terlihat marah didepanya.


Maju dua langkah Rere mengikis jarak keduanya.


Cup


Kepala Rere maju lebih dulu, pertama dirinya tidak mendapat respon sentuhan bibir dari Riko, Rere pun berniat untuk mundur tapi gerakan tangan Bimo yang cepat menekan tengkuknya.


"Emph.." Rere meleguh dalam cumbuan Riko.


Riko yang mendapat angin segar segera melancarkan aksinya, meluapkan kekesalannya lewat cumbuan bibirnya.


'Salah siapa mulai duluan..' Batin nya dengan memperdalam kulumman di lidah Rere.


.


.


Kenalan yukkk sama coupel "R" 🤭



__ADS_1


__ADS_2