
"Lu kenapa sih Rik, perasaan muka lu kusut amat." Ucap Felik, karena sudah dua hari ini wajah bosnya nya nampak kusut tidak seperti biasanya.
"Gak tau apa lu, kalau pikiran gua melayang terus di kota B." Ucap Riko mendengus kesal.
Ya, sejak dirinya pulang ke Jakarta pikiranya hanya tertuju pada Rere, bukan tanpa alasan dirinya memikirkan Rere, jika biasanya dia masih biasa saja tidak dengan sekarang yang selalu di hantui rasa takut akan kembali kehilangan Rere.
Riko sudah pasti tahu gelagat Zidan yang berubah kepada Rere, dari tatapan mata Zidan Riko sudah bisa menyimpulkan jika Zidan mulai tertarik dengan Rere karena dirinya seorang Casanova jadi tidak sulit untuk mengartikan tatapan seseorang.
"Ck. lu baru dua hari dari sana Rik." Ucap Felik yang duduk di depan meja Riko.
Felik mengantarkan berkas untuk bos sekaligus sahabatnya itu, dan ternyata malah mendengar curhatan sang bos.
"Gua tau, lu gak ngerti perasaan gua Lik." Riko mendesahh kasar dengan bersandar di kursi nya.
Felik hanya menatap Riko dengan intens. "Gue baru tahu kalau lu sedang jatuh cinta begini sifat lu." Ucap Felik.
"Gue bukan jatuh cinta, tapi gue takut kehilangan orang yang gue cintai untuk kedua kali." Riko menyanggahnya.
Dirinya memang sudah lama jatuh cinta dengan Rere, bahkan cinta itu terasa semakin kuat ketika Rere pergi meninggalkannya.
Riko hanya tidak ingin melepaskan Rere begitu saja apalagi dengan status Rere yang istri siri, dan sekarang istri sah Zidan tidak bisa memiliki anak.
"Tidak, itu tidak mungkin." Riko menggelengkan kepalanya ketika otak nya memikirkan Rere bercinta dengan Zidan dan memiliki anak.
"Heh, lu ngehalu." Felik melempar map di atas meja tepat mengenai dada Riko.
"Siallan lu."
Riko melempar balik map itu, dengan gesit Felik menangkapnya dan tertawa.
"Lik, serahkan kerjaan semua hari ini sampai hari Jumat besok, dan atur jadwal kembali." Ucap Riko pada Felik ketika otak nya sudah tak bisa di kendalikan lagi.
"Maksud lu apa?" Ucap Felik tak mengerti.
"Gue mau ke kota B, sebisa mungkin lu kasih pekerjaan yang penting sebelum hari Jumat, karena gue mau pergi."
Felik hanya diam dengan wajah tak percaya." Lu gak kesambet kan Rik." Felik berdiri dan membungkukkan tubuhnya untuk meraih kening Riko dan menyentuhnya dengan punggung tangannya.
"Iss..lu apaan sih Lik." Riko menepis tangan Felik yang berada di keningnya.
"Gue gak percaya itu lu Rik, sumpah."
__ADS_1
"Buru gak usah banyak ba*ot kasih semua pekerjaan gue hari ini." Ucap Riko kesal.
Felik mau tidak mau menjalankan perintah bosnya, dia juga tampak melihat Riko benar-benar gelisah pikiranya sedang berkelana berpisah dengan jiwanya.
.
.
"Tante apa ini buatan Tante sendiri?" Ucap Cika, ketika Rere sudah pamit pada Bram.
Rere menghentikan langkahnya dan berdiri di depan gadis kecil itu.
"Iya sayang, memangnya kenapa?" Ucapnya dengan tubuh yang sudah berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Cika.
"Cika suka Tante, boleh Cika belajar dengan Tante bagaimana cara melakukannya." Wajah gadis kecil itu nampak ceria, dengan senyum manisnya.
"Boleh dong, Cika suka bunga?" Tanya Rere kemudian.
Gadis kecil itu mengangguk mantap. "Suka Tante."
Bram hanya tersenyum melihat interaksi putrinya dengan wanita yang baru di kenalnya, karena selama ini putrinya itu susah di dekati oleh seorang wanita.
Bram Permana adalah duda beranak satu yang umurnya tiga puluh tujuh tahun.
