PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part93


__ADS_3

Seperti yang sudah Riko katakan, jika siang ini dirinya akan mengantar Rere untuk pergi ke dokter kandungan dimana dirinya sudah tidak sabar sejak pagi, tapi karena ada metting yang tidak bisa dirinya tinggal akhirnya Riko memilih untuk bersabar sampai mitting itu selesai.


"Sayang kamu mau minum?" Tanya Riko yang duduk di sebelah Rere, dimana mereka sendang duduk di kursi tunggu pasien.


"Tidak By." Rere menggelang, melihat kesekeliling banyak para wanita hamil untuk memeriksakan kehamilan mereka, dan rata-rata mereka di temani oleh para suami.


"Gak nyangka By, aku bisa ngerasain hal yang sama seperti mereka." Rere tersenyum haru, di mana dirinya juga sedang duduk untuk mengantri di deretan para ibu hamil.


"Tentu saja sayang, dan Tuhan telah mengabulkan doa kita." Tangan Riko mengelus perut datar Rere. Dimana sebagian orang yang melihatnya itu pun menjadi iri, karena mendapat suami yang perhatian.


Tak lama namanya di panggil, dan mereka segera masuk ke dalam dengan perasaan campur aduk, antara tegang dan tidak percaya.


"Selamat siang Tuan dan nyonya." Dokter cantik dengan wajah asli orang Prancis itu menyapa mereka ramah.


"Siang dokter." Jawab Riko.


Karena dokter itu bicara menggunakan bahasa Prancis dan hanya Riko yang paham, karena Rere belum menguasai semua bahasa. Dirinya hanya mengerti masih sebagian yang sering dirinya gunakan sehari-hari


"Sepertinya anda bukan asli orang sini?" Dokter itu bertanya, karena melihat wajah kedua nya yang terlihat seperti orang Asia.


"Kami dari Indonesia dok." Jawab Riko tersenyum.


"Oh..saya senang bertemu kalian." Dokter itu pun mempersilahkan Rere untuk berbaring di ranjang, di mana sudah ada seorang suster yang membantunya.


"Don't be tense madam.. I will do the check.." Dokter itu menyuruh Rere agar tidak tegang.


"Santai saja sayang." Riko memegang tangan Rere dan menciuminya.


Rere menarik napas dalam, dan mengeluarkan nya secara perlahan, dirinya merasa gugup bahkan detak jantungnya tidak normal.


"Well let's see if there's a little angel growing up there..." Dokter itu pun mengarahkan alat Transducer ke bagian perut Rere yang sudah di beri gel.


Dan di layar monitor terdapat satu kantong dan terlihat bulatan kecil di dalamnya.


"Selamat Tuan istri anda memang sedang hamil." Ucap dokter itu yang masih menggerak-gerkan alat Transducer itu di permukaan perut Rere.


Riko tersenyum lebar mendengarnya, apalagi Rere yang merasa sangat bahagia dan terharu.


"Usianya sudah 10 Minggu, keadaanya sangat sehat."


"Jadi apa jenis kelaminnya dok." Ucap Riko spontan, karena sejak tadi dirinya hanya melihat bulatan kecil.

__ADS_1


"Untuk sekarang belum terlihat tuan, karena masih kecil.Jika sudah memasuki bulan ke empat maka anda bisa melihatnya." Dokter itu menjelaskan membuat Riko mengangguk mengerti.


Dan Riko pun membantu Rere untuk turun, setelah suster selesai membersihkan sisa gel di perut Rere.


Kini keduanya duduk di depan dokter itu.


"Saya berikan vitamin dan resep obat untuk meredakan mual anda nyonya."


"Dokter, apakah jika sedang hamil muda masih bisa berhubungan suami istri?" Tanya Riko dengan bahasa Inggris dan Rere yang tahu langsung mencubit lengan suaminya.


"Auws..sakit sayang." Riko pun mengadu kesakitan.


"Malu By." Wajah Rere sedikit merona mendengar pertanyaaan Riko.


"Untuk sekarang sebaiknya anda bersabar dulu tuan, karena usianya masih rentan, dan dua Minggu lagi anda bisa melakukan hal itu." Dokter itu tersenyum.


