
Disarankan bacanya setelah buka puasa ya.. karena di bawah mengandung a*nu🙈
Yang nekat, dosa tanggung sendiri🤣✌️
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malamnya....
Riko yang masih duduk di sofa menunggu Rere yang berada di dalam kamar mandi, fokus dengan gawai nya, tak sengaja jarinya menekan ikon untuk melihat Vidio cctv toko bunga Rere.
Semenjak tidak ada lagi kejadian aneh dan membahayakan toko memang sudah tidak lagi melihat Vidio cctv yang hanya terhubung di ponselnya saja, pasalnya dia juga memasang cctv di sudut toko tanpa sepengetahuannya.
Vidio itu menampilkan seseorang menaruh bungkusan seperti paket di pagi yang masih gelap.
"Kenapa pagi-pagi kang paket sudah berkeliaran." Gumamnya dengan masih memperhatikan Vidio itu.
Tak lama Miranda yang datang lebih dulu, dan membawa paket itu masuk, hingga beberapa saat mobilnya yang berhenti di sana dan Rere yang turun.
Riko masih setia melihat Vidio itu, karena merasa janggal dengan kedatangan kang paket pagi-pagi buta.
Karena sedikit lama Riko mencoba mempercepat Vidio itu, hingga dirinya melihat jika Rere keluar dari toko dengan wajah syok, dan membuang bungkusan paket tadi ke dalam tong sampah.
"Apa sebenarnya isi paket itu." Matanya masih melihat dengan jeli, hingga di saat dirinya datang ke toko, terlihat seseorang memakai jaket hitam dan topi, berdiri di sana seperti sedang menguping.
"Ah, sial.!! jadi dia masih berani mengganggu kami."
Karena penasaran nya lebih besar, Riko meminta Felik untuk mengirim rekaman cctv di basman kantor, dirinya yakin jika kejadian hari ini bukan kebetulan.
Ceklek
Rere keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang sudah segar, apalagi mata Riko yang langsung menoleh dan tak berkedip.
"By," Rere berjalan menghampiri sang suami, dengan langkah menggoda dan memakai lingerie yang begitu seksih di tubuhnya.
"Kamu menggoda ku hm." Riko melingkarkan tangannya di pinggang Rere, ketika istrinya itu sudah duduk diatas pangkuannya.
"Tanpa aku goda pun, kamu sudah tergoda." Suara Rere begitu terdengar seksih di telinga Riko.
"Kamu pintar sayang."
Keduanya saling tatap, hingga tanpa sadar bibirnya mereka sudah saling bertaut.
Lidah keduanya saling membelit, memperdalam cumbuan hingga membuat gejolak di dalam diri semakin berkobar.
Tangan Riko bergerilya menyusuri lekuk tubuh istrinya, yang selalu membuatnya candu.
"Emph.." Rere mendesa*h ketika tangan besar itu menyusuri paha naik ke atas sampai di buah dadanya yang tak terhalang pakaian lucnut tadi, karena Riko sudah berhasil melepas dan membuangnya asal.
"By.." Rere memejamkan matanya ketika Riko memasukinya tanpa pamanasan.
__ADS_1
Tersenyum menyeringai, wajah cantik sang istri begitu terlihat seksih.
Apalagi Rere yang sedang di atas tubuhnya bergerak indah dengan suara khas yang begitu membuatnya bergairah.
"Sayang.."
Keduanya mengerang bersama ketika merasakan sesuatu dalam diri keduanya meledak secara bersamaan.
Napas Rere tersengal, tubuhnya ambruk dalam dekapan sang suami.
"Terima kasih." Riko mengecup kening dan bibir Rere sekilas.
Tangan Riko merapikan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Rere.
"Mau bercerita dengan ku." Ucapnya dengan mantap lekat wajah lelah dan basah sisa-sisa keringat di wajahnya.
"Em.." Rere hanya bergumam.
"Apa ada sesuatu kejadian yang membuatmu takut hari ini?" Riko bertanya dengan mengelus punggung polos sang istri yang masih berada di atas tubuhnya.
Kata orang setelah bercinta maka sesuatu masalah yang tidak bisa di bicarakan akan terasa mudah jika dalam keadaan seperti ini.
"Em..hari ini aku mendapat paket." Ucap Rere dengan suara lirih, dirinya juga harus merasa terbuka dan bicara dengan apa yang semua dia alami. "Paket yang berisi kepala binatang, yang banyak berlumuran darah." Ucapnya dengan mata terpejam.
"Paket berisi kepala binatang?" Riko menunduk dan menatap wajah istrinya.
"Hm aku tidak tahu itu sebagai teror ataupun apa, yang jelas paket itu hanya berisi kepala binatang yang berlumuran darah segar." Rere mengeratkan pelukannya.
"Apa kamu memiliki musuh?" Tanya Riko.
Rere hanya menggeleng. "Aku hanya punya pantan pacar, dan mantan suami."
"Ck. aku tahu." Riko berdecak. "Eh..mantan, mantan kamu yang mana?" Tanya Riko mencoba untuk duduk tegak, agar bisa melihat wajah Rere.
"Mantan yang pernah menyakitiku."
.
.
.
"Mah, nanti kami akan pulang ke apartemen." Ucap Riko ketika mereka sedang sarapan pagi di meja makan.
"Loh kenapa? apa Rere tidak betah tinggal disini?" Tanya Harna menatap menantunya.
Dengan cepat Rere menggelang kepala. "Ngak mah."
"Riko sendiri yang ingin pulang ke apartemen, hanya ingin mandiri saja setelah menikah."
__ADS_1
"Disini juga kan rumah kalian, Mama kesepian jika Rere pergi." Harna menatap melas.
"Rere juga kan ke toko mah, dan mama tetap sendiri."
"Tapi kan_"
"Sudahlah mah, mungkin mereka butuh privasi, lagian kita dulu waktu muda juga seperti itu." Harlan menengahi.
"Nanti Rere sering-sering datang kemari Mah."
.
.
Setelah mengantar Rere ke toko, Riko segera melajukan mobilnya ke perusahaan nya, dirinya tidak sabar untuk bertemu dengan Felik, membahas teror yang dirinya dan juga Rere alami.
Riko juga menempatkan penjaga yang tidak jauh dari toko Rere tanpa sepengetahuan Rere tentunya.
"Lik, keruangnku sekarang."
Ucap Riko melalui sambungan pesawat telepon.
"Pagi-pagi lu udah gupek aja sih." Felik menatap kesal bosnya itu, dirinya baru sampai sudah disuruh keruangan Riko.
"Paket apa ini?" Tanya Riko pada Felik.
"Man gue tau, gue baru sampai." Felik mengangkat kedua bahunya.
"Gue rasa ada seseorang yang sengaja melakukan ini."
"Maksud lu apa?" Felik yang tidak mengerti, meraih kotak itu.
"Tinggal buka aja, lu ribet." Gerutu Felik dan membuka kotak warna hitam itu diatas meja Riko.
"Astaga...!!" Felik yang terkejut melempar tutup kotak itu dengan reflek.
"Duh Rik, penggemar lu nyerem-in." Ucapnya yang melihat sepasang boneka pengantin dengan berlumuran darah.
Riko yang melihat ada sebuah foto di bawah boneka itupun mengambilnya.
Kalian tidak akan bahagia, tidak ada yang bisa memilikinya selain aku...!!!
Tulisan itupun menggunakan tinta berwarna merah di atas foto Rere.
"Kok lu biasa aja sih Rik?" Felik menatap heran pada bosnya itu, yang hanya menampilkan wajah biasa saja, dirinya yang kaget setengah mati.
"Kemarin Rere mendapat teror seperti ini, dan sekarang dia mengirim ke kantor ku."
"Teror? Siapa yang berani melakukan itu?"
__ADS_1
"Jika bukan Zidan dan Bram, kemungkinan si Frans mantan kekasih Rere."
Riko meremas foto Rere yang berada di tangannya.