
Riko membawa Rere pulang ke apartemen nya, tidak ingin terjadi sesuatu kepada Rere membuatnya memilih membawa Rere bersamanya.
"Sayang ponsel kamu berdering..!" Teriak Riko dari bilik pintu kamar mandi, karena Rere sedang berada di dalam kamar mandi.
"Angkat saja By..!!"
Mendengar teriakan dari Rere, Riko pun mengambil ponsel Rere dan tertera nomor baru yang memanggil.
Riko pun menggeser tombol warna hijau ke samping.
"Hallo.. Re.. Nak apa kabar..?"
Terdengar suara wanita di seberang sana, Riko nampak hanya diam saja, karena dia tidak tahu suara siapa.
"Nak ibu dan ayah besok akan datang ke kota B, sudah lama kamu tidak mengunjungi kami.." Ucap wanita di seberang sana lagi, yang Riko yakini adalah ibu nya Rere.
"Haloo...Re.. Re..!"
Riko yang sadar pun langsung bersuara.
"Maaf Bu, Rere sedang mandi.." Ucapnya, dan setelah itu matanya membola sempurna dengan menepuk mulutnya sendiri. 'Bodoh kau Rik, bagaimana jika ketahuan'.
"Oh..nak Zidan.. apa kabar nak, ibu hanya memberi tahu jika besok ibu akan menjenguk kalian...ibu minta tolong jemput di bandara ya.."
"I-iya Bu, besok pasti kami jemput." Riko akhirnya bernapas lega karena ibu Rere mengira dirinya adalah Zidan.
"Baiklah kalau begitu, salam untuk Rere.."
"Iya Bu, nanti saya sampaikan.."
Dan sambungan telepon itupun terputus setelah mengucap salam.
"Siapa By.." Rere keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang sudah segar, rambutnya yang basah terlilit handuk. Rere berjalan menuju meja rias dimana dirinya hanya menggunakan baju tidur lengan dan celana pendek berbahan satin.
Riko menaruh ponsel Rere di atas meja samping tempat tidur, dirinya berjalan mendekati Rere dan berdiri di belakang Rere yang sedang duduk mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer.
__ADS_1
"Ibu mu tadi yang telpon hon." Ucapnya seraya meraih hairdryer yang Rere pakai. "Katanya besok kedua orang tuamu akan kesini." Tangannya dengan lembut membantu mengeringkan rambut Rere.
Rere tersenyum mendapat perhatian dari Riko, apalagi ini baru pertama kali Riko melakukan seperti ini. "Kamu bisa tahu By, apa kamu bicara dengan ibu." Rere menatap wajah Riko dari cermin di depannya yang fokus pada kegiatanya.
"Hm..awalnya aku kelepasan, ehh.. ibu malah ngira jika aku suami kamu." Ucapnya masam.
Rere melihat perubahan di wajah Riko. "Mungkin mereka kangen By, sudah lama sejak aku menikah baru sekali berkunjung, itu pun hanya sendiri karena Zidan tidak bisa ikut, dan aku pun harus memberi alasan." Rere bercerita.
Rere pernah sekali pulang ke Jakarta ketika dirinya sangat merindukan kedua orang tuanya, dirinya pulang seorang diri karena Zidan tidak bisa ikut dan beralasan banyak pekerjaan. Padahal Zidan hanya malas bertemu dengan kedua orang tuanya. Meskipun begitu Rere tidak mempermasalahkannya karena memang mereka menikah hanya karena kebohongan Zidan.
Riko selesai dengan kegiatannya, membantu menyisir rambut panjang Rere yang sudah setengah kering.
Memeluk Rere dari belakang Riko menunduk untuk mencium kepala Rere.
"Sebentar lagi, bersabarlah..semua akan baik-baik saja." Riko tersenyum, keduanya sama-sama menatap lewat cermin.
"Jadi selama kedua orang tuamu disini apa yang akan kalian lakukan, karena sudah pasti Zidan akan mengambil kesempatan." Riko duduk bersandar di kepala ranjang bersampingan dengan Rere.
"Hm..mungkin saja yang kamu katakan benar." Rere memeluk pinggang Riko, wajahnya Ia sandarkan di dada bidang Riko.
"Kamu tenang saja By, aku pasti bisa jaga diri." Wajah Rere mendongak, ketika mendengar Riko menghembuskan napas kasar, sudah jelas kekasihnya itu memikirkan suatu hal yang dia takutkan.
