
Silla keluar dengan wajah yang sudah bersih dirinya merasa kikuk dan malu ketika melihat Riko menatap kearahnya.
Dirinya yang mencoba membuat cake spesial untuk Riko namun malah gagal total, apalagi wajahnya yang sudah make up dengan sempurna malah terkena tepung yang menempel tanpa dirinya sadari membuat Silla benar-benar malu ke ubun-ubun. Niat hati ingin membuat Riko berkesan dan memujinya tapi malah dirinya membuat malu sendiri.
"Maaf Mas." Ucap Silla pelan menatap suaminya.
Zidan hanya tersenyum dan mengelus punggung tangan Silla.
Riko hanya mengulum senyum tidak menyangka jika disambut dengan penampilan istri pertama Zidan yang wow.
"Silahkan dinikmati Tuan, ini semua saya yang memasak." Silla pun mengambil kan nasi dan lauk untuk suaminya.
"Panggil saja saya Riko, kita tidak sedang membicarakan bisnis jadi tidak perlu begitu formal." Ucap Riko kepada sepasang suami istri itu.
"Baiklah jika anda yang meminta." Zidan pun mengiyakan.
"Em..maaf apa saya boleh mengajak kekasih saya juga ikut makan bersama." Ucap Riko meminta ijin kepada sepasang suami istri itu.
Zidan dan Silla saling tatap, tidak disangka jika Riko juga membawa kekasih, tapi sejak tadi mereka tidak melihat ada orang lain diluar.
"Silahkan, kami tidak keberatan." Ucap Zidan yang terpaksa di angguki oleh Silla, dirinya merasa tersaingi ketika pria incaran nya sudah memiliki kekasih.
Riko mengeluarkan ponsel nya dan menelpon seseorang.
"Honny, tolong kesini sebentar." Ucap Riko lewat sambungan telepon, setelah tersambung.
"Sebentar lagi sampai." Ucap Riko yang sudah mematikan panggilan telepon.
"Kekasih kamu orang sini?" Tanya Zidan yang entah kenapa punya firasat tidak enak.
"Ya, dan bahkan tinggal dekat kalian." Ucap Riko santai, meskipun melihat raut wajah bingung dari kedua orang didepannya.
Tak lama Rere keluar dengan menggunakan setelan baju tidur, karena dirinya sedang bersantai di kamar dan sudah berganti pakaian setelah masuk kamar.
Silla yang melihat Rere berjalan ke arah mereka pun menatap sinis tidak suka, lain dengan Zidan yang jantungnya menjadi berdetak cepat.
"Saya ingin perkenalkan kekasih saya." Ucap Riko berdiri dan menarik tangan Rere. "Rere adalah kekasih saya mulai hari ini."
__ADS_1
Deg
Dada Zidan bergemuruh, tangannya mengepal erat dengan rahang mengeras.
Silla membulatkan kedua matanya mendengar ucapan Riko barusan. Jadi madunya memiliki seorang kekasih.
"Tapi dia hanya pelayan Rik." Tiba-tiba Silla bersuara membuat mata Zidan menatap Silla tajam.
"Justru itu, entah mengapa saya tertarik dengan pelayan atau pembantu anda nyonya Zidan, dan saya sudah jatuh cinta dengan Rere sejak pandangan pertama kemarin." Riko tersenyum manis menatap Rere yang sejak tadi terkejut dan tubuhnya terasa kaku.
Rere tidak percaya dengan apa yang Riko lakukan padahal dirinya tahu jika Ia istri siri Zidan.
Zidan semakin mengepalkan tangannya menahan amarah didadanya, dirinya juga bersalah karena mengatakan jika Rere adalah pembantu dirumah ini dan bukan istri sirinya. Jika seperti ini dirinya tidak tahu harus melakukan apa, hatinya tidak rela jika istrinya memiliki pria lain apalagi menjalin kasih dengan rekan bisnisnya.
Jika dirinya berkata jujur pasti kerja sama yang baru saja terjalin akan dibatalkan mengingat peluang keuntungan besar tidak mungkin juga dirinya mengorbankan kerja sama mereka.
Ah siallan.
Zidan mengumpat dalam hati dirinya terjebak oleh perkataannya sendiri.
