
Riko keluar dari kamar hotel pukul delapan pagi, dirinya berniat ingin mencari sarapan dulu diluar, acara masih akan di mulai pukul sepuluh masih banyak waktu untuk dirinya bersantai dulu.
"Pak, antar saya mencari kuliner khas disini." Ucap Riko pada supir yang bernama pak Kardi.
"Baik tuan." Pak Kardi pun melakukan mobilnya ketempat yang Riko mau, hingga ketika sampai di depan toko bunga mata Riko melihat dua wanita yang sedang kesusahan membawa banyak bunga untuk di taruh di mobil pickup yang sudah parkir di depan toko itu.
"Ck. kenapa juga harus bekerja sendiri, dasar wanita sok kuat." Riko bergumam namun matanya tak lepas melihat wanita yang wajahnya sebagian tertutup oleh bunga yang wanita itu bawa.
Mobil yang dikendarai pak Kardi melintas begitu saja melewati mobil yang membawa banyak rangkain bunga.
.
.
"Mbak sepertinya sudah semua, bunganya." Ucap Bella yang keluar dari dalam setelah mengecek semua pesanan sudah naik ke atas mobil.
"Kamu yakin tidak ada yang tertinggal?" Tanya Rere untuk memastikan, jika ada yang tertinggal waktu mereka sudah mepet, maka akan sangat terlambat jika ada yang kurang.
"Tidak ada mbak..sudah aku cek." Ucap Bella dengan yakin.
"Baiklah ayo kita berangkat." Rere memberi alamat pada supir tujuannya ke hotel xx.
Sedangkan dirinya dan Bella mengikuti dari belakang dengan sepeda motor.
.
.
Riko sudah kembali ke hotel jam sembilan lewat, dirinya sudah puas mengisi perutnya dengan kuliner yang menurutnya menggugah selera.
"Ck. gue emang tampan, sampai-sampai gak bisa gantiin Rere dihati gue." Riko mematut dirinya didepan cermin, menggunakan jas rapih dan rambut ditata dengan sedemikian rupa, pagi ini dirinya adalah tamu kehormatan karena donatur terbesar untuk pembangunan hotel itu.
Riko berpenampilan Serapi dan semenarik mungkin, dirinya sangat tampan dan berwibawa dengan penampilannya sekarang.
.
.
.
"Tolong semuanya ditata dengan rapi, karena satu jam lagi tamu akan segera datang." Ucap panitia yang ditugaskan mengatur dekorasi di hotel itu.
"Mbak, bunga yang untuk menyambut tamu kehormatan di mana, saya belum menerima?" Ucap seorang wanita bertanya pada Bella.
"Eh..apa di box itu tidak ada Bu?" Tanya Bella.
"Tidak ada, makanya saya tanya?" Ucap wanita itu sudah sedikit tinggi nadanya, karena acara sebentar lagi dimulai, dan bunga itu yang akan menyambut tamu kehormatan mereka.
"Aduh, pasti ketinggalan." Ucap Bella bergumam.
Rere yang melihat Bella bicara dengan seseorang pun mendekat dan bertanya. "Ada apa ya mbak? apa ada yang kurang?" tanya Rere.
__ADS_1
"Itu mbak, bunga penyambutan tamu tidak ada di box itu." Ucap Bella pelan.
"Iya saya sudah cari tapi tidak ada, dan bunga itu sangat penting untuk menyambut tamu." Ucap wanita itu kesal.
'Bunga itu' "Ya, ampun. Maaf mbak ini kesalahan saya, saya akan ambil sendiri, kalau begitu saya permisi." Rere segera keluar dan mengambil motornya di parkiran.
Ini kesalahannya karena menaruh bunga buatannya sendiri di bawah meja kerjanya, sehingga Bella tidak melihatnya ketika mengecek.
Rere melajukan motor nya sedikit kencang, karena waktunya sangat mepet dan akan terlambat jika dirinya tidak segera sampai.
Sampai di toko Rere, memakirkan motornya asal, dirinya buru-buru membuka pintu dan mengambil pesanan yang tertinggal.
"Kamu itu kecil, tapi sangat dibutuhkan." Rere mengambil box yang berisi bunga kalung untuk penyambutan.
Keluar dari toko Rere segera memakai helm nya, kembali bersamaan dengan mobil sedan hitam melintas di sampingnya.
Rere pun menoleh ketika mobil itu membunyikan klakson mobilnya dan tersenyum, namun pria yang berada di dalam mobil tidak melihatnya karena sedang membalas pesan dari sahabatnya.
"Duh..lima belas menit lagi." Rere melihat jam tangannya yang sebentar lagi jam sepuluh.
Dengan kecepatan yang dirinya mampu, Rere mengendarai motornya masih di jalur aman.
Meskipun begitu dirinya harus terjebak dua kali di lampu merah.
.
.
"Duh mbak Rere mana sih, jangan sampai telat deh, entar aku gak jadi dapet bonus." Bella menggigit kuku dijarinya karena panik acara sebentar lagi dimulai.
Para tamu memang sudah datang sejak lima belas menit lalu, kini lobby hotel itu sudah ramai dengan para tamu undangan. Zidan dan Silla sudah datang bahkan sedang berbincang dengan pemilik hotel itu.
"Baiklah nanti akan saya kenalkan pada beliau, siapa tahu beliau juga ingin menginvestasikan dana di perusahaan anda Tuan Zidan." Ucap pria paruh baya pemilik hotel itu.
