PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part83


__ADS_3

🥀


🥀


🥀


Riko membawa keluarga Rere menempati rumah yang sudah dia siapkan, di mana rumah yang tidak mewah, namun cukup untuk tempat tinggal mereka, bahkan Riko meminta arsitek untuk mendesain rumah itu lagi, agar memiliki banyak kamar.


Jika sebelumnya memiliki empat kamar, kini rumah itu memiliki enam kamar, alasan nya adalah agar ketika datang kesini anak-anak mereka bisa menempati kamar masing-masing.


"By, ini rumah kamu?" Tanya Rere dengan menatap bangunan lantai dua sederhana di depannya.


"Iya sayang, apa kamu suka." Tanya Riko balik.


"Hu'um." Rere mengangguk.


"Rumah nya bagus yah." Ucap Fitri pada suaminya, yang nampak masih lemas dan pusing.


"Maaf tidak bisa memberi rumah yang besar untuk kamu dan kalian, tapi setidaknya ini adalah rumah hasil dari usaha ku sendiri." Tangannya menarik tangan Rere agar mengikutinya masuk ke perkarangan rumah.


"Tidak apa By, dimana pun kamu tinggal pasti aku akan senang." Rere mengelus punggung tangan suaminya.


Pasti bagi Riko ini adalah keputusan yang berat, dimana dirinya harus meninggalkan kedua orang tuanya dan memilih hidup sendiri.


"Terima kasih ya.." Riko mengecup kening Rere.


"Baiklah sekarang, silahkan masuk nyonya." Ucap Riko membukakan pintu rumah baru mereka.


Rere menatap semua sudut ruangan yang sudah tertata rapi, bahkan semua interior nya terlihat berkelas, apalagi bagian dapur yang luas membuat matanya berbinar. Perabotan dan alat masak sudah tertata rapi dan lengkap bahkan masih sangat kinclong.


"By, ini kamu semua yang menyiapkan." Ucapnya sambil menyentuh benda-benda yang berada di sana.


"Hm, tapi aku menyuruh jasa orang, aku percayakan kepada mereka semua" Ucap Riko yang baru masuk ke dapur, setelah menunjukan kamar kedua mertuanya, agar bisa langsung istirahat.


"Kamu suka." Ucap Riko dengan memeluk tubuh Rere dari belakang.


"Suka By, terima kasih." Kepalanya Ia miringkan untuk mencium pipi Riko.


Riko tersenyum. "Mulai sekarang kita akan hidup di sini, semoga saja di tempat ini kita kan mendapatkan keluarga kecil."


"Tapi bagaimana dengan pekerjaan kamu?" Tanya Rere yang tiba-tiba ingat pekerjaan suaminya.


"Tidak usah khawatir, Felik akan menangani nya." Ucapnya yang masih memeluk tubuh sang istri.


"Bukan itu, kalau kamu tidak ada siapa yang akan memimpin perusahaan keluarga kamu, dan disini kamu harus mencari kerja lagi."


Rere menatap sendu suaminya, andai saja dirinya segera di kasih momongan pasti suaminya tidak akan mengalami masa sulit seperti ini.


"Jangan khawatir, suamimu ini tidak akan miskin hanya karena meninggalkan perusahaan keluarga Kusuma." Ucap Riko tersenyum lebar.


"Cih, sombong."

__ADS_1


"Loh, memang benar kenyataanya." Riko menciumi pipi Rere. "Aku dan Felik sudah merintis perusahaan di bidang properti di sini, dan sekarang waktunya aku mengelola sepenuhnya."


"Hah...kamu tidak pernah bilang jika punya perusahaan di sini." Ucap Rere yang tak percaya.


"Untuk apa aku bilang, orang kamu tidak tanya." Riko melepaskan pelukannya, dan berjalan menuju lemari pendingin untuk mengambil minuman.


"Ish..nyebelin." Rere memanyunkan bibirnya.


Riko hanya tersenyum dan geleng kepala. "Tidak penting aku memiliki perusahaan atau tidak sayang, yang jelas ini semua untuk anak kita kelak, aku ingin mereka mendapatkan kekayaan hasil dariku, bukan dari keluarga besar yang nantinya pasti akan menjadi perselihan, meskipun itu tidak akan terjadi, hanya untuk berjaga-jaga saja."


Riko memeluk pinggang Rere, kini keduanya saling berhadapan.


"Em..kamu sudah mempersiapkan sejauh ini untuk anak-anak kita." Tanya Rere dengan perasaan terharu.


Riko pun hanya mengangguk. "Bukan hanya mereka, kamu juga mendapatkan nya." Ucapnya dengan menatap wajah cantik Rere.


Alis Rere bertaut. "Aku, mendapatkan?" Riko mengangguk. "Mendapatkan apa?" Tanya lagi yang masih bingung.


"Besok aku kasih tahu, sekarang ada hal yang lebih penting." Matanya sudah tak lepas dari bibir Rere yang selalu menggodanya.


"ap_ emph.." Sebelum berucap bibir nya sudah di bungkam lebih dulu.


Riko mellumat bibir Rere dalam, deru napasnya sudah memburu.


Keduanya larut dalam cumbuan hasrat, tidak sadar bahwa mereka masih berada di dapur, dan ada kedua orang tua Rere di rumah itu.


Ehem


"By, ah...ada orang." Ucap Rere lirih.


"Biarkan saja, mungkin hanya jin yang iri." Ucap Riko melepas tautan bibir mereka sebentar tanpa melihat ada seseorang yang berdiri dengan mata melotot mendengar ucapannya. Dan keduanya larut kembali dalam cumbuan.


"Ehem..ehem..!!"


Wajah mereka saling tatap, dan menoleh bersamaan.


"Ayah..!!"


.


.


.


"Pah, apa benar isi dari berkas ini." Ucap Harna yang malam itu di meja makan, mereka hanya makan malam berdua.


Harlan masih diam. "Pah, katakan ini tidak benar. pasti Riko mendapat hasutan dari Rere untuk menjadi seperti ini, dan_"


Prang


Harlan menghempaskan sendok di tangannya dengan kasar, hingga membuat suara keras ketika beradu dengan piring.

__ADS_1


"Apa kamu belum puas membuat mereka pergi, dan sekarang kamu masih menyalahkan istrinya." Harlan menatap Harna kecewa. "Dulu kamu yang sangat antusias menyambut menantu seperti Rere di rumah ini, dan sekarang kamu juga sangat antusias untuk menyingkirkan Rere dari rumah ini?" Hardik Harlan.


"Dan sekarang kamu menghinanya di depan orang banyak hanya karena Rere belum memberikan kamu seorang cucu." Harlan berkacak pinggang dirinya tak menyangka istrinya menjadi egois seperti ini.


"Inilah akibat pergaulan kamu yang suka berfoya-foya, dan berkumpul dengan wanita sosialita mu yang tidak jelas itu." Harlan menatap Harna tajam.


"Kenapa papa bawa-bawa mereka, mereka teman yang jelas dan dari kalangan orang berada." Ucap Harna keras, dirinya tidak terima jika dikatakan bergaul dengan orang yang tidak jelas.


"Jika mereka para wanita yang memiliki martabat tinggi, makan seharusnya mereka tahu bagaimana cara menghormati sesama wanita, bukan malah meracuni otak mu untuk membenci dan menghakimi menantu yang seharusnya butuh dukungan dan suport." Harlan pergi meninggalkan Harna dengan kesal, dirinya tidak jadi makan malam hanya karena Harna.


Sejak berkumpul dengan para wanita grub sosialita nya, Harna memang sedikit berubah dengan cara pandanganya pada orang. Dan semua nampak jelas ketika Harna memperlakukan Rere semenjak satu tahun terakhir. Harna yang duku tidak egois seperti yang sekarang.


"Enak saja, nyalahin grub sosialita ku. Dasar tidak tau bergaul." Harna yang kesal kembali melanjutkan makanya.


...****************...


"Tuan Mau cari apa?" Tanya Miranda pada seorang pria yang memakai kaca mata hitam.


Pria itu nampak memilih dan melihat bunga apa yang akan dia beli.


"Buatkan saya buket bunga Lily Mir." Felik berbalik dan membuka kaca mata hitamnya.


"Eh..Mas Felik." Miranda tersipu malu, wajahnya sedikit merona karena salah tingkah.


"Kamu pikir aku siapa?" Felik hanya geleng kepala.


"He..he..aku kira Mas cowok keren yang masih jomblo." Aku Miranda dengan cengiran.


"Lik, buruan..lama amat..!!" Teriak Bastian dari dalam mobil, kacanya Ia buka untuk memanggil Felik, yang malah mengobrol.


"Ck.Berisik lu Bas." Felik mendelik.


Miranda yang mendengar mengalihkan pandangan matanya ke arah mobil yang terdapat seorang pria di sana.


"Orang itu..Tian.." Gumam Miranda yang mengenali Bastian.


"Buatin Mir, malah negelamun." Felik menjentikkan jarinya di depan Miranda.


"Eh..iya Mas." Miranda yang tersadar langsung masuk kedalam, dan menoleh sebentar pada Bastian.


"Jadi dia sudah tinggal di Jakarta." Ucap Miranda yang masih mengingat jelas Bastian.


Toko bunga Rere masih buka, dan berjalan karena Miranda bersedia untuk merawat dan tetap membuka toko itu, karena dirinya sangat butuh pekerjaan dan uang, untuk menghidupi dirinya dan ayahnya yang suka meminta uang untuk main judi.


Meskipun begitu Miranda tetap memberinya, karena hanya ayahnya lah, yang dia punya saat ini.


.


.


__ADS_1


__ADS_2