
"Sebaiknya kita lapor polisi mbak.." Ucap Miranda memberikan air minum pada Rere.
"Jangan Mir, mungkin orang yang kirim hanya iseng." Ucapnya dengan meminum air yang di berikan Miranda.
"Telpon tuan saja mbak."
Rere menggeleng. "Kasian dia pasti sibuk bekerja, aku yakin ini hanya sekali saja."
Siapa yang tidak syok, ketika membuka kotak itu ternyata berisikan kepala kucing dengan berlumuran darah yang masih segar.
Rere pun langsung membuang kotak itu, dengan tangan gemetar.
"Tapi takutnya mereka akan mengulanginya mbak."
"Jika itu terjadi, aku yang akan melaporkan kejadian ini ke polisi."
Keduanya saling tatap, Rere yang tidak tahu asal mula paket teror itu mencoba untuk tetap berfikir positif meskipun keresahan mulai muncul dalam dirinya.
'Siapa yang sudah melakukan hal menjijikan seperti ini.'
Dalang di balik keracunan makanan Rere pun belum ketemu, dan setelah beberapa bulan mereka hidup tenang tanpa adanya kejadian yang aneh, kini malah muncul kajadian baru yaitu teror.
.
.
"Lik gue, keluar sebentar." Ucap Riko yang sejak tadi merasa gelisah ketika melakukan rapat bulanan dengan dewan direksi dan staf.
"Lu mau kemana, nanti ada temu dengan klien." Ucap Felik yang melihat bos nya itu sepertinya buru-buru.
"Gue mau ketemu Rere, perasan gue gak enak Lik." Riko pun menyambar kunci mobil yang berada di meja kerjanya.
"Lah, bentar lagi kan makan siang Bos, gak sabaran amat sih lu."
__ADS_1
"Ck. Lu gak akan ngerti Lik." Tanpa bicara panjang lebar lagi, Riko segera melesat pergi.
"Begitu penganten lama, tapi masih setengah baru."
"Siang pak?" Sapa security yang berjaga di basman.
"Ya, Riko yang fokus pada ponselnya hanya menjawab sekilas.
"Ah..Shitt..!!" Umpat nya ketika tak sengaja menginjak sesuatu di bawah pintu mobilnya.
"Sial, siapa yang menaruh bangkai kucing disini." Teriak Riko membuat security yang berjaga tadi mendekat.
"Ada apa pak." Tanyanya dengan wajah panik ketika mendengar bos nya berteriak.
"Kamu lihat." Riko menunjuk bangkai kucing yang bau nya begitu menyengat, membuatnya sampai menutup hidung. "Siapa yang menaruh bangkai di sini?"
Security yang melihatnya pun langsung menutup hidung nya ketika bau menyengat membuatnya mual. "Saya tidak tahu pak, tadi saya beroperasi tapi belum ada bangkai kucing di sini." Security itu bicara sambil menahan mual di perutnya.
"Bereskan..!!" Tegas Riko, dirinya pun langsung masuk kedalam mobil dan segera pergi dari sana.
.
.
Sepanjang jalan Riko berfikir, bagaimana bisa di basman kantornya ada bangkai kucing dan bangkai itu tepat di samping mobilnya.
Jika kucing itu melintas dan tiba-tiba mati pasti bau nya belum separah tadi, di lihat dari keadaan kucing itu sendiri seperti nya memang sudah mati sejak beberapa hari yang lalu dan meninggalkan bau yang begitu menyengat.
"Ngak mungkin jika ada orang yang tiba-tiba naro tu bangkai di sana." Pikirnya lagi.
Setelah tiga puluh menit berkendara mobilnya berhenti di depan toko bunga dengan nama 'R&R' yang cukup besar.
"Sayang.." Panggil Riko ketika masuk ke dalam toko, dirinya melihat Rere yang sedang berdiri membelakanginya dengan bunga di tangannya.
__ADS_1
"By, Kok tumben jam segini kesini." Ucapnya dengan nada tak percaya.
"Kenapa? memangnya tidak boleh." Riko mendekati Rere, merangkul pinggang istrinya dan memberikan kecupan di kening.
"Tidak biasanya kamu, datang di jam seperti ini memangnya kamu tidak sibuk?" Rere pun tersenyum dan duduk di sofa pojok ruangan itu.
Miranda yang melihat suami bosnya datang hanya menatap sekilas, ingin rasanya Dia bercerita tentang kejadian hari ini, namun dirinya juga takut jika kena marah oleh bos nya.
"Sedikit, tapi melihat kamu baik-baik saja aku jadi lega." Riko menatap lekat wajah Rere. "Sepertinya hanya perasaan ku saja, kalau terjadi sesuatu padamu."
Deg
Jantung Rere berdebar mendengar ucapan Riko.
'Jadi dia merasakan jika aku sedang tak baik-baik saja.' Batin Rere, hatinya menjadi gundah untuk menceritakan atau tetap diam.
"Sayang, hey...kamu melamun." Sentuh Riko pada wajah Rere.
"Emm..tidak, hanya saja aku terharu mendengar ucapan kamu." Tersenyum untuk menutupi keresahan nya.
"Syukurlah jika kamu baik-baik saja." Riko merangkul Rere masuk ke dalam pelukannya.
'Bagaimana jika dia tau aku berbohong? dan kalau bercerita pun pasti akan membuatnya khawatir.'
Setelah beberapa waktu mengobrol dan bercerita, Riko memutuskan untuk kembali ke kantor setelah dirinya sudah melihat sendiri jika istrinya dalam keadaan baik-baik saja.
"Mbak kenapa ngak ngomong aja sama Tuan." Tanya Miranda yang sejak tadi bibirnya sudah gatal ingin berucap.
"Tidak usah Mir, nanti malah membuatnya khawatir dan tidak mengijinkan aku ke toko lagi." Keluh Rere pada anak buahnya itu.
Miranda menghela napas lelah, dirinya yang melihat ketakutan Rere membuatnya juga merasa takut, apalagi mengingat mereka pernah akan diracuni.
'Semoga benar hanya orang iseng'
__ADS_1
Seseorang tak jauh dari toko itu pun tersenyum sinis, mendengar percakapan kedua orang yang begitu Ia benci.
"Hanya peringatan awal, selanjutnya pasti kalian akan bernasib sama." Ucapnya kembali memakai kaca mata hitamnya, dan pergi dari sana.