"Hm... Jika pun kalian melakukan sesuatu, aku juga tidak bisa menyalahkan kamu Hon." Riko mengelus pipi Rere yang masih menatapnya. "Karena kalian sudah menikah sah secara agama."
Rere menunduk kan wajahnya, dan dirinya sekarang menjadi bingung ketika mendengar ucapan Riko, sebagai seorang istri meskipun hanya istri siri tapi kewajibannya untuk melayani sang suami adalah wajib. Dan mereka sama sekali belum pernah melakukan kewajiban itu, dikarenakan memang keduanya seperti dua orang asing yang sama sekali tidak kenal.
Pernikahan siri akan tetap sah, meskipun Rere tidak di nafkahi secara lahir dan batin selama satu tahun ini, karena pernikahan mereka di lakukan di depan saksi dan wali. Maka keduanya masih tetap menjadi suami istri, kecuali Zidan yang menalak Rere maka keduanya sudah resmi bercerai.
Rere memikirkan bagaimana jika dirinya meminta Zidan untuk menalaknya, apalagi Zidan sangat mencintai Silla, dan Rere pun mencintai Riko. Mereka terikat hanya dengan sebuah status kebohongan Riko dan berakhir menikah siri itupun hanya mereka yang tahu, tidak dengan kedua orang tuanya dan Zidan.
"Tidak usah dipikirkan, jalani saja apa yang ada di depan mata." Riko mengecup kening Rere, dirinya tahu jika Rere sedang memikirkan pernikahannya. "Apapun yang kamu lakukan aku akan dukung, dan tidak akan menyalahkan kamu."
Riko memeluk Rere. "Percayalah sesuatu yang di mulai dari kebohongan pasti tidak akan baik hasilnya."
Rere semakin mengeratkan pelukannya, dirinya merasa menjadi wanita yang begitu di cintai, Riko memang mengerti dirinya.
__ADS_1
.
.
.
"Mas, kamu belum tidur?" Silla berjalan mendekati suaminya yang masih duduk di sofa ruang tamu, dirinya merasa tidak enak karena pulang larut malam dan suaminya ternyata menunggu dirinya.
Tatapan Zidan berubah menjadi dingin, melihat Silla yang baru saja pulang dengan pakaian seksi di tengah malam begini.
"Dari mana saja kamu." Suara beratnya membuat Silla yang ingin berlalu pun menjadi terhenti.
"Bertemu teman, merayakan pesta ulang tahun apa lagi." Silla bicara dengan santai tanpa rasa bersalah.
"Pesta sampai tengah malam begini, apa pekerjaanmu sekarang hanya pesta dan menghabiskan uang, tidak ingat jika sudah memiliki suami hah..!!" Zidan Bicara dengan keras, diakhiri dengan suara bentakan.
Silla yang pertama kali di bentak Zidan merasa tidak terima, karena selama mereka menikah Zidan sama sekali tidak pernah membentak nya.
"Mas bentak aku." Silla menatap Zidan tak percaya, sedangkan Zidan menatap Silla malas, dirinya sudah muak dengan kelakuan Silla akhir-akhir ini yang sulit di atur.
"Ya, karena sekarang kamu mulai sudah di atur, mana Silla yang dulu selalu perhatian dan melayani suaminya dari bangun hingga tidur lagi, mana Silla yang dulu selalu ada untuk aku..mana..!!" Zidan menatap Silla tajam, matanya memancarkan kemarahan dirinya tidak suka melihat Silla menjadi liar seperti seorang ***_***.
"Mas tidak pernah tau perasaanku, mas tidak tahu bagaimana aku kesepian ketika kamu bekerja, bagaiman aku dirumah sendiri merasa bosan..apa kamu tidak berfikir bagaimana kita sampai sekarang tidak bisa mendapatkan anak..bagaimana..!!" Silla berteriak dengan kemarahan yang menggebu-gebu.
Deg
Zidan merasa nyeri ketika Silla membahas anak, karena sampai saat ini dirinya belum memberi tahu tentang penyakit Silla sampai rahimnya harus di angkat.
"Atau jangan-jangan milik kamu yang tidak menghasilkan anak." Silla menatap Zidan sinis.
"Maksud kamu apa Silla.." Zidan tidak terima jika dirinya di anggap tidak bisa memiliki keturunan.
"Kamu tahu maksud aku mas, kamu tau..!!"
"Kamu pasti tidak bisa memiliki keturunan karena kamu mandul..!!"
__ADS_1