
"Ayah, ibu maafkan Rere yang sudah mengecewakan kalian, Rere hanya ingin membahagiakan kalian dengan menuruti semua keinginan ayah." Rere menatap kedua orang tuanya.
Sedangkan Zidan merasa was-was dirinya takut jika Rere bicara yang sebenarnya.
"Tapi Rere mohon untuk kali ini Rere ingin memilih hidup Rere sendiri." Ucapnya dengan mata penuh permohonan.
"Katakan nak, kami akan mengabulkannya..sudah cukup ayah membuat mu kecewa dengan pilihan ayah." Ucap Hilman pada putrinya itu.
"Apakah Rere boleh pisah dari mas Zidan?" Tanya Rere hati-hati, dirinya takut jika ayah nya akan marah. "Rere tidak ingin merusak rumah tangga Mas Zidan dan mbak Silla, Rere tidak ingin berada di antara mereka yah, ibu."
"Re, bicara apa kamu...mana mungkin aku talak kamu." Zidan mendekati Rere. "Apa ini semua karena pria itu hah..kekasih kamu sehingga kamu berani berkata seperti ini...karena sebelumnya kamu tidak pernah membantah ataupun melawanku." Ucap Zidan dengan penuh kemarahan, dirinya tidak ingin melepas Rere sedangkan Silla sudah tidak bisa di harapkan lagi.
"Apa maksud kamu Zidan, siapa kekasih Rere." Ucap Hilman menatap Zidan menuntut jawaban.
__ADS_1
"Dia, dia istri yang sudah bermain dengan pria lain,,bahkan dia sudah dua hari tidak pulang dan menginap di apartemen pria itu..apakah itu disebut istri yang baik." Ucap Zidan menggebu-gebu dirinya tidak mau jika hanya disalahkan sendiri.
"Nak, benarkah itu?" Tanya Fitri.
Suasana siang itu panas, dan tambah panas ketika mereka saling menyudutkan dan menyalahkan hanya untuk membela diri sendiri.
"Ya, Rere memang menjalin hubungan dengan seorang pria.." Ucap Rere menatap Zidan tajam. "Lalu kenapa? kenapa jika aku hanya pembantu di rumahmu memiliki seorang kekasih apa itu salah?" Rere selangkah demi selangkah mendekati Zidan. "Apa kamu pernah menganggap ku seorang istri hah..? apa kamu pernah memberi nafkah padaku? dan kamu marah karena aku di cintai pria yang lebih baik dari kamu yang dia tau aku hanya di anggap pembantu sama suamiku sendiri." Rere mengeluarkan semua beban di dadanya selama ini yang tidak bisa Ia keluarkan untuk memaki Zidan.
"Asal kalian semua tahu jika mereka berdua selama ini hanya mengganggap ku pembantu di rumah nya, biaya hidup ku sehari-hari saja aku bekerja membuka toko bunga." Rere menatap satu persatu orang-orang di rumah itu.
"Tapi aku sudah memberimu uang setiap bulan memalui Silla, Re." Ucap Zidan yang akhirnya buka suara, karena dirinya merasa menafkahi Rere dari segi materi.
"Heh.." Rere menatap Zidan sinis. "Uang, uang tiga ratus ribu hanya cukup untuk membeli makan kucing."
__ADS_1
"Tidak mungkin, kamu jangan bohong Re, aku kasih kamu sama seperti Silla." Zidan kembali menyanggahnya.
"Kalau begitu tanyakan pada istrimu itu."
Silla pun yang menjadi pusat perhatian merasa khawatir dan takut.
"Emm itu.." Ucapnya dengan meremas kedua jarinya takut.
"Sudah tau jawabannya." Rere menatap Zidan sengit. "Sekarang di depan kedua keluarga kita aku ingin kamu menalakku, jika tidak jangan salahkan aku jika aku bongkar kebusukan kamu selama ini, dan alasan apa kamu mau menikahi ku secara siri Mas Zidan." Rere berucap penuh penekanan di akhir kalimat.
.
.
__ADS_1
Kasih banyak-banyak hadiah dan dukungan dong buat kang Riko.. biar otor juga semakin semangit...ehh Semangat geh, semangit itu tempe busuk🤔
Like...komen..hadiah...rating kalian ayoo kirim sebanyak-banyaknya...😘😘😘