PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part101


__ADS_3

_Felik&Miranda_


Hari ini Felik sengaja pulang lebih cepat karena ada sesuatu hal yang penting untuknya.


Felik adalah asisten CEO, tapi sekarang dirinyalah yang menghandle pekerjaan CEO, dengan kata lain Felik orang pertama yang disegani oleh karyawan kantor saat ini.


Harlan sudah menyerahkan wewenang kepercayaan untuk Felik, dimana kemampuan pria itu memang sudah tidak di ragukan lagi, apalagi Felik juga memiliki loyalitas di perusahaan sehingga Riko ataupun Harlan sangat percaya pada Felik.


Mengendarai mobil untuk menuju ke suatu tempat Felik menginjak pedal gasnya lebih dalam, dirinya ingin cepat sampai di tempat yang akan menjawab rasa penasarannya kali ini.


Rumah sakit, adalah tujuan Felik, dimana dirinya yang waktu itu mengikuti Miranda bersama pria yang dia pikir suaminya, tak sengaja Felik mendengar percakapan Miranda dengan seorang dokter wanita dan ternyata dia adalah dokter kandungan yang memeriksa Miranda.


Hari ini adalah jadwal kontrol Miranda, dimana Felik ingin tahu siapa ayah dari bayi itu.


Tak lama mobilnya berhenti di parkiran rumah sakit, Felik keluar dengan cepat dirinya berjalan dengan sedikit lari masuk ke dalam.


Langkah kaki Felik terhenti ketika matanya melihat Miranda sudah duduk di kursi tunggu, wanita itu sedang mengobrol dengan ibu-ibu yang berada di sebelahnya.


Bibir Felik membentuk senyum dimana dirinya melihat Miranda begitu cantik, wanita itu benar-benar sudah mengambil hatinya.


"Bu boleh saya titip bawaan saya?" tanya Miranda yang memang membawa kantung belanjaan, dirinya sekalian mampir ke supermarket karena persediaan susunya sudah habis. "Saya mau ke toilet sebentar." Ucapnya pada wanita yang juga hamil di sebelahnya.


"Iya mbak silahkan, tidak apa-apa di tinggal saja barangnya." Wanita itu tersenyum, mereka sudah beberapa kali bertemu kebetulan jadwal kontrol mereka di waktu yang sama.


Miranda berjalan menuju toilet di ujung lorong, dan Felik mendekati tempat duduk Miranda.


"Maaf apa ini barang istri saya?" Tanya Felik.


"Tuan suami mbak Miranda?" Wanita itu balik bertanya.


"Ya, saya baru datang." Felik duduk di kursi di mana tadi diduduki Miranda.


"Nyonya Miranda..!!" Panggil suster yang baru saja keluar dari raungan dokter.


"Maaf istri saya sedang ke toilet, apa saya boleh menunggu di dalam." Felik berbicara pada suster itu. "Ada yang ingin saya tanyakan kepada dokter tentang kandungan istri saya." Kilahnya agar di perbolehkan masuk.

__ADS_1


Suster itu mengamati Felik dari atas sampai bawah, dan dia pun akhirnya mengangguk.


Felik tersenyum lebar. "Terima kasih."


"Mbak nama anda sudah di panggil." Wanita tadi memberi tahu, dan menyerahkan barang milik Miranda, karena sudah di beri tahu Felik untuk tidak memberi tahu Miranda bahwa dirinya datang, karena Felik berkata jika dia baru saja pulang tugas dan ingin memberi kejutan, jadi wanita itu tidak memberi tahu jika ada orang yang menunggu Miranda di dalam.


"Oh, iya mbak... terima kasih." Miranda mengambil barang miliknya, dan segera masuk ke ruangan dokter.


"Selamat datang mbak Miranda." Dokter Heni menyapa miranda dengan ramah.


"Siang dok."


"Mari kita periksa si kecil." Dokter itupun menyuruh Miranda untuk berbaring di ranjang, di mana ada suster wanita yang membantunya.


Seorang pria yang berada di balik tirai bersembunyi, dimana sejak tadi jantungnya selalu berdebar, hatinya bahagia seperti banyak kupu-kupu yang berterbangan.


Felik mengetahui jika Miranda berbohong tentang dirinya yang sudah menikah, dan Felik juga sudah tahu siapa ayah bayi yang di kandung Miranda.