"Tapi dia tidak apa-apa kan dok, soalnya tadi malam saya_ Auwss sakit sayang.." Lagi-lagi Riko mengaduh ketika Rere mencubitnya kembali.


Dokter wanita itu hanya menahan tawa, pasangan di depannya ini sungguh lucu.


"Tidak apa karena janin kuat, tapi untuk jaga-jaga sebaiknya anda bersabar dulu."


Bagaimana bisa suaminya itu bertanya ke hal yang intim kepada dokter itu, Rere sendiri merasa malu.


"Honny, kamu kenapa?" Tanya Riko yang menyadari wajah Rere yang masam.


Rere tidak menjawab melainkan langsung masuk ke dalam mobil, setelah mereka sempat mengantri untuk mengambil resep obat tadi.


Riko duduk di balik kemudi dan mengendarai mobilnya untuk Kemabli ke rumah mereka.


"Apa kamu ingin sesuatu?" Tanya Riko yang mungkin saja istrinya sedang menginginkan sesuatu.


Di tanya seperti itu, tiba-tiba Rere ingat sesuatu.


"Aku ingin makan kacang rebus By." Ucapnya dengan mata berbinar.


"Kacang rebus?"


"He'um sejak kemarin aku dan ibu mencari kacang di supermarket tidak ketemu, padahal aku sedang ingin makan kacang rebus." Ucapnya dengan wajah sedih karena sejak kemarin keinginannya itu menggebu-gebu, dan sekarang dirinya baru paham mungkin itu yang di namakan ngidam.


"Terus mau cari kemana sayang, kamu saja tidak mendapatkan kacang itu." Ucap Riko yang mendadak perasaanya tidak enak.

__ADS_1


"Terserah kamu By, yang penting kamu harus dapat kacang rebus itu, dimana pun belinya."


Riko mengusap wajahnya kasar, pasrah adalah jurus tanpa mau berdebat.


Dan di Paris dimana dia akan mendapatkan kacang rebus itu, jika saja di Indonesia dia tidka perlu pusing.


Sepertinya bayinya itu adalah bayi lokal tidak mau menjadi bayi bule.


Dengan semangat karena demi buah hati akhirnya Riko mencari makanan yang di inginkan sang istri.


Riko menghubungi Miko yang bisa di mintai bantuan, karena Miko asli orang Prancis.


Rere sedang berada di toko bunga, dimana dirinya tadi meminta Riko untuk mengantarnya ke sini.


"Re sudah pulang? bagaiman?" tanya Fitri yang baru masuk ke toko dimana dirinya tadi melihat jika Rere keluar dari mobil Riko.


"Alhamdullillah Bu, Rere beneran hamil." Rere memeluk sang ibu.


"Alhamdullillah nak, semoga kalian selalu sehat." Fitri merasa senang jika putrinya benar hamil.


"Terus Riko kemana?" tanya Fitri yang tidak melihat Riko, biasanya pria itu akan menempel pada Rere.


"Mas Riko sedang membeli kacang rebus."


"Kacang rebus?"


Rere mengangguk. "Kemarin kan kita gak dapet Bu, dan Rere masih ingin memakan itu."


Fitri menepuk keningnya, dirinya saja kemarin menyerah mengikuti Rere yang ingin kacang rebus, dan sekarang Riko yang menjadi korban kedua.


Karena Fitri yakin disini tidak ada yang jual kacang rebus, jika ada hanya di Indonesia mungkin.


Benar saja hingga sore tiba pun Riko belum mendapatkan keinginan istrinya, Miko sendiri juga tidak tahu di mana yang menjual kacang rebus. Jika saja hanya kacang kulit maka akan Riko belikan satu supermarket untuk istrinya.


"Bos tahu sendiri disini tidak ada yang jual kacang rebus."Ucap Miko yang sudah lelah membantu mencari.


"Tanya istri lu lah Mik, siapa tahu istri lu tahu dimana yang jual kacang rebus."


Riko yang lelah menyandarkan tubuhnya di body mobil.


Baru kali ini dirinya di buat pusing oleh kacang rebus.

__ADS_1


__ADS_2