
Karena mengemudi dengan kecepatan tinggi Felik hanya butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai di tempat yang menunjukan titik GPS itu.
"Lik lu yakin tempatnya di sini." Riko melihat kesekeliling hanya ada bangunan tua.
"Mereka disana." Felik menunjuk di mana anak buahnya berada, dan mereka keluar dari mobil untuk menghampiri beberapa orang anak buah.
"Kami menemukan ini bos." Ucap salah satu seseorang ketua mereka.
"Ponsel Rere." Riko mengambil benda pipih itu milik Rere.
"Kalian cek tempat ini jangan sampai terlewatkan." Ucap Felik yang memberi perintah, sedangkan Riko tubuhnya terasa lemas, memikirkan Rere. Hanya ponsel Rere lah yang bisa menunjukan dimana keberadaan nya.
"Lu tenang Rik, bini lu pasti ketemu." Felik menepuk bahu Riko. "Sebaiknya kita bantu cari, polisi akan datang untuk membantu kita." Ucap Felik lagi yang berjalan menyusuri semak-semak dan ada beberapa bangunan kosong yang terbengkalai.
Felik menyusuri bangunan kosong bagian kiri, karena anak buahnya menyusuri bagian kanan. Beruntung keadaan masih siang hari, jika malam pasti mereka kesulitan karena minimnya pencahayaan.
Riko mengikuti langkah Felik sesekali dirinya meneriaki nama Rere.
__ADS_1
Di tempat yang lain, Rere begitu takut melihat Frans yang duduk di balik meja dan memegang sebuah pisau.
Di bawa ke tempat yang asing, dalam keadaan tangan dan kaki terikat Rere merasa hidupnya benar-benar terancam.
"Kita tunggu saja, apakah pangeran kamu itu datang." Frans mendekati Rere yang duduk di lantai kotor penuh debu. "Ck, kenapa kamu meninggalkan ku dan memilih pria brengsek seperti dia." Frans menatap Rere dengan wajah sendu. "Padahal aku sudah katakan jika aku hanya main-main dengan wanita itu, tapi kamu masih tidak percaya dan meninggalkan ku."
"Frans itu masa lalu, dan kamu tahu jika aku tidak suka di hianati." Rere menatap Frans geram. " Seharusnya kamu belajar jadi kesalahan bukan malah berbuat jahat seperti ini."
"Diam..!!" Frans berteriak di depan wajah Rere membuat nya menutup mata. "Aku tidak butuh ceramah mu, aku hanya ingin kamu kembali padaku." Frans tertawa menggelegar, membuat Rere bergeridik ngeri.
"Ya..aku gila." Frans menatap tajam, tangannya mencekram erat dagu Rere. "Gila karena kamu lebih memilih pria brengsek pemain wanita dari pada aku yang hanya bermain satu wanita." Ucapnya dengan wajah kesal dan marah.
Rere hanya diam dan meringis, merasakan dagunya yang sakit di cekram kuat oleh tangan Frans.
"Dan sekarang, kamu akan menyesal telah membuatku sakit hati."
"Cih.." Rere meludah, tepat mengenai wajah Frans. " Sakit hati mana dengan aku yang kamu selingkuhi hah..!! Dasar pria badjingan."
__ADS_1
Plak..
"Ahhrg.." Rere berteriak ketika pipinya mendapat tamparan keras.
"Wanita sialan." Frans mengumpat. "Sepertinya kamu lebih suka bermain denganku hm.." Frans mengeluarkan pisau, menyentuh pipi Rere dengan menggunakan ujung pisau itu.
"Emmph.." Rere memejamkan matanya, dirinya tidak mau berakhir seperti ini.
"Jangan salahkan aku, jika pangeran mu itu tidak akan bertemu dengan mu lagi." Frans tersenyum menyeringai, tak lama suara tawanya memenuhi ruangan kosong yang membuat tawanya menggema.
'Ya tuhan selamat kan aku.'
'By, tolong aku.'
Rere terus berdoa dalam hati. Butakah dirinya dulu yang pernah mencintai pria gila didepanya itu, apa salahnya hingga membuat pria itu begitu membencinya. Bukankah seharusnya dia yang membenci mengingat sudah di hianati dengan perselingkuhan.
'Ku mohon By, selamatkan aku.'
__ADS_1