
Rere kembali melakukan aktifitasnya seperti biasa setelah Zidan pergi dari toko bunga nya.
Tidak biasanya Zidan mendatangi toko bunganya bahkan sampai berjam-jam menunggu dirinya.
Bagi Rere bukan tak biasanya lagi, tapi memang kedatangan Zidan di tokonya sungguh mengejutkan.
Apalagi perhatian kecil Zidan menanyakan kenapa dirinya tidak pulang.
Meskipun begitu Rere tidak ambil pusing, karena baginya Zidan tetaplah sama. Tidak pernah akan menganggapnya ada.
"Mbak..Bella kok jadi penasaran, mbak bisa kenal Pak ganteng itu dari mana?" Tanya Bella dengan duduk di depan meja Rere.
Rere yang sedang menulis laporan harian menatap Bella tak mengerti.
"Maksud kamu siapa Bell?"
"Ck. Itu loh, yang kemarin gendong mbak tamu penting hotel xx." Ucap Bella lebih jelas.
"Oh..kenal." Ucap Rere santai.
"Iss..maksud aku kenapa mbak bisa kenal? Bella tahu kalau mbak sudah kenal." Ucap Bella gemas sendiri.
Rere hanya tersenyum melihat wajah Bella yang kesal.
"Kenapa? kamu naksir?" Bukanya menjawab Rere malah menggoda Bella.
"Kalau aku naksir, belum tentu dia naksir aku mbak..sainganku berat, Bos ku sendiri." Ucap Bella menyengir kuda.
"Kamu bisa aja Bell." Rere tertawa.
__ADS_1
"Lagian mbak, punya pria ganteng kek gitu malah milih suami yang gantengnya aja udah beda jauh." Heran Bella. "Mana gak dianggap lagi."
"Kamu anak kecil banyak bicara Bell."
"Bukan anak kecil lagi mbak, Bella udah punya KTP."
"Ya..ya.. aku selalu kalah Bell kalau bicara sama kamu." Rere terkekeh dan berdiri untuk melihat stok bunga.
Rere yang memiliki teman kerja seperti Bella merasa terhibur, karena Bella adalah gadis cerewet.
.
.
"Hah.. kenapa rasanya malas sekali kembali ke kota ini." Ucap Riko yang baru saja keluar dari bandara.
"Lu, gak sopan Lik sama bos lu sendiri." Riko mendengus kesal melihat wajah Felik yang cengengesan.
"Elah, gitu doang lu sensian Rik, gak nyelup lu makanya muka lu kusut kurang di setrika." Ucap Felik dengan menaruh koper Riko di bagasi mobil.
"Berisik lu Lik." Riko masuk ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang samping kemudi.
Felik hanya geleng kepala, melihat wajah Riko yang kusut.
"Sorry deh, kalau gue udah kirim lu ke kota B." Ucap Felik dengan pandangan fokus menyetir.
Kini mobil yang dikendarai Felik sudah berada dijalan bergambung dengan kendaraan lain.
Riko tidak menjawab, melainkan mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Halo Hon.." Ucap Riko pada sambungan telepon.
Felik yang mendengar panggilan Riko pun, membulatkan matanya.
"Halo..By, kamu sudah sampai?" Suara Rere diseberang sana.
"Baru keluar bandara sayang, lagi apa?" Tanyanya lagi, tanpa memperdulikan Felik yang sesekali menatapnya dengan penasaran.
"Lagi di toko By."
"Hon..aku merindukanmu." Ucap Riko dengan nada pelan. Membuat Felik yang mendengarnya ingin muntah sendiri.
"Baru dua jam kita pisah By."
Riko bisa mendengar tawa kecil Rere di seberang sana.
"Dua jam seperti dua tahun Hon." Riko pun mendesah kasar, karena dirinya memang sudah merindukan Rere.
Mereka masih mengobrol sebentar, Rere lebih dulu mematikan ponsel karena harus melayani pembeli.
"Rik, sepertinya gue ketinggalan gosip?" Tanya Felik tho the poin.
Apalagi melihat wajah Riko berubah sumringah setelah menelpon seseorang.
"Kalau ada bisnis ke kota B, lu serahin ke gua Lik." Ucap Riko tanpa menjawab pertanyaan dari Asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Kenapa lu benci jadi cinta sama kota B?" Tanya Felik lagi.
Riko tersenyum, membuat Felik bergeridik. "Gue Punya Misi disana, dan kayaknya gue bakalan sering kesana." Ucapnya menyeringai.
__ADS_1