
Selain terkejut, Harna yang mendengar pun senang.
"Loh..loh..kok pergi, tunggu dulu Rik, siapa gadis yang mau kamu nikahi..hey.." Teriakan Harna tak di hiraukan oleh Riko, pria itu ngeloyor menaiki tangga menuju kamarnya dengan masih bersenandung ria.
"Pah, papa tau siapa?" Tanya Harna pada suaminya yang hanya diam saja.
"Em..Mungkin gadis yang sudah dia putuskan di hari mendekati kamarnya." Ucap Harlan dengan pandangan lurus kedepan, menonton siara tv.
"Gadis yang di putuskan saat mau lamaran.." Harna bergumam dan berpikir, dirinya mengingat-ingat siap yang pernah mau di lamar putranya itu.
"Apa?" Harna yang teringat pun reflek berteriak.
"Mah, gak usah teriak juga kali." Rania yang sedang asik main ponsel pun, kesal mendengar teriakan Mamanya, dan dia pun pergi masuk kamarnya.
"Pah, jangan bilang gadis itu yang sekarang ada di pikiran Mama." Harna menggoyangkan lengan suaminya yang sejak tadi cuek padanya.
"Memangnya siapa yang yang di pikiran mu." Harlan menautkan kedua alisnya.
"Ck. jika benar bukankah dia sudah menikah, lalu apa Riko akan menjadi suami keduanya?" Tanya Harna menjadi cemas,. dirinya tidak rela jika putranya akan menjadi suami kedua jika benar akan menikahi wanita yang pernah di putuskan Riko itu.
"Nyatanya, anak mu mau menjadi suami keduanya." Ucap Harlan kembali fokusnya pada tv.
"No, Pah. Mama gak rela kalau anak kita jadi suami kedua, tidak boleh." Harna nampak panik sendiri.
__ADS_1
"Nyatanya anak mu mau menjadi suami kedua nya."
"Gak, ini gak mungkin." Harna memegangi kepalanya dan pergi meninggalkan suaminya yang masih duduk santai.
"Aneh, kalau bukan suami ke dua lalu apa, jika wanita sudah menikah dan bercerai..masa suami pertama ya gak mungkin dong." Harlan bergumam sendiri.
Harna yang tidak tau jika Rere sudah di talak pun menjadi sakit kepala memikirkan putranya yang akan menjadi suami ke dua.
.
.
.
"Ah, akhirnya selesai juga beresin tempat ini." Rere merentang kan tangannya, setelah selesai bersih-bersih tempat yang akan dirinya pergunakan untuk buka toko bunga.
"Permisi..."
Rere yang mendengar ada yang datang pun, kelaut dimana dirinya berada di di dalam ruangan yang akan Ia gunakan untuk ruang pribadi.
Ruko yang dia sewa lumayan lebar, dan tempatnya nya strategis, apalagi dekat dengan rumahnya.
"Ya.." Rere melihat seorang yang di yakini pelayan gonfood.
__ADS_1
"Ada pesanan kiriman makanan mbak." Ucap pengantar makanan itu menyodorkan bungkusan plastik.
"Makanan?" Rere menerima bungkusan itu, dirinya masih bingung karena tidak merasa memesan makanan.
"Tapi saya tidak pesan makanan Mas."
Drt...Drt..Drt..
Ponselnya bergetar, menampilkan nama Riko disana.
"Halo by.."
"..."
"Em...aku kira salah alamat.."
"..."
"Baiklah terima kasih." Rere tersenyum.
"Iya, mas pacar saya yang kirim, terima kasih ya."
Riko yang tahu di mana Rere pun memesankan makanan, karena dirinya sedang ada metting di luar dengan klien, maka Riko tidak bisa menemui Rere untuk makan siang bersama.
__ADS_1
Rere yang mendapat perhatian itu kembali merasa senang, dulu ketika mereka masih pacaran Riko sering mengirim makanan bahkan hampir setiap hari.
Meskipun perhatian kecil, tapi sebagi seorang wanita, Rere merasa di cintai.