
"By, udah dong..aku lapar." Rere mendorong dada Riko yang sedang mendekapnya.
"Em..masih ngantuk hon." Riko malah mengeratkan pelukannya.
"Mereka pasti kesal menunggu kita lama, dan akhirnya aku yang kelaparan tidak sarapan." Rere memanyunkan bibirnya kesal.
Setelah pergumulan panas tadi malam, merek terlelap hanya sebentar, dan tengah malam Riko kembali membuat dirinya mendesa*h di bawahnya.
Berakhir pagi hari dirinya yang sedang berendam pun Riko masih menyerangnya.
"Sebentar lagi pelayan hotel akan mengantar makanan." Ucap Riko yang mengusap wajahnya kasar.
Pergumulan panas nya tadi malam membuatnya hanya memejamkan mata sebentar, rasanya Dia ingin menggempur istrinya itu setiap waktu.
"Iss... kamu ngeselin." Rere hendak pergi sari atas kasur, dengan cepat Riko menariknya.
"Tunggulah disini." Dirinya kembali mengungkung tubuh Rere.
"Jangan mulai deh, kaki aku masih lemas." Ucapnya bersungut kesal.
Akibat kebuasan Riko yang tidak ada kata lelah, mambutanya kehabisan tenaga.
"Kamu meremehkan ular naga ku, jadi kamu harus tanggung akibatnya." Riko menciumi wajah Rere, membuat wanita itu tertawa dan mencoba menghindar.
"By, sudah..haha.."
Tangan Riko kini menyerang pinggang Rere untuk menggelitik perut.
"Rasain kamu, jangan macam-macam sama si naga kalau kamu tidak mau kena bisanya." Riko masih saja melancarkan aksinya, hingga membuat napas Rere tersengal dan tubuhnya lemas.
"Ampun By, aku gak kuat." Napasnya terputus-putus.
Ting..tong..Ting..Tong
Bel pintu berbunyi. "Pasti pelayan hotel." Riko beranjak dari kasur yang berantakan akibat ulah keduanya.
__ADS_1
"Kamu disini saja, biar aku yang ambil." Ucapnya lagi lalu menuju pintu untuk melihat siapa.
Rere beranjak dari tempat tidur, melihat jam sudah jam sepuluh pagi. "Pantas saja rasanya mau pingsan." Gerutunya berjalan menuju sofa.
"Makan pagi plus makan siang sayang." Ucap Riko yang mendorong troli meja terdapat banyak makanan dan salad buah kesukaan Rere.
"Duh, tau aja kalau aku lagi butuh banyak asupan." Ucap Rere dengan mata berbinar, melihat banyaknya makanan yang tertata.
"Makan lah, biar tenaga mu pulih, karena jika sudah pulih, dengan senang hati aku akan menyerang mu kembali." Riko memainkan kedua alisnya menggoda Rere yang mendelik tajam.
.
.
"Sialan..!!" Seseorang mengumpat di dalam mobilnya, ketika melihat dua keluarga keluar dari hotel dengan keadaan baik-baik saja, bahkan mereka terlihat bahagia.
"Aku pastikan kalian tidak akan bahagia." Dengan senyum menyeringai penuh dengan kebencian.
.
.
"Weiss, satu Minggu tidak terlihat, sepertinya pernikahan cukup membuatmu berubah bos." Ucap Felik yang mengikuti Riko masuk keruangan nya.
Riko masih dengan senyumnya yang terus mengembang.
"Jangan bilang lu gila gara-gara nikah bro." Felik yang melihat senyum Riko tak luntur pun bergeridik ngeri.
"Sembarangan.." Riko menatap Felik kesal.
Enak saja dirinya di kata gila. "Lu belum ngerasain nikah plus buka segel halal, jadi lu gak tau rasanya jadi gue." Riko berkata dengan senyum.
Felik menarik napas panjang, jadi karena buka segel label halal membuat bosnya itu senyum Pepsodent sepanjang lobby kantor sampai sekarang, Emezing.
"Lu harus cobain Lik, pasti lu akan ketagihan." Ucapnya lagi menatap asisten nya itu jahil.
__ADS_1
"Sekarang lu seneng, bisa ngeledek gue." Felik menatap bosnya itu malas.
Riko malah tertawa keras.
Dirinya yang bahagia pun, bertambah senang karena bisa mengolok-olok teman lacnat nya itu.
.
.
"Mbak ini di taruh di mana?"
"Sebelah sana saja Mir, agar terlihat bagus." Rere menunjuk tepat di mana Miranda anak buahnya yang baru bekerja di toko bunga nya selama satu bulan.
"Mbak sepertinya mobil disana itu sejak kemarin parkir di sana." Tunjuk Miranda pada sebuah mobil berwarna hitam.
"Mungkin salah satu penghuni tepat itu Mir, biarkan saja, toh tidak menggungu tempat kita." Rere kembali membuat buket bunga untuk di kirim satu jam lagi.
"Tapi sepertinya orang di dalam itu melihat ke toko kita terus mbak." Miranda yang sejak kemarin mengamati mobil itu pun merasa aneh dan curiga.
"Tidak apa, lebih baik kamu lanjutkan pekerjaan kamu."
Miranda pun hanya menurut, meskipun dirinya merasa janggal dengan mobil berwarna hitam itu.
Rere memutuskan untuk kembali bekerja setelah sang suami juga masuk kantor, dirinya tidak ingin tinggal sendirian di apartemen ketika Riko pergi bekerja, dan Riko pun menyetujui nya, jika sang istri ingin menjaga toko kembali, karena Riko tahu jika Rere tidak betah hanya menganggur dan berdiam diri dirumah.
Pukul dua belas siang, seperti biasa jika Riko tidak bisa datang, maka akan ada pengantar makanan untuk Rere dan Miranda di toko.
"Selamat makan siang sayang, maaf tidak bisa menemani mu makan." Pesan masuk dari Riko membuat bibir Rere tersenyum.
"Terima kasih By, jangan lupa kamu juga makan.."
Dan setelah berbalas pesan, mereka sama-sama makan siang, namun di tempat yang berbeda.
Uhuk...uhuk..
__ADS_1
"Mbak Rere kenapa mbak!!"
Miranda begitu panik ketika Rere batuk dan memuntahkan semua makanannya.