Bram juga seorang pemimpin perusahaan ditempatnya sendiri yaitu Permana Grub.
Bram pernah mengenalkan Cika dengan wanita yang dekat dengannya, tapi gadis kecil itu tidak mau berinteraksi dengan wanita yang Ia kenalkan hingga akhirnya Bram memutuskan hubungan itu, dan lebih memilih untuk sendiri.
Rere tersenyum dan mengelus kepala Cika. "Cika mau ikut Tante ke toko bunga?" Tanya Rere dengan lembut.
Cika mengangguk sedetik kemudian menggeleng.
Rere yang melihat terkekeh pelan. "Kenapa hm?" Tangan nya mengelus pipi chaby Cika.
Mata gadis kecil itu berpindah menatap papanya. "Papa pasti tidak mengijinkan kalau Cika pergi dengan orang yang baru di kenal." Ucap gadis kecil itu menunduk.
"Berarti papa Cika sayang dong sama Cika." Ucapnya dengan menatap wajah ceria kini berganti sendu. "Dengerin Tante, tidak semua orang itu baik seperti yang Cika lihat, dan Cika masih kecil jadi papa Cika tidak mau terjadi sesuatu dengan Cika, kalau Tante sekarang baik bisa jadi nanti Tante berubah jahat jika sudah bisa membawa Cika pergi jauh dari papa."
Cika langsung mendongak menatap wajah Rere bergantian dengan papanya yang hanya diam melihat interaksi keduanya.
Bram mendekati putrinya dan ikut berjongkok di sampingnya.
__ADS_1
"Tante ini benar sayang, papa melarang Cika bukan berarti papa tidak sayang, tapi tidak semua orang yang kita kenal akan baik ketika dibelakang kita." Tangan Bram mengelus kepala putrinya, ada perasaan hangat seketika menyusup dihatinya ketika melihat tutur kata Rere dengan cara memberi pengertian kepada putrinya.
"Tapi Cika ingin belajar dengan Tante ini Papa." Mata gadis kecil itu sudah berkaca-kaca.
Rere yang melihatnya pun tak tega, menatap Bram sekilas Rere menganggukkan kepalanya ketika Bram juga menatapnya, memintanya untuk memberi ijin kepada Cika.
Bram menghela napas dalam, Memeng selama ini dirinya tidak mempercayakan Cika dengan orang lain kecuali pengasuh dan ibu nya sendiri.
"Baik lah, Cika boleh ikut dengan Tante ini, nanti papa akan suruh suster Alda untuk menemani Cika." Bram tersenyum ketika melihat wajah putrinya berubah senang.
"Terima kasih papa, Cika janji tidak akan nakal dengan Tante.." Cika menatap Rere.
"Rere sayang, Tante Rere." Ucap Rere tersenyum.
"Ya, dengan Tante Rere."
"Oke... Kalau Cika nakal papa tidak akan ijinkan lagi Cika pergi ke toko bunga Tante Rere lagi." Bram berdiri dan di ikuti Rere.
"Siap papa." Gadis kecil itu tertawa senang.
"Maaf sudah merepotkan mu, saya pikir dia tidak akan meminta hal seperti ini." Ucap Bram yang merasa tidak enak dengan Rere karena permintaan putrinya.
"Tidak apa-apa Tuan, lagian di toko juga ada Bella teman saya, jadi tidak merepotkan."
"Jika terjadi apa-apa segera hubungi saya." Bram pun memberikan kartu nama pada Rere.
"Baik tuan." Rere menerimanya.
Mereka berjalan keluar ruangan Bram, Rere menggandeng tangan kecil Cika.
"Ingat jangan nakal, kalau nakal_"
"Papa tidak akan mengijinkan aku lagi untuk datang ke toko Tante Rere." Ucap gadis kecil itu cepat memotong ucapan papanya.
Bram tertawa. "Pinter anak papa."Bram mengusap rambut putrinya.
"Saya permisi tuan." Rere sedikit menunduk.
"Ya, hati-hati." Bram memasukkan kedua tangannya di saku celananya, berdiri di depan pintu lift yang terbuka setelah itu Rere dan putrinya masuk.
"Dah papa.." Cika melambaikan tangannya dengan senyum merekah.
__ADS_1
"Dah sayang." Bram pun membalasnya dengan senyum.
Rere menunduk untuk pamit dan pintu lift pun tertutup rapat.