"Saya akan berterima kasih jika itu terjadi." Zidan tersenyum ramah dengan kliennya itu, karena mereka sudah lama menjalin kerja sama dengan baik.
Tak lama sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti diparkiran khusus. Mobil yang dikendarai Riko sampai.
"Aduh mbak Rere tamat riwayat toko kita hari ini." Bella menatap nanar mobil yang baru saja terparkir disana, yang pasti dirinya sudah tau siapa karena parkiran itu ada tulisan khusus.
"Eh..mbak mana bunga nya, tamu nya sudah datang." ucap wanita yang sejak tadi memarahi Bella.
"Sabar Bu, sebentar lagi mbak Rere pasti datang." Ucap Bella dengan wajah pias.
"Ck. ini waktunya udah gak ada lagi, dan ini adalah kesalahan kalian jangan harap toko kalian akan laris lagi." Ucap wanita itu marah karena bunga yang di pesan khusus malah belum datang.
"Maaf Bu..tap_" Belum sempat Bella berucap sebuah suara yang mengejutkan terdengar.
Brak
Rere meringis ketika kakinya tertimpa motor nya sendiri.
__ADS_1
Tidak tahu melihat apa, dirinya sampai tidak fokus sampai menabrak tong sampah.
"Mbak Rere..!!" Bella pun berteriak dan segera menghampiri bosnya yang sedang jatuh tertimpa motor.
"Ya ampun mbak, kenapa jadi begini?" Suara keras Bella membuat beberapa orang yang dekat dengan pintu melihat ke arah mereka, bahkan Riko yang masih di dalam mobil mendengar suara keras, diikuti sebuah teriakan.
"Ada yang jatuh tuan sepertinya wanita pemilik toko bunga yang dekat dengan hotel tuan menginap." Ucap pak Kardi yang masih ingat ketika berangkat dirinya menyapa Rere lewat klakson mobil.
Riko pun keluar karena penasaran wanita yang juga dirinya lihat tadi pagi, di depan toko sedang mengangkat bunga, sehingga wajahnya tak terlihat jelas.
"Ada apa ini?" Suara berat nan dingin menyapa orang-orang yang membantu Rere dari kecelakaan yang menabrak tong sampah, hingga membuat kakinya terkilir dan memar.
Zidan dan Silla juga melihat hal itu tidak jauh dari tempat Rere jatuh, sebenarnya Zidan ingin menolong Rere namun tangan Silla menariknya untuk tidak mendatangi Rere yang sedang jatuh.
"Hanya kecelakaan kecil pak.." Ucap Bella gugup karena melihat pria sangat tampan dan rupawan berdiri di depannya.
Rere masih meringis dengan menunduk bahkan helm yang ia kenakan belum dilepas, jadi tidak terlalu mendengar jika ada seorang pria tampan menghampirinya.
"Mbak itu helm mbaknya di buka saja kasian, mbaknya kesakitan ditambah masih memakai helm." Ucap pria dewasa yang juga tamu membantu mendirikan kendaraan Rere.
"Ehh..iya pak, saya lupa?" Bella tersenyum canggung, tadinya ingin membuka helm yang dipakai Rere, namun melihat pria tampan bak pangeran datang membuat Bella lupa diri.
"Mbak Rere maaf Bella lupa." Ucap Bella sambil cengengesan.
Deg
Riko yang mendengar gadis didepanya memanggil nama seseorang menjadi penasaran, apakah Rere yang dia rindukan?
Bella membuka helm yang Rere pakai, dan Rere mendongak sehingga membuat matanya bisa melihat pria yang sedang berdiri tegak menjulang tinggi di depannya.
Deg
Jantung Rere tiba-tiba berdebar kencang, ketika melihat tatapan bola mata yang selalu dirinya rindukan.
"By.." Gumamnya yang terdengar di telinga Riko.
Riko pun sama halnya dengan Rere, dirinya terpaku melihat wajah wanita yang dia rindukan berada didepan matanya. Dada Riko bergemuruh ingin sekali memeluk dan menciumi wajah wanita yang selalu dirinya rindukan, namun akal sehatnya masih mengingatkannya jika Rere sudah dimiliki pria lain.
Tangan Riko sudah ingin terangkat untuk menyentuh pipi Rere namun suara dari belakang nya menyadarkan tindakan konyolnya.
"Re kamu tidak apa-apa?" Zidan datang dengan Silla yang wajah nya sudah kesal, karena Zidan nekat menghampiri Rere.
"Tidak apa-apa Mas." Rere menunduk dengan hati sesak, pria didepanya sekarang sangat berbeda, Riko bertambah tampan dan dewasa.
"Pak Riko, ayo acara sebentar lagi dimulai." Ucap seseorang mengajak Riko agar segera masuk ke dalam.
"Baik.." Riko menatap Rere yang masih menunduk. "Lain kali hati-hati." Hanya ucapan itu yang bisa Riko ucapkan.
Karena dirinya baru ingat wajah pria yang baru saja datang adalah suami dari Rere.
Riko kembali menoleh kebelakang, dan ternyata Rere hanya di papah temanya, dan pria yang dia tahu sebagai suami Rere tadi berjalan di belakangnya dengan bergandengan tangan dengan wanita lain.
__ADS_1
'Ada apa ini?'