"Apa anda tidak salah memilih kekasih?" Lagi-lagi Silla masih belum percaya dan jelas dirinya tidak suka jika madunya yang mendapatkan pria tampan dan kaya seperti Riko. Suaminya saja enggan untuk mendekati Rere, tapi pria sekelas Riko malah menjadikan Rere sebagai kekasih.
Ehem.
Zidan berdehem keras sejak tadi dada nya sudah panas melihat tatapan memuja Riko kepada Rere membuat hatinya terbakar.
Riko pun menyuruh Rere duduk di kursi samping nya, meskipun sejak tadi Rere menatap nya tajam dan menuntut penjelasan sama sekali tidak Riko hiraukan, dirinya malah tertarik melihat reaksi Zidan yang menahan amarah mendengar ucapannya.
"Honny tolong ambilkan yang itu." Riko menunjuk lauk yang memang dekat dengan Rere dan tangan Riko tidak sampai untuk menggapai.
Zidan tidak fokus dengan makanannya dirinya tiba-tiba hilang selera melihat Rere melayani pria lain bukan dirinya.
"Mas.." Silla menyentuh lengan Zidan, membuat pria itu tersadar.
"Makan, jangan diliatin aja." Ucap Silla kesal karena sejak tadi Zidan memperhatikan Rere dan Riko.
Rere masih menatap Riko datar tanpa adanya senyum, dirinya terasa sebagai mangsa yang siap diterkam oleh majikannya. Bukanya Rere tidak menyadari jika sejak tadi mata Zidan tak lepas melihat ke arahnya dan sebisa mungkin dirinya untuk bersikap biasa saja.
__ADS_1
"Honny kalau makan pelan-pelan." ibu jari Riko sengaja mengusap sudut bibir Rere yang terdapat sedikit noda sisa makanan.
Glek
Rere pun menelan makanan di mulutnya terasa nyangkut di tenggorokan melihat tatapan tajam Zidan kepadanya.
Mata Rere mendelik ke arah Riko, dengan wajah kesal.
"Maaf, Rere kalau makan pasti belepotan." Ucap Riko tanpa dosa melihat dua orang yang menatap ke arahnya dengan wajah berbeda-beda.
Makan malam yang mungkin akan terasa hangat dan menyenangkan kini menjadi makan malam yang penuh ketegangan dan menguras kesabaran.
Kesabaran bagi Rere menghadapi tingkah jail Riko yang selalu mengumbar kemesraan di depan suami sirinya dan membuat Zidan cemburu.
Sedangkan Zidan bersabar menahan amarah yang sudah di ubun-ubun melihat istrinya disentuh pria lain sedangkan dirinya sama sekali belum pernah menyentuhnya. Salah siapa
Setelah selesai makan malam Zidan mengajak Riko untuk membicarakan bisnis di ruang keluarga, dirinya sebisa mungkin membuat Riko berjarak dari Rere.
Riko yang memang memiliki insting yang kuat sebagai Casanova dirinya sudah paham dengan cara Zidan untuk menjauhkannya dari Rere.
'Lu pikir gue bego' Batin Riko dalam hati.
Cukup lama keduanya berbincang mengenai kerja sama yang keduanya jalin. Pembicaraan mereka terhenti ketika Rere membawakan minuman dan makanan ringan untuk mereka.
"Dimana Silla?" Tanya Zidan dengan wajah tak suka jika Rere yang mengantarkan minuman.
"Mbak Silla sedang di kamar mandi katanya sakit perut." Ucap Rere, karena memang Silla sakit perutnya.
"Honny duduk lah, ada yang ingin aku bicarakan dengan mu dan juga majikan mu." Riko menyuruh Rere untuk duduk disebelahnya.
Rere menatap wajah Riko kesal, apalagi yang akan diperbuat oleh Riko.
Hati Zidan mulai tak tenang, dengan apa yang dikatakan oleh Riko.
"Maaf jika saya lancang dan terlaku buru-buru, tapi sebagai pria yang cukup mapan, saya ingin membawa kekasih saya Rere untuk ikut saya ke Jakarta."
Deg
__ADS_1
Jantung Zidan mulai berpacu cepat, dadanya bergemuruh marah mendengar ucapan Riko yang ingin membawa istrinya pergi.