Bukan perkara sulit bagi Felik untuk mencari tahu, di mana dirinya meminta tolong pada dokter itu untuk menunjukan buku periksa Miranda yang berwarna pink. Di keterangan orang tua sudah jelas jika namanya Felik tertera di sana sebagai ayah biologisnya.


Mengetahui itu Felik sangat terharu, ternyata selama ini Miranda sedang mengandung anaknya, dan dia baru tahu.


Mendegar itu dada Felik bergemuruh, untuk pertama kali dirinya mendegar detak jantung buah hatinya. "Anakku." Gumamnya dengan tersenyum haru.


"Selamat, bayi kalian laki-laki." Ucap dokter itu seketika membuat Miranda bingung.


"Kalian? Maksud dokter?"


"Selamat sayang, bayi kita baby boy." Felik keluar dari dan langsung mendekati Miranda yang terkejut melihatnya.


"M-Mas Felik."


"Maaf aku datang telat." Ucap Felik dengan mengecup kening Miranda, membuat dokter dan suster itu tersenyum.


Miranda hanya diam ketika mendapat perlakuan seperti itu dari Felik.

__ADS_1


"Saya berikan vitamin dan suplemen ya, di minum dengan rutin." Dokter itu memberikan resep dan di terima oleh Felik.


"Terima kasih dokter." Mereka pamit, sejak tadi Felik selalu posesif membantu Miranda, membuat Miranda risih.


"Mas lepas.!!" Setelah sampai di luar Miranda menepis tangan Felik yang berada di bahunya.


"Maaf jika aku lancang." Ucap Felik yang menghormati Miranda, di mana wanita itu sudah berhijab dan bukan Miranda yang dulu.


"Lebih baik Mas pergi dan jangan cari aku." Miranda melangkah pergi, tapi Felik mencegahnya.


"Kenapa kamu tidak mencari ku, kalau kamu sedang hamil." Felik ingin mendengar alasan Miranda, padahal jika Miranda mengatakannya pasti Ia akan bertanggung jawab.


"Untuk apa?" Miranda menatap Felik sinis. "Hanya untuk meminta belas kasihan hah..!!"


Felik mengerutkan keningnya, kenapa Miranda berbicara seperti itu.


"Kamu hanya menganggap aku wanita pemuas napsu, dan wanita murahan."


"Kamu bicara apa?" Felik maju satu langkah menatap Miranda tajam, mereka berada di parkiran dekat dengan mobil Felik.


"Bicara fakta, kalau aku sudah meyerahkan diriku pada pria sepertimu." Miranda meneteskan air mata.


"Aku memang suka sama kamu, tapi itu dulu. dengan suka rela aku melakukan dosa untuk yang kedua kali, dan_"


"Ssttt.." Felik langsung merengkuh tubuh Miranda, entah mengapa hatinya terasa nyeri ketika Miranda membahas kejadian itu. "Kamu wanita baik, maaf sudah membuat hidupmu seperti ini." Felik mengecup kepala Indira di balik hijab. Miranda hanya bisa menangis di dalam pelukan Felik.


Miranda tidak bisa mengutarakan kemarahannya pada Felik, selama ini dirinya merindukan sosok berada disisinya ketika sedang mengandung.


Felik membawa Miranda masuk ke dalam mobilnya, wanita itu masih sesenggukan, dengan air mata mengalir.


Disepanjang jalan tangan Felik selalu menggenggam tangan Miranda, hingga wanita itu tertidur mungkin karena lelah menangis.


Karena masih ingin berduaan dengan Miranda, Felik membawanya ke apartemen, dirinya hanya ingin menghabiskan waktu dengan calon ibu dan anaknya itu.


"Sayang hey.." Felik menepuk pipi Miranda pelan, tapi tak ada reaksi pada wanita itu.

__ADS_1


Menatap lekat wajah Miranda, "Cantik." Gumamnya sambil tersenyum. "Andai aku lebih dulu bertemu kamu, mungkin aku tidak akan menjadi pria Brengsek." Jarinya mengelus pipi Miranda.


Ya, seandainya dirinya lebih dulu bertemu dengan Miranda. Yang sekarang wanita itu bisa mengambil hatinya tanpa melakukan apapun, mungkin sudah dari dulu Felik akan menikahi wanita yang sedang mengandung anaknya ini.


__ADS_2