PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part76


__ADS_3

"By, nanti aku ke toko ya.." Ucap Rere dengan memakaikan dasi untuk sang suami.


Pagi ini Riko akan bertemu klien nya, untuk membahas kerja sama.


"Hm.. nanti kalau sudah selesai aku ke sana."


Rere mengelus pelan dada bidang suaminya, setelah selesai memakaikan dasi.


"Aku tunggu." Senyum manisnya terbit, menatap wajah suaminya yang begitu sabar dan pengertian.


Bibir Riko ikut tersenyum.


Mengecup bibir Rere sekilas, Riko pamit pergi.


"Hati-hati ya.." Ucap Rere di depan pintu apartemen.


"Oke.."


.


.


Setelah suaminya pergi, Rere segera bersiap-siap untuk datang ke toko dimana dirinya yang akan menggosip dengan Bella.


Rere yang belum percaya jika Bella gadis muda itu sedang menjalin hubungan dengan Bram duda anak satu. Padahal sebelumnya mereka seperti orang asing yang tidak kenal.


Jika di pikir jodoh memang tidak tahu pada siapa berlabuh. Tapi dirinya juga ikut senang jika Bram mendapatkan Bella, karena Bella gadis yang baik, dan Bram juga pria penyabar dan penyayang, jelas dilihat dari dia memperlakukan putrinya, Bram begitu menyayangi Cika.


Tring


Ponselnya berbunyi tanda pesan masuk, Rere segera meraih benda pipih itu dari dalam tasnya, untuk melihat siapa yang mengirim pesan.


Rania

__ADS_1


'Kakak, besok aku akan mengadakan acara tujuh bulan kehamilan ku, aku harap kakak datang ya.."


Pesan masuk dari Rania. Bibir Rere menyunggingkan senyum, dirinya begitu senang melihat adik iparnya itu bahagia.


"Iya Ran akan kakak usahakan."


Rere menekan tombol kirim, dan langsung centang dua tak lama berubah biru.


"Tadi aku menghubungi kak Riko, tapi kakak bilang dia berada di luar kota dengan kakak, dan kalian tidak bisa pulang besok..karena kak Riko masih memiliki kerjaan yang penting.."


Rania kembali membalasnya, dan menambahkan emot sedih di akhir kalimat.


Melihat pesan dari Rania membuat Rere mengernyitkan keningnya.


Suaminya begitu menyayangi adik nya itu, tapi kenapa acara penting seperti ini dia malah sudah memutuskan untuk tidak datang.


"Tenang saja nanti kami akan datang.."


Taksi yang dia tumpangi sudah sampai di depan toko.


"Pagi.." Sapanya ketika melihat Bella sedang melayani pembeli.


"Pagi mbak.." Bella tersenyum bahagia melihat bosnya itu datang.


"Aku kira mbak ga dateng."


"Mana mungkin, justru dari semalam aku udah gak sabaran untuk ketemu kamu." Rere tertawa, begitu juga dengan Bella.


Bella memang baru dua tahun kenal dengan Rere, tapi mereka sudah menganggap kakak adik satu sama lain.


"Duh, pasti aku bakalan di interograsi nih?" Ucap Bella yang pura-pura merasa takut.


"Ya,, dan kamu harus cerita tanpa ada yang terlewati." Rere sudah duduk di sofa, Bella pun mengikutinya.

__ADS_1


Bella menceritakan dimana dirinya sedang berada di toko sendiri waktu hampir petang, dan hujan waktu itu begitu lebat petir juga bersahut-sahutan. Bella yang memang takut dengan petir, memilih untuk tetap berdiam di toko sambil menunggu hujan reda, tapi sudah hampir dua jam menunggu hujan tidak reda, karena takut kemalaman untuk pulang, Bella memilih nekat menerobos hujan yang masih deras, meskipun takut dengan petir, Bella mencoba untuk melawannya untuk tetap tenang dan tidak takut.


"Duh, motor gue.." Bella yang masih setengah perjalanan mendadak kesal karena motor nya macet di waktu yang tidak tepat.


Apalagi hujan masih lebat dan tubuhnya pun sudah keinginan, meskipun memakai mantel.


"Kamu kenapa pake macet di waktu yang gak tepat sih." Ucapnya yang sedikit menggigil, mengusap wajahnya Bella melihat kebelakang seperti ada lampu mobil yang ingin melewatinya.


Tangannya terulur utuk memberhentikan mobil itu, dirinya ingin minta tolong.


"Tolong berhenti..!!" Teriaknya dengan suara serak, menahan dingin di tubuhnya.


Mobil yang di cegat Bella pun berhenti, di depannya.


Bella mengetuk kaca mobil dengan bibir yang sudah bergetar karena kedinginan, matanya pun sudah berkunang-kunang.


"To-long beri saya tumpangan.." Ucapnya lirih dan tak lama Bella tak sadarkan diri, jatuh ke aspal jalan.


"Pas bangun-bangun aku udah di rumah Mas Bram, dan dari sana mas Bram sering datang kesini mengantar Cika, dan kami pun..yah mulai dekat." Ucap Bella dengan sedikit senyum malu menceritakan pada Rere.


"Aduhh..so sweet nya.." Rere mencubit kedua pipi Bella.


"Mas Bram juga bilang, kalau dirinya ingin mencari istri yang menyayangi Cika bukan dirinya, dan dia juga bilang kalau aku benar-benar tulus menyayangi Cika."


"Emang bisa ya mbak, kita lihat ketulusan seseorang dari mata nya?" Tanya Bella yang memang masih polos.


Rere tertawa, lalu menggeleng. "Nanti kamu akan tau sendiri, bagaimana kita bisa menilai seseorang dari matanya, tulus atau tidaknya orang itu pada kita." Rere menyentuh lengan Bella. "Tapi aku yakin, mas Bram adalah pria baik, yaahh walaupun kalian terlihat seperti anak dan bapak sih.." Rere tertawa keras ketika melihat wajah Bella yang cemberut.


"Papa rasa suami." Ucapnya lagi, menggoda Bella.


Kedua wanita itu asik bercerita, tertawa ketika ada yang lucu.


Mereka tidak menyadari jika sejak tadi ada seseorang yang memperhatikan satu wanita saja.

__ADS_1


__ADS_2