
"Semoga selamat sampai tujuan ya pak, ibu." Bram menyalami kedua orang tua Rere.
"Makasih Lo ya nak Bram mau repot-repot nganterin kami." Ucap Hilman dengan senyum mengembang.
Riko yang melihat itu mendengus kesal.
"Tidak apa pak, karena Cika sepertinya sedih di tinggal Rere." Bram melihat putrinya yang sejak tadi menempel lada Rere bahkan gadis kecil itu sempat menangis histeris.
"Mungkin Cika sudah merasa cocok dan nyaman, jadi tidak ingin di tinggal Rere." Ucap Fitri menimpali.
"Sayang, udah dong kan ada Tante Bella yang masih jagain toko Mama." Rere mengusap air mata Cika yang masih mengalir tapi bibir anak itu sudah tak mengeluarkan suara tangis.
"Tapi Cika gak mau di tinggal Mama, kalau Cika kangen bagaiman." Cika berbicara dengan sesenggukan.
"Cika boleh main ke Jakarta ya, atau jika Mama ke sini lagi pasti Mama akan menemui Cika." Rere masih mencoba membujuk agar gadis itu mengerti.
"Cika sayang, ayo sama Daddy." Bram mendekati putrinya dan menggendongnya.
"Cika kan anak baik dan pintar, pasti Mama merindukan Cika." Rere mengelus kepala Cika, yang berada di gendongan Bram.
"Tidak apa Re, kalian masuk saja sebentar lagi pesawatnya berangkat." Ucap Bram dengan perhatian.
Lagi-lagi dada Riko bergemuruh melihat tatapan Bram yang begitu memuja kekasihnya, Riko sebagi pria yang suka melanglang buana dirinya tahu arti tatapan Bram.
"Iya Mas, yasudah kami berangkat...terima kasih sudah mengantar kami." Rere pun pamit dan hanya di angguki oleh Bram.
"Dada Mama." Cika melambaikan tangan ketika Rere sudah melewati tempat yang tidak bisa di jangkau lagi.
"Ck. Senang sekali kamu buat aku panas yank." Bisik Riko di samping Rere, keduanya berjalan beriringan dengan kedua orang tua Rere di depan mereka.
Rere hanya mengulum senyum, jika sedang cemburu wajah Riko terlihat lucu.
"Ngak jelas." Riko berjalan lebih cepat meninggalkan Rere yang masih senyum sendiri, membuat Riko sebal.
"Eh... mau kemana kamu." Hilman menarik kerah kemeja Riko ketika melewatinya.
__ADS_1
"Om, lepas ah malu.." Riko merasa harga dirinya hancur karena ulah ayah Rere yang membuat dirinya menjadi bahan tontonan lawak di tempat umum.
"Kamu mau kemana?" Tanya Hilman lagi.
"Tentu saja masuk ke dalam pesawat, kemana lagi." Jawab Riko dengan gaya cool nya untuk mempertahankan wibawanya.
"Mundur kamu, belakang." Ucap Hilman dengan ketus. "Gak sopan kamu mendahului orang tua." Hilman mendelik ke arah Riko yang garuk kepala dengan wajah pasrah.
Rere dan Fitri hanya menahan senyum.
"Om punya dendam apa sih sebenernya. "Gumam Riko yang tidak jelas di dengar Hilman.
"Kamu bicara apa?" Hilman menatap tajam Riko.
"Ngak.. hanya_"
Plak
"Nyamuk banyak.." Ucap Riko dengan menggeplak tangan seperti memukul nyamuk.
...Dasar orang gila...
"Sabar By." Rere berbisik di samping Riko yang memanyunkan bibirnya kesal.
"By mobil kamu gimana?" Tanya Rere pada Riko yang duduk disebelahnya.
Beruntung ayah Rere tidak mempermasalahkan dimana dirinya duduk, dan Riko masih bernapas lega karena bisa duduk di samping Rere.
"Nanti juga ada orang yang ambil."
"Ck. kamu bikin orang repot, ngapain tadi kamu gak naik mobil aja."
Riko menghela napas kasar. "Jika saja ayahmu mau naik mobilku tanpa kamu suruh aku pun akan naik mobil." Riko berkata pelan namun penuh tanda kesal.
"Ya kan kamu tidak perlu mengikuti kami, jika kamu ingin naik mobil." Rere tidak mengerti perasaan Riko.
__ADS_1
"Ck. bikin kesel." Riko bergumam.
"Apa?" Tanya Rere memperjelas, karena dirinya tidak dengar Riko bilang apa.
Riko hanya menggelengkan kepalanya.
Keduanya hanya diam, Riko lebih memilih memejamkan matanya, dirinya merasa lebih lelah dan sulit mendekati Rere seperti biasa setelah bercerai, tidak sebebas dulu ketika Rere masih menjadi istri siri Zidan.
Karena sekarang ada ayahnya yang selalu mengganggu keduanya.
.
.
Di kediaman rumah Zidan kedua sepasang suami istri bertengkar hebat.
"Ini semua gara-gara kamu Silla, sekarang semua kartu dan pekerjaanku di bekukan kedua orang tuaku." Zidan menatap Silla tajam, napasnya memburu dengan amarah yang begitu membuncah.
Silla hanya menangis memegangi pipinya yang mendapat sasaran tamparan keras dari Zidan.
Setelah pergi dari rumah Zidan kedua orang tuanya kembali ke Jakarta, tanpa Zidan ketahui papanya memblokir semua kartunya yang telah Ia dapatkan dulu, dan perusahaannya pun menolaknya untuk masuk kedalam, security sudah mengusirnya lebih dulu sebelum menginjakan kaki ke dalam.
"Mas, kamu tidak bisa menyalahkan ku begitu saja." Silla menangis sesenggukan, dirinya baru kali ini diperlakukan Zidan seperti ini.
"Jika bukan kamu siapa lagi hah..kamu yang sudah menghasutku untuk mengambil semua aset milik papa dan mau menikahi Rere, dan tanpa aku melakukanya pun jelas-jelas semua aset papa akan jatuh padaku, dan sekarang aku melakukan kesalahan yang fatal karena hasutan kamu..!!" Zidan berteriak membuat suara menggema di rumah itu.
Dirinya terlanjur emosi hingga tidak peduli dengan kekerasan yang pertama kali Ia lakukan pada Silla wanita yang pernah Ia cintai.
Silla masih dengan tangisnya, tubuhnya bergetar melihat kemarahan Zidan yang begitu mengerikan.
Tidak di sangka jika kemarin dirinya datang malah membuat bencana untuk rumah tangganya sendiri. Bahkan sepertinya Zidan sudah membencinya.
"Mulai sekarang jangan harap kamu mendapatkan apa yang biasa kamu dapatkan dariku." Zidan menunjuk wajah Silla dan pergi meninggalkan Silla yang menagis histeris.
"Mas..mas Zidan, jangan tinggalin aku mas.." Tubuh Silla liruh ke bawah. "Kamu jahat Mas, jahat."
__ADS_1