PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part20


__ADS_3

Satu Minggu sudah berlalu, Rere dan Riko sering melakukan komunikasi lewat pesan chat dan telepon atau Vidio call. Mereka kembali dekat meskipun tidak ada kata balikan ataupun sejenisnya.


Hanya perasaan mereka yang membuat keduanya mendekat satu sama lain, tanpa kata balikan pun keduanya sudah mengerti perasaan masing-masing.


Rere yang biasanya cuek dan tidak perduli dengan keadaan rumah berserta penghuninya kini dirinya lebih waspada kepada satu pria yang tinggal dirumah suaminya itu. Siapa lagi jika bukan Zidan suami sirinya.


Tingkah Zidan belakangan membuat Rere merasa aneh dan tak nyaman, karena biasanya Zidan yang tidak perduli dengan nya kini menunjukan perhatian kecil padanya.


Mungkin dulu dirinya akan sangat senang jika Zidan melakukan hal itu, tapi sekarang dirinya tidak lagi mengharapkan hal itu, apalagi mengharapkan status jelas dalam pernikahan.


Hadirnya Riko kembali membuat hati Rere tidak bisa berpaling, meskipun memiliki suami, namun suaminya juga memiliki istri lain.


"Mas, mau makan apa?" Silla duduk di kursi samping suaminya di meja makan.


Ibu dari Silla pun masih berada dirumah itu, mungkin akan selamanya tinggal di rumah menantunya ini.


"Apa saja Sayang." Zidan melirik Rere yang sedang berdiri di depan kompor, sepertinya sedang membuat sesuatu.


"Re, apa kamu tidak mau makan bersama kami." Ucap Zidan untuk pertama kali mengajak Rere makan bersama selama tinggal satu atap enam bulan lebih.

__ADS_1


"Mas, kamu apa-apaan sih." Silla kesal mendengar suaminya mengajak Rere makan bersama. 'hah yang benar saja'.


Rere menoleh ke belakang tanpa menjawab.


"Iya nak, dia kan hanya pembantu, tidak pantas makan bersama kita." Ibunya Silla menimpali.


Zidan hanya diam dengan wajah datar, entah mengapa mendengar ucapan mertuanya membuatnya tak suka, padahal dulu dirinya tidak masalah.


Rere hanya tersenyum sekilas ketika Zidan menatapnya, dan kembali menyelesaiakan kegiatanya membuat puding.


Rere membuat puding mangga kesukaan nya, dan tentu saja kesukaan Riko juga, banyak kesamaan dalam makanan keduanya. ahh mengingat itu dirinya jadi ingat Riko.


"Kamu jangan terlalu baik dan perhatian sama dia Mas, lama-lama pasti akan ngelunjak." Ucap Silla yang tak suka jika suaminya perhatian pada istri siri nya itu.


Lebih baik makan dengan diam dan menikmati rasa lezat masakan istrinya. Ehh istrinya, Sudut bibir Zidan tak sadar terangkat sedikit.


.


.

__ADS_1


"Duh, kesiangan nih aku..pasti Bella bakalan ngoceh." Rere berjalan tergesa menuju garasi untuk mengambil motornya.


Pagi ini dirinya kesiangan untuk berangkat ke toko, karena tadi malam dirinya susah tidur hingga lewat tengah malam.


Rere mengendarai motor metik nya dengan kecepatan sedang.


Lima belas menit dirinya sampai di depan toko bunganya, memakirkan motornya di dekat motor Bella.


"Loh, kenapa banyak motor yang parkir? apa sedang banyak pembeli." Rere melihat ada sepuluh kendaraan parkir pun menjadi bingung, karena tidak biasanya tokonya akan ramai seperti ini. Biasanya pembeli akan keluar masuk bergantian.


Karena penasaran, Rere pun segera masuk ke dalam toko, dan melihat apa yang terjadi.


"Permisi." Tak disangka didalam toko isinya kaum wanita semua dari yang remaja, gadis dan juga ibu-ibu.


Mereka berkumpul di satu tempat, tapi sepertinya tidak untuk berebut bunga.


"Aduh..mbak-mbak.. ibu-ibu, kalau kaya gini caranya Bella gak akan kasih foto bareng Mas ganteng, kalau gak mau beli bunga di toko kami." Suara Bella begitu keras membuat Rere bisa mendengarnya.


"Ada apa ini?" Rere berdiri di belakang kerumunan, mereka yang mendengar suara seseorang pun membelah diri melihat siapa.

__ADS_1


Mata Rere membulat sempurna melihat pemandangan di depannya.


'Ya, tuhan'.


__